Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

Ketika Menulis Menjadi Beban

OPINI | 14 March 2011 | 11:29 Dibaca: 171   Komentar: 27   5

1300101861870930721Ketika Menulis menjadi Beban

Dalam pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SMP Kelas VIII karangan Dra. Idda Ayu Kusrini, M.Pd, menulis adalah salah satu bagian terpenting dari keterampilan berbahasa. Untuk bisa menulis dengan baik orang harus memiliki kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Tanpa ketiga kemampuan itu, maka menulis akan menjadi beban. Karena menulis membutuhkan bahan bacaan, bahan omongan, dan bahan lainnya dari apa yang kita dengar.

Sebenarnya kita bisa dengan mudah menulis. Menulis dari yang kita dengar atau lihat dari pengalaman hidup sehari-hari. Kita bisa menuliskan dari yang kita dengar, menulis dari apa yang dibicarakan, dan menulis dari apa yang dibaca. Lalu kenapa banyak orang tak mampu menulis? Sebab menulis telah menjadi beban. Menulis menjadi sebuah beban berat karena ketidaksiapan diri dalam memadukan apa yang ada di pikiran dengan tindakan.

Menulis adalah sebuah keterampilan yang bisa dilatih, dan diajarkan. Sayangnya banyak orang atau guru di sekolah kita tak bisa mengajarkan menulis. Bahkan banyak saya temui guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan menulis kepada peserta didiknya justru tidak bisa menulis. Mereka hanya mampu mengenal menulis dari sisi teoritis, tetapi praktiknya kurang dilatihkan. Ibarat guru olahraga yang mengajarkan berenang, tetapi dia sendiri tak bisa berenang. Sungguh ironi dan menyedihkan.

Banyak guru tak bisa menulis. Banyak peserta didik tak bisa menulis. Tetapi ketika dia berbicara, maka rangkaian kata demi kata keluar begitu cepat, dan membuat kita terpana. Ternyata, masih banyak orang yang bisa dengan mudah berbicara secara lisan, tetapi berbicara melalui tulisan tak semua orang bisa. Perlu latihan terus menerus agar bisa berbicara secara tulisan. Semua itu harus dilakukan tanpa beban.

Melihat kenyataan yang ada, banyak sekali saya temui guru bahasa Indonesia tak mampu menulis dengan baik. Wajar saja, bila peserta didik kita pun mengalami hal yang sama. Sulit merangkai kata demi kata agar bermakna, sehingga mampu mengikat makna. Terlalu banyak teori menulis yang dipelajari di sekolah, sehingga menulis menjadi sebuah beban. Sementara praktiknya kurang dioptimalkan, dan terasah dengan baik. Padahal menulis harus lebih banyak praktik dari pada teori.

Ketika menulis menjadi sebuah beban, maka kreativitas menulispun akhirnya tersumbat. Tersumbat oleh pikiran dari diri kita sendiri. Seperti saluran air yang mampet banyak air yang tergenang. Di dalam air yang tergenang itu akan tumbuhlah dengan cepat jentik-jentik nyamuk. Nyamukpun dengan cepat berkembang biak. Nyamuk tak akan mungkin berkembang biak di air yang mengalir.

Kalau menulis dibiarkan saja di dalam pikiran, maka akan menjadi sakit kepala yang menjengkelkan. Oleh karena itu, biasakan diri untuk mengalirkan apa yang ada di pikiran dengan menulis. Mulanya memang serasa susah, tetap lama-lama menjadi mudah. Seperti orang yang baru belajar sepeda saja. Susah sekali bisa mengemudikannya, tetapi kalau sudah bisa, pastilah kita ngacir kemana-mana. Persis seperti Berlian anak kedua saya yang baru saja bisa naik sepeda. Dia pamer ke sana- kemari karena sudah bisa bersepeda, meskipun di kakinya banyak bekas luka akibat belajar bersepeda. Berlian sering terjatuh, dan segera bangun kembali. Keinginan kuat untuk bias bersepeda membuatnya menyingkirkan rasa sakit yang ada di kakinya.

Begitupun dengan menulis. Jangan biarkan apa yang ada dalam pikiran menggenang lama di kepala. Apa saja yang ada di pikiran harus disalurkan dengan cara membersihkan sumbatan-sumbatan dari dalam diri. Kita harus melakukan therapy menulis. Bukan belajar kepada Ponari, tetapi belajarlah kepada diri kita sendiri. Dengan melakukan therapy, maka percaya diri dalam menulis akan tumbuh, dan terus berkembang. Kita pun menjadi terkenal di mana-mana karena tulisan kita.

Sumbatan-sumbatan dari dalam diri harus di lawan. Apa saja sumbatan-sumbatan dari dalam diri itu? Sumbatan dari dalam diri itu adalah karena kita tak menjadi pendengar yang baik. Ketika ada orang yang sedang berbicara kita ngomong sendiri, dan kurang mendengarkan dengan baik. Kitapun kurang mampu berbicara dengan kemampuan bahasa yang baik. Sebab pembicara yang baik adalah pendengar yang baik. Ditambah lagi dengan lemahnya budaya baca. Minim sekali bahan bacaan yang kita baca.

Menulis itu perlu bahan. Bahan-bahan itu harus mampu kita siapkan sendiri bila ingin menulis dengan baik. Tak ada penulis terkenal yang tak suka membaca. Tak ada pembicara handal yang tak suka mendengar. Menulis adalah ilmu tertinggi dari keterampilan berbahasa dan bersastra. Tanpa menulis orang belum jadi siapa-siapa walaupun dia adalah seorang pembicara yang hebat sekalipun. Sebab kemampuan berbahasa yang tertinggi adalah menulis. Dengan menulis kita akan terkenang, karena ada pesan yang telah dituliskan untuk anak cucu kita.

Ketika menulis menjadi beban, maka segeralah tutup matamu dalam sejenak. Tariklah nafas dalam-dalam, lalu buanglah secara perlahan-lahan. Ketika kamu dalam keadaan tenang, dan lapang maka segeralah menulis, dan rasakan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Sebuah kebutuhan manusia yang menyadari bahwa menulis itu dahsyat bo! Menulis itu akan mengantarkan si penulisnya menjadi orang terkenal , karena ciri khas tulisannya yang unik, dan antik. Sering saya terkagum-kagum sendiri dengan tulisan gede prama atau Hernowo Hasim. Bahkan saya sering termangu-mangu sendiri bila Rhenal Kasali menulis tanpa beban. Kitapun terhanyut dalam tulisan-tulisan mereka yang inspiratif, dan bermanfaat.

Solusi terbaik agar menulis tak menjadi beban adalah lakukan menulis setiap hari. Menulislah sebelum tidur atau lakukan menulis setelah bangun tidur. Jangan pernah membiarkan hari ini tanpa menulis, karena menulis akan membuatmu menjadi orang hebat. Belajarlah menulis dari hal-hal yang kecil. Menulis komentar di blog adalah salah satu contoh menulis yang paling mudah setelah kita membaca tulisan orang lain. Jangan biasakan berkomentar tanpa membaca, sebab itu akan menyebabkan komentarmu menjadi tak menyambung dengan tulisan yang ada di atasnya.

Menulis yang kreatif akan menjadikan dirimu menjadi kreatif dalam menulis. Menulis memang tidak bisa sekali jadi. Hasil tulisan dihasilkan oleh seorang penulis yang tak memiliki beban. Dalam keadaan tak punya beban itulah biasanya menulis akan mudah mengalir dengan sendirinya. Seperti saluran air yang lancar, atau pintu air yang dibuka lebar-lebar.

Ketika menulis menjadi beban, maka dengan sendirinya tulisan akan terasa berat keluar. Kita pun akhirnya kebingungan harus mulai darimana mulai menulis. Tanpa kita sadari, kita sering menghapus tulisan-tulisan yang sudah kita buat karena merasa tidak sreg di hati. Kita pun menulis dengan beban yang berat di tangan. Antara pikiran, dan tindakan seringkali tidak sejalan, dan pada akhirnya tak ada satupun tulisan kita jadi.

Lalu bagaimana caranya agar menulis tak menjadi beban? Cara yang paling mudah adalah membiasakan menulis setiap hari, dan lawan kemalasan diri. Dengan menulis setiap hari, maka kita seperti air yang mengalir sampai jauh. Bahkan tanpa disadari kita telah menjadi mata air bagi orang lain yang membaca tulisan-tulisan kita. Agar mata air itu keluar dengan jernih, maka dibutuhkan mendengar, berbicara, dan membaca. Dengan begitu kita pun menjadi penulis lepas yang selalu menulis tanpa beban. Sebab tulisan itu keluar langsung dari lubuk hati penulisnya yang terdalam.

Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: