Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jumari ꦏꦁꦙꦽꦃꦼꦄꦸꦼ

Damailah jiwa raga dalam pengetahuan.

Wayang Kulit (Kaitannya dengan Museum Radyapustaka)

REP | 11 April 2011 | 02:01 Dibaca: 273   Komentar: 13   3

Beberapa waktu lalu sempat tersebar berita tentang Museum Radyapustaka Surakarta, yang merupakan salah satu Museum ternama di kota Solo yang berisikan benda-benda warisan dari kejayaan Kasunanan kehilangan koleksi wayangnya. Wayang yang hilang adalah koleksi PB ke-X, seorang raja yang kaya dan sangat memperhatikan kesenian tradisi wayang. Sehingga diduga koleksi PB ke-X merupakan koleksi yang istimewa dan dibuat oleh para empu pada jamannya, bahkan sampai jaman semaju sekarang belum ada yang menyamai keindahan wayang koleksi PB ke-x ini. Sementara itu yang berteriak lantang mengangkat kasus ini adalah seorang dalang sekaligus aktifis dari kota Sukoharjo (sebelah selatan Solo), sangat ironis, bukahkan di kota Solo gudangnya para dalang tenar, mengapa mereka menutup mata, dan mengapa mereka sampai tidak tahu dan tidak paham masalah seperti ini? Jangan-jangan mereka belum pernah masuk ke museum tersebut. Jadi gelar dalang tenarnya cuma isapan jempol, hanya mencari popularitas, dan secara moralitas kurang bertanggungjawab terhadap apa yang ditekuninya. Bukankah wayang adalah salah satu medium dalang dalam menyampaikan ceritanya? Mengapa terjadi kehilangan wayang warisan yang nilai estetiknya tinggi mereka tidak merasa kehilangan sama sekali? Bukankah seharusnya mereka juga ikut merawat dan mempelajari koleksi tersebut? Bukankah museum itu sebagai tempat laboratorium, sebuah pengetahuan yang bisa dikembangkan. Bagaimana bisa paham kalau itu sebuah warisan yang tak ternilai harganya jika tidak mampu membedakan antara wayang yang bagus dan wayang biasa.

Wayang Kulit

Ada beberapa tahap pembuatan wayang yang bisa dipahami secara umum, pemilihan kulitnya, tatahannya (pahatan), dan sunggingannya (pewarnaan). Kulit yang bagus yang digunakan untuk membuat boneka wayang adalah yang berasal dari kulit gudel (anak kerbau), karena tingkat kerapatannya berbeda, dan inipun tidak langsung serta merta ditatah (dipahat), harus ditarang (di taruh di atas tumpu dengan jarak sekitar 1,5 m) selama 2 minggu sampai satu bulan lebih, supaya kadar airnya hilang. Itupun tidak boleh terkena sengatan sinar matahari.

Tahap berikutnya adalah tatahan, dimana ini membutuhkan waktu yang lama juga. Seorang penatah yang profesional pasti membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan tahap ini, permasalahannya bukan “malas”, sekali lagi bukan “malas”, tetapi perhitungan yang matang antara waktu mulai natah dan kapan selesainya (perhitungan jawa), maaf ini bukan klenik, tetapi sudah terbukti secara nyata bahwa kalender jawalah yang paling komplit diantara kalender lainnya. Selain itu juga membutuhkan mood yang luar biasa ketika menatah bagian wajah wayang, kalau jaman dahulu bagian ini para penatah melakukan ritual puasa sebelumnya. Hal ini dilakukan supaya karakter wayang yang diinginkan bisa dicapai. Tatahan wayang yang bagus, belum dikasih warna sudah kelihatan karakternya seperti apa (bukan karena hafal karakter wayang), bahkan bisa menimbulkan tambahan karakter (wanda), seperti Gathutkaca wanda thathit yang memang dibuat khusus untuk adegan gathutkaca terbang.

Tahap selanjutnya adalah tahap penyunggingan, tahap pemberian warna ini juga tidak asal menorehkan cat pewarna ke kulit wayang yang sudah ditatah. Pekerjaan ini diawali dengan pemberian warna dasar putih (putihan), pada jaman dahulu menggunakan balung (tulang) yang telah dilembutkan untuk meberi warna putih pada wayang, dan warna-warna lainnya juga dari bahan alami, dimaksudkan agar awet tidak lekas pudar dan lepas dari kulit yang diwarnai (sekarang kebanyakan para penyungging menggunakan cat tembok dan pigmen). Keberhasilan seorang penyungging ketika dia mampu mengaktualkan karakter wayang yang telah ditatah tadi dengan olesan warnanya, jadi tidak asal menorehkan warna. Agar kelihatan lebih istimewa kadang memberi prada emas (emas beneran lho bukan prada grenjeng seperti sekarang) sebagai pengganti warna kuningnya. Dalam tahap ini dibagi dalam mutihi, mrada, mulas, cawen dan lapisan bening untuk menghidupkan warna (glassing).

Tahap akhir adalah nggapiti (memberi pelipit supaya wayang bisa dimainkan). Gapit juga memiliki kualitas, ada yang jelek dan yang bagus, biasanya gapit dibuat dari sungu (tanduk) kerbau juga. Jadi selain dagingnya kerbau memang dimaksimalkan kegunaannya. dalam pemberian gapit ini dibantu sebuah dian (obor minyak tanah kecil) atau lampu teplok (yang ada kacanya), untuk membentuk lengkukan-lengkukannya. Inipun tidak asal saja, ada titik-titik tertentu yang harus sesuai dengan boneka wayangnya, supaya nantinya dimainkan enak dan tidak terasa berat. Sayangnya sekarang mencari gapit yang berkualitas sangat sulit, bukan karena kekurangan pengrajin, tetapi karena ternak kerbau yang semakin langka, dan pemerintah tidak memperhatikan hal ini. Selain itu lebih dikarenakan tanduk kerbau di ekspor keluar negeri. Kebutuhan dalam negri ga harus bagus ya, yang penting negara asing bisa lihat kita ekspor yang bagus, rakyatnya dikasih yang ga bagus, kan sudah pada diam…he he he he

Dari uraian terbatas di atas seharusnya sudah dapat digunakan untuk mengidentifikasi kualitas wayang yang bagus dan tidak. Kembali ke kasus Radyapustaka, awal team yang dibentuk oleh pemeritah adalah team yang kurang memahami wayang, sehingga hanya mengiventarisasi jumlah wayang, tidak melihat kualitas wayang. Koleksi raja sekelas PB X, secara kualitas pasti melebihi apa yang saya paparkan tersebut, jadi secara kualitas sudah bisa ditebak. Makanya kemudian di usulkan team 5 yang sifatnya independen. Keberhasilan team ini sangat membawa nama baik bangsa ini, sebab sekarang sudah ada seorang peneliti dari Jerman yang memiliki koleksi wayang kuna dengan jumlah 100an kotak lebih, ditiap kotaknya rata-rata 200 boneka wayang. Selama ini aku belum pernah tahu museum Indonesia yang memiliki lebih dari koleksi dia. Dan dia sudah bersedia mengembalikan jika memang wayang koleksinya dianggap “WARISAN BUDAYA BANGSA INDONESIA”. Ironisnya pemerintah sampai sekarang tidak pernah menyinggung masalah ini, baik daerah maupun pusat. Anehnya lagi banyak dalang yang tenar tidak merasa tertampar wajahnya dan memiliki moralitas untuk bergerak kecuali Jlitheng Suparman dan Manteb Soedarsono, dari ratusan dalang lebih yang ada di Jawa Tengah. Ini juga berhubungan dengan ilmu pengetahuan, karena wayang tersebut diletakkan di museum, dan bukankah selama hilangnya wayang ini RADYAPUSTAKA termasuk memanipulasi sejarah, dan pembohongan publik yang MAHA BESAR. Museum sejarah, tapi isinya bukan peninggalan yang asli. Saatnya kita memahami makna museum, dan memanfaatkannya sebagai gudangnya ilmu pengetahuan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: