Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Peduli Konseling

Kampanye kepedulian konseling, keluarga dan kesehatan mental. Pelikan Indonesia, www.pedulikonseling.or.id

Anak Pandai tapi Tidak Berprestasi (Underachiever)

OPINI | 17 April 2011 | 00:19 Dibaca: 2361   Komentar: 2   2

1302999434699205639

from google

Menurut penelitian,  anak underachiever di Amerika ternyata jumlahnya sekitar 10%-40% dari populasi anak gifted. Mengapa anak gifted? Karena penelitian terhadap anak underachiever biasanya dilakukan kepada anak gifted, yang IQ-nya di atas rata-rata.

Intervensi dini memberi hasil yang lebih efektif. Tanda-tanda kebiasaan buruk anak harus dikenali sejak awal. Misalnya ia kurang berprestasi, kalau ditangani sejak dini akan semakin cepat membantunya.

Definisi underachiever adalah prestasi akademis anak lebih rendah dari perkiraan berdasarkan umur, kemampuan dan potensi. Misalnya anak kelas 2 SD seharusnya bisa perkalian sampai 10, namun anak itu tidak bisa. Misalnya kita melihat anak kita pintar main game, mampu menguasai game dengan cepat, tapi belajar berhitung dan menulis lamban sekali.

Ciri ciri anak underachiever ialah:

1. IQ lebih tinggi dari prestasi

2. Prestasi inkonsisten: kadang bagus, kadang tidak

3. Tidak menyelesaikan Pekerjaan rumah

4. Rendah diri

5. Takut gagal (atau sukses)

6. Takut menghadapi ulangan

7. Tidak punya inisiatif

8. Malas, bahkan depresi

Salah satu penyebab utama anak menjadi underachiever ialah cara kita membimbing anak kita baik di rumah maupun di sekolah. Kita menggunakan memakai metode one size fits all ( atau dalam ukuran baju disebut free size atau all size). Artinya anak dipaksakan mengikuti sistem yang ada. Misalnya, guru mengatakan bahwa kurikulum sudah demikian maka anak harus mengikutinya begitu.

Orang tua juga hanya menurut guru dan berkata pada anak,” Apa yang dikatakan guru sudah bagus. Kamu harus ikut sistem sekolah!” Prestasi anak menjadi rendah, namun tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin caranya yang salah, bukan anaknya.

Lalu bagaimana solusinya? Anak-anak underachiever butuh curahan kasih sayang yang lebih. Orang tua dan para pendidik perlu menerima anak apa adanya. Untuk mengatasi metode one size fits all kita butuh program yang sangat spesifik untuk tiap-tiap anak. Penting sekali bagi kita untuk  mengenali keunikan anak sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang menjamin kesuksesan bagi tiap anak.

Cara Anak Menunjukkan Dirinya Kepada Dunia

a. Performer

Anak performer senang jadi pusat perhatian dan spontan, misalnya sering jadi ‘badut’ kelas. Mereka juga aktif, kompetitif, suka tantangan dan suka adu argument dengan orang tua. Selain itu anak performer suka pelajaran yang fun, yang menyenangkan, dan relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Untuk mengajar mereka, pelajaran harus bervariasi dan sebisa mungkin libatkan mereka untuk terjun langsung dalam belajar (hands on).

Anak-anak demikianlah yang sering disebut anak-anak sulit atau bandel di sekolah. Karena sering membuat keonaran, hal-hal yang lucu, memberi komentar-komentar yang tidak pada tempatnya, merekalah yang paling sering menyulitkan guru dan orang tua. Mereka suka materi yang singkat dan to the point. Juga responsif jika belajar dengan game ; Mereka butuh waktu yang bebas. Anak seperti ini tidak bisa diberlakukan jadwal yang begitu padat.

b. Produser

Mereka adalah anak efisien yang paling disayang oleh guru dan orang tua. Kalau Anda memiliki anak seperti ini rasanya tenang sekali. Ia tertib, suka membuat rencana dan aturan atau hal-hal terstruktur. Anak-anak ini sangat produktif. Nilai-nilai ulangan anak produser juga biasanya bagus. Dengan sifat-sifat rajin, fokus, rapi, tertib, maka tidak heran bila mereka disayang orang tua.

c. Penemu

Anak dengan disposisi ini merupakan anak yang cerdas. Banyak bertanya dan tangannya terampil, suka otak-atik. Ia suka menyendiri, suka berpikir secara konkrit. Dalam memecahkan masalah sehari-hari (riil) mereka bagus sekali.

Mereka butuh stimulus intelektual. Artinya mereka perlu diajak bicara cukup ‘tinggi’ pada level pengetahuannya. Orang tua perlu memberi kesempatan agar mereka bisa menyumbangkan kemampuan mereka.

d. Pencipta dan Pemikir.

Anak-anak ini memiliki imajinasi yang tinggi, sering melamun. Bedanya dengan anak penemu tadi ialah, anak pencipta suka berpikir abstrak. Anak tipr ini bisa mengaitkan konsep abstrak, bahwa anak yang mendapat kasih sayang dari ke dua orang tua lebih beruntung dari binatang-binatang yang punya satu orang tua atau tidak punya orang tua.

Anak pencipta dan pemikir juga senang bertanya dan terbuka dengan ide yang baru. Berorientasi pada ide, mereka senang menyendiri untuk berpikir. Anak ini perlu penyaluran ide-ide baru yang diciptakannya. Di rumah, dia butuh waktu untuk menyendiri. Jangan beri jadwal yang padat.

e. Sosial dan Inspirator

Ibu Theresia dan Marthin Luther King ialah contoh orang dengan disposisi ini. Individu yang bersifat sosial dan yang memberi inspirasi bagi lingkungannya. Anak sosial paham dan peduli dengan perasaan orang lain. Mereka sangat efektif bekerja dalam kelompok karena tidak egois. Anak ini menciptakan kerjasama dalam kelompok dan biasanya menjadi leader.

Sifat lain adalah adil, penolong dan rela berkorban. Dalam hal rela berkorban ini, sebagai orang tua, kita perlu membantu anak untuk mengatakan ‘tidak’ kepada teman-temannya. Ia biasanya ‘diperbudak’ oleh teman-temannya karena terlalu baik hati.

Anak ini sangat people-oriented, cinta harmoni - dalam arti tidak suka menentang orang lain. Suka ngobrol. Hal-hal yang perlu kita lakukan ialah memberi kesempatan dia menolong orang lain, namun ajari dia untuk tidak terlalu larut dalam menolong orang itu.

Dari karakter-karakter di atas, bisakah Anda menilai di mana posisi anak Anda ?

Bahan Pembelajaran Counseling & Parenting Education

Layanan Konseling Keluarga dan Karir

www.pedulikonseling.or.id



 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Resep Kerupuk Seblak Kuah …

Dina Purnama Sari | 8 jam lalu

“Sakitnya Tuwh di Sini, di …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kabinet Stabilo …

Gunawan Wibisono | 8 jam lalu

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Dikelilingi Nenek-nenek Modis di Seoul, …

Posma Siahaan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: