Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abdi Husairi Nasution

Lebih suka menjadi diri sendiri. Anakku memanggilku 'Yanda'. Sisiku yang lain bisa diobok-obok di www.yandakasyfi.blogspot.com selengkapnya

UN, 21 Tahun yang Lalu

OPINI | 19 April 2011 | 02:48 Dibaca: 245   Komentar: 6   1

13031380551228697993Tanggal 18 April hari ini, Ujian Nasional (UN) untuk pelajar tingkat SMA/SMK kembali digelar. Betapa dada mereka deg-deg-degan menyambut hari pertama UN itu. Saya sangat tahu benar bagaimana rasanya menghadapi hari pertama ujian tersebut. Yang pertama muncul dalam pikiran adalah “Sulitkah soal-soalnya”, kemudian pertanyaan lain berlanjut, “Bisakah soal-soalnya dikerjakan”. Lantas nyambung lagi, “Keluar gak ya yang dipelajari semalam”. Terakhir, “Bisa lulus gak ya”. Semua pertanyaan itu ditujukan untuk diri sendiri, jawabnya pun jawab sendiri, maklum itu semua pertanyaan retoris.

Bagi pelajar yang rajin belajar dan tak pakai rumus SKS atau Sistem Kebut Semalam, UN bisa mereka lalui dengan mudah dan gemilang. Namun pertanyaan retoris tadi tetap menghantui mereka, dan menghantui semua pelajar yang ikut UN. Saya pun demikian, UN yang saya lalui pas SMA terjadi sekitar 21 tahun yang lalu, tahun 1990 (bisa ditebak ya umur saya sekarang berapa). Waktu itu namanya bukan UN, tapi EBTANAS, kepanjangan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir NASional. Model ujiannya pun tetap sama, makanya saya jadi heran sendiri kok namanya berubah jadi UN atau Ujian Nasional. Bedanya, 21 tahun yang lalu itu syarat kelulusan tak dipatok oleh nilai minimal tertentu untuk lulus UN/EBTANAS. Andai syarat nilai minimal diberlakukan waktu itu, sudah dipastikan saya tak akan lulus UN atau EBTANAS. Bayangkan, Nilai EBTANAS Murni (NEM) saya tak sampai rata-rata 6, sekitar 4,8. Angka rata-rata itu tak cukup memenuhi syarat untuk lulus SMA. Bahkan, bukan saya saja yang tak lulus, teman-teman saya yang lain pun banyak tak lulus.

Untunglah kebijakan pada masa itu tak seperti sekarang, NEM tak dijadikan syarat mutlak untuk lulus. Nilai akhir yang saya peroleh berasal dari penjumlahan NEM, ulangan harian kelas, dan ekstrakurikuler, serta ditambah lagi dengan nilai kelakuan saya di kelas, kemudian direrata. Hasilnya pun tertera di lembar ijazah saya, dengan nilai rata-rata mencapai angka 7,3. Angka yang tak begitu fantastis memang, tapi cukuplah untuk meloloskan saya dari jenjang SMA.

Seingat saya, UN 21 tahun yang lalu itu juga tak sampai melibatkan pihak sekolah untuk berbuat curang, apalagi sampai melibatkan guru untuk meloloskan para pelajarnya dengan cara apapun. Masa itu, pelajar yang tak lulus masih bisa dihitung dengan jari, tingkat kelulusan hampir 100%. Prinsipnya, UN bukanlah nila setitik yang mampu merusak susu sebelanga. Sungguh tak lucu andai nilai UN yang tak memenuhi syarat membuat seorang pelajar jadi tak lulus, apalagi kalau selama ini dia dikenal sebagai pelajar yang berprestasi. UN bukan pula harga mati untuk menentukan pelajar itu pintar atau bodoh, berprestasi atau tidak. UN hanya sebagai salah satu alat ukur untuk menguji kompetensi seorang pelajar, tapi bukan sebagai penentu akhir, apalagi penentu masa depannya.

Sumber gambar: blogmatematikaku.files.wordpress.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Stop! Jadi Orangtua Egois (Mari Selamatkan …

Siska Destiana | | 23 July 2014 | 12:36

Penting Gak Penting Ikut Asuransi Kebakaran …

Find Leilla | | 23 July 2014 | 11:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 2 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 3 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 7 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 7 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: