Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Budi Setiyono

tinggi 165 cm ,berat saya 54 kg

Apa Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif

OPINI | 19 April 2011 | 02:43 Dibaca: 15877   Komentar: 1   0

PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DAN PENELITIAN KUALITATIF

Perbedaan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif menurut Prof.Dr. Lexy J. Moleong, M.A disajikan dalam table sebagai berikut:

ASPEK

PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUALITATIF

1. Maksud Penelitian

Membuat deskripsi objektif tentang fenomena yang terbatas dan menentukan apakah fenomena tersebut dapat dikontrol melalui beberapa intervensi

Maksud penelitian mengembangkan pengertian tentang individu dan kejadian dengan nmemperhitungkan konteks yang relevan

2. Tujuan penelitian

Menjelaskan, meramalkan, dan/ atau mengontrol fenomena melalui pengumpulan data terfokus dari data numeric

Memahami fenomena social melalui gamabaran holistic dan memperbanyak pemahaman mendalam

3. Pendekatan pelenlitian

Menjelaskan penyebab fenomena social melalui pengukuran objektif dan analisis numeric

Berasumsi bahwa ‘subjek matter ’ suatuilmu social adalah amat berbeda dengan subjek matter dari ilmu fisik/ alamiah dan mempersyaratkan tujuan yang berbeda untuk inkuiri dan seperangkat metode penyelidikan yang berbeda. Induktif berisi nilai(subjektif), holistic dan berorientasi proses

4. Asumsi penelitian

Berasumsi bahwa tujuan dan metode ilmun social adalah sama dengan ilmu fisik/alamiah dengan jalan mencari teori yang dites atau dikonfirmasikan yang menjelaskan fenomena. Deduksitif, bebas-nilai

( objektif), terfokus, dan berorientasi tujuan

Perilaku terikat konteks dimana halnitu terjadi dan kenyataan social tidak direduksi menjadi variable-variabel sam a dengan kenyataan fisik. Berupaya mencari pemahaman tentang kenyataan dari segi perspektif ‘ orang dalam’;menerima subjektivitas dari peneliti dan pemeran serta

5. Model penjelasan

Penemuan ‘fakta’ social tidak berasal dari persepsi subjektif dan terpisah dari konteks

Upaya generalisasi tidak dikenal karenaterikat konteks dan harus diinterpretasikan kasus per kasus

6. Nilai

Bergantung pada model penjelasan hipotetiko deduktif dengan memulai dari teori dari mana hipotesis ditarik dan di tes dengan menggunakan prosedur yang ditentukan terlebih dahulu

Berargumentasi bahwa peneliti senantiasa terikat nilai dan peneliti harus eksplisit tentang peranan bahwa nilai memegang peranan dalam sesuatu pilihan inheren dalam ;a) masalah yang harus diselidiki, b) metode yang harus diselidiki, c) cara menginterpretasi, dan d) konteks dimana studi itu berada

7. Alasan penelitian

Menerima nilai peneliti dapat berperan dalam permassalahan yang sedang diteliti, tetapi penelitian itu sendiri harus bebas nilai dengan prosedur khusus yang dirancang untuk mengisolasikan dan mengeluarkan unsur-unsur subjektif dan mencari kenyataan objektif

Induktif, melakukan pengamatan dan menarik kesimpulan

8. Generalisasi

Deduktif- diduksi dari teori tentang apa yang akan diamati

Berasumsi bahwa setiap individu , budaya, latar adalah unik dan penting untuk mengapresiasi keunikan, generalisasi bergantung pada konteks.

9. Hubungan peneliti dengan subjek

Berasumsi bahwa cara ini dapat menemukan ‘hukum’ yang menambah pada prediksi yang dapat dipercaya dan pada control tentang kenyataan/fenomena. Mencari keteraturan dalam sampel individ; analisis statistic menyatakan kecenderungan perilaku dan kecenderungan sudah cukup kuat untuk memperoleh nilai praktis

Peneliti secar aktif berinteraksi secara pribadi. Proses pengumpulan data dapat duibah dan hal itu bergantung pada situasi. Peneliti bebas menggunakan intuisi dan dapat memutuskan bagaimana merumuskan pertanyaan atau bagaimana melakukan pengamatan. Individu yang diteliti dapat diberi kesempatan agar secara sukarela mengajukan gagasan dan persepsinya dan berpartisipasi dalam analisi data.

10. Nilai orientasi

Tujuan penelitian adalah objektivitas; berusaha memelihara pandangan pribadi, kepercayaan ,’biases’ dari pengaruh pengumpulan data dan analisis proses. Melibatkan interaksi minimal dan jika interaksi diperlukan (wawancara) lalu berusaha membakukan proses. Peranan sampel dalam studi adalah pasif.

Mempercayau bahwa seluruh kegiatan penelitian terikat nilai. Tidak menghindari isu nilai, nilai pribadi dinyatakan secara terbuka dan mencoba memperagakan nilai yang terikat pada konteks.

11. Studi tentan konteks

Berupaya agar nilai pribadi bebas dari pengaruh desain penelitian dan menghindari usaha membuat keputusan nilai tentang hal-hal yang diteliti.

Berupaya memahami fenomena yang komlpeks dengan jalan mengujinya dalam keseluruhannya dalam konteks. Belum mengetahui apa yang difokus sampai studi itu sudah berlangsung; mengidentifikasikan tema yang relevan dan pola-pola (yang meuncul) yang kemudian menjadi focus studi. Pengumpulan data sedikit banyak adalah kontinyu dan intensif lebih dari penelitian kuantitatif.

12. Desain

Berupaya memahami fenomena yang komlpeks dengan jalan menganalisis bagian-bagian komponen (disebut variable). Setiap upaya penelitian menguji hanya beberapa dari kemungkinan variable yang dapat diteliti; konteks situasi diabaikan atau dikontrol. Data dikumpulkan dalam beberapa interval dan menfokus pada pengukuran yang tepat.

Fleksibel/luwes, dikembangkan, umum, dinegosiasikan, sebagai acuan untuk diikuti, dikhususkan hanya dalam istilah umum sebelum studi dilakukan. Tidak mengikutkan intervensi dan berupaya agar gangguan sesedikit mungkin.

13. Metode

Terstruktur, formal, ditentukan terlebuh dahulu, tidak luwes, dijabarkan secara rinci terlebih dahulu sebelum penelitian dilakukan dapat diteliti; konteks situasi diabaikan atau dikontrol. Data dikumpulkan dalam beberapa interval dan memfokus pada pengukuran yang tepat

Historical, etnografis, dan studi kasus. Intervensi dan berupaya agar gangguan sesedikit mungkin.

14. Hipotesis

Deskriptif, korelasional, perbandingan –kausal, dan eksperimen

Cenderung untuk mencri dan menemukan dan menyimpulkan hipotesis. Hipotesis dilihat sebagai sesuatu yang tentative, berkembang, dan didasarkan pada sesuatu studi tertentu.

15. Pengukuran

Hampir selalu mengetes hipotesis. Hipotesis dilihat sebagai sesuatu yang khusus, dapat dites, dan dinyatakan sebelum sesuatu studi dilakukan.

Prosedur sedikit subjektif; peneliti memiliki kemampuan untuk mengamati dan berinteraksi dengan manusia lainnya dan dengan lingkungan; percaya bahwa kemampuan manusia diperlukan untuk melaksanakan tugas yang rumit dan terhadap dunia yang sangat bervariasi dan yang selalu berubah.

16. Review Kepustakaan

Tujuan pengukuran adalah objektivitas, member makna pada scoring dan pengumpulan data tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai peneliti, ‘bias’ dan persepsi; banyak bergantung pada tes, skala dan kuesioner terstruktur yang dapat diadministrasikan pada kondisi baku terhadap seluruh individu dalam sampel dan prosedur untuk scoring data dirinci secara tepat untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya bahwa setiap dua skor memperoleh hasil yang sama. Akhirnya, baku dan numerical.

Terbatas, sebagai acuan teori, dan tidak mempengaruhi studi. Tidak dilakukan untuk mengkaji teori karena dengan cara ini bukan dengan cara ini bukan mengkaji teori tetapi menemikan teori dari data.

17. Latae Penelitian

Ekstentsif, yang dengan hal itu mempengaruhi studi. Pengkajian teori diperlukan untuk menemukan konsep, variable, dan menata penelitian hipotesis.

Naturalistic (sebagaimana adanya) sejauh mungkin.

18. Sampling

Sejauh mungkin dikontrol sampling teoritis dan sampling sebanyak mungkin digunakan sebagai mempertimbangkan

Bertujuan: dimaksudkan untuk memilih sejumlah ‘kecil’, dan tidak harus representatid; sampel dimaksudkan untuk mengarah kepada pemahaman secara mendalam.

19. Data

Random/acak: dimaksudkan untuk memilih dari sejumlah besar indiuvidu dalam polulasi dimasukan dalam sampel yang dianggap mewakili. Hal itu diragukan untuk mengeneralisasikan hasilnya kepada polulasi. Statifikasi, kelompok control, mengontrol variable ekstreneus

Naratif, deskriptif, dalam kata-kata mereka yang diteliti, dokumen pribadi, catatan lapangan, artifak, dokumen resmi dan video tape, transkrip.

20. Statregi pengumpulan data

Numeric, variable dioperasionalkan, kode dikuantifikasikan, statistical, dihitung dan diadakan pengukuran.

Pengumpulan dokumen, pengmatan berperan serta( participant observation), wawancara tidak terstruktur dan informal, mencatat lapangan secara intensif, menilai artifak.

21. Subjek

Pengamatan terstruktur yang partisipan, wawancara semi –terstruktur dan formal, administrasi tes dan kuesioner, eksperimen, penelitian servei, eksperimen-kuasai.

Subjek penelitian berjumlah besar ; pemilihan secara acak

Ju8mlah subjek penelitian kecil teknik sampling bertujuan.

22. Analisis ndata

Deduktuf, secara statistic . teritama menghasilkan data numeric yang biasanya dianalisis secara statistic. Data kasar terdiri dari bilangan dan analisis dilakukan pada akhir penelitian

Induktif, model-model, teori-teori, konsep, metode perbandingan tetap. Basanya data dianalisis secara deskriptif yang sebagaian besar berasal dari wawancara dan catatan pengamatan; catatan dianalisis untuk memperoleh tema dan pola-pola yang dideskripsikan dan diilustrasikan dengan contoh-contoh, termsuk kutipan-kutipan dan rangkuman dari dokumen; koding data dan analisis verbal.

23. Interpretasi Data

Kesimpulan dan generalisasi diformulasikan pada akhir penelitian, dinyatakan dengan derajat kepercayaan tertentu yang ditentukan terlebih dahulu.

Kesimpulan adalah tentative, direview atas dasar sesuatu yang masih berlangsung, sedang generalisasi diabaikan.

24. Criteria

Validitas interval-bagaimana kebenaran ditemukan. Validitas eksternal-bagaimana penerapan temuan-temuan pada latar lainnya. Objektivitas-bagaimana seharusnya kita dapat diyakinkan bahwa temuan-temuan adalah reflektif dari subjek daripada hasil dari ‘ biases’ para peneliti

Krediblitas-penelitian dilakukan sedemikian rupa untuk memastikan bahwa subjek itu secara secukupnya diperoleh itu secara secukupnya diperoleh dan diuraikan. Keteralihan-beban untuk memaparkan penerapan temuan-temuan pada latar lainnya tergantung pada peneliti yang harus mengadakan ‘uraian rinci’ tentang keadaan latar untuk keperluan penerapan.

25. Frasa Kunci

Eksperimental, data numeric, empiric, dan statistical,

Deskriptif, naturalistic, dan berorientasi kata

26. Konsep Kunci

Reliabilitas, variable, operasionalisasi, hipotesis, validitas, statistical, signifikasi, replikasi.

Bermakna, pemahaman awam, proses, dibangun secara social, tema, keabsahan data.

27. Instrument Penelitian

Inventori, kuesioner, skala, skor tes, indicator

‘Tape recorder’, catatan lapangan, peneliti adalah instrument itu sendiri.

28. Masalah

Mengontrol variable, validitas

Memakan waktu, prosedur tindakan baku, reliabilitas-keabsahan data.

Dapat disimpulkan secara garis besar perbedaan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif, jika pada penelitian kuantitatif permasalahan yang akan diteliti sudah jelas, realitanya sudah ada, terukur, menggunakan pola pikir secara deduktif sedangkan dalam penelitian kualitatif permasalahan yang akan diteliti masih kabur atau belum jelas sehingga masalah yang diteliti akan berkembang ketika memasuki lapangan, penelitiannya belum terukur, dalam penelitian menggunakan pola pikir secara induktif. Judul dalam penelitian kuantutatif kemungkinan besar tidak berubah tetapi pada penelitian kualitatif bisa berubah menyesuaikan hasil perkembangan penelitian yang dilaksanakan di lapangan.

KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF

Metodologi penelitian kualitatif mempunyai konsep dasar/landasan berdasarkan pada kenyataan yang ada atau fenomenologi pada kehidupan manusia, selain hal tersebut ada landasan tambahan lainnya seperti interaksi simbolik, kebudayaan, dan etnometodologi yang dapat dijadikan dasar tambahan dalam penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif judul penelitian disusun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan yang bersifat masih sementara, yang bisa berubah atau berkembang setelah memasuki lapangan. Judul bisa berubah sesuai dengan keadaan dilapangan, jika diperlukan judul dapat diganti sesuai dengan hasil studi di lapangan. Pada penelitian kualitatif landasan teori yang dimiliki peneliti sebaiknya luas, dalam arti peneliti banyak pengetahuan/ ilmu tentang studi yang akan diteliti sehingga penelitian dapat dihasilkan secara maksimal, tetapi teori tersebut hanya sebagai pedoman dalam penelitian, sehingga jika terjadi perbedaan yang mendasar antara pedoman dengan realitas dilapangan maka peneliti dituntut untuk dapat berkretifitas berdasarkan data yang terjadi di lapangan. Peneliti dalam penelitian kualitatif harus bersifat ‘perspektif emic’ yang mengandung arti memperoleh data bukan sebagaimana seharusnya. Bukan berdasarkan apa yang difikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan. Teknik pengambilan sampel ditentukan pada saat memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung . caranya yaitu peneliti memilih orang tertentu dengan criteria tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan datga yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnyaitu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap. Instrument yang digunakan penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, tetapi setelah focus penelitian menjadi focus atau jelas maka kemungkinan akan dikembangkan instrument penelitian sederhana yang diharapkan dapat melengkapai data dan membandingkan dengan data telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Untuk teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif dilakukan untuk mendapatkan data yang dianggap perlu, pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, triangulasi/ gabungan dan dalam pengumpulan data ini dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Teknik dalam menganalisi data dalam penelitian kualitatif belum begitu jelas / fleksibel, analisis data kualitatif adalah bersifat induktif yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Anasisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai lapangan. Secara garis besar tahapan penelitian kualitatif dimulai dari pemilihan situasi social (tempat, orang, dan aktivitas) kemudian melaksanakan observasi partisipan, mencatat hasil observasi dan wawancara, melakukan observasi deskriptif, melakukan analisis, penulisan laporan.

  1. JUDUL PENELITIAN

PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN OLEH GURU KELAS 3 SD NEGERI PEJENGKOLAN KECAMATAN PADURESO KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2011

  1. RUMUSAN MASALAH/ FOKUS PENELITIAN :

1. Apa saja media pembelajaran yang digunakan oleh guru kelas 3 SD Negeri. Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen Tahun 2011.

2. Bagaimanakah guru dalam menggunakan media pembelajaran oleh guru kelas 3 SD Negeri Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen Tahun 2011.

3. Alasan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran .

4. Proses penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.

5. Manfaat penggunaan media pembelajaran.

6. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap media yang yang digunakan oleh guru .

7. Bagaimanakah tanggapan rekan guru terhadap media yang digunakan oleh guru kelas 3 SD Negeri Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen Tahun 2011.

8. Bagaimana tanggapan kepala sekolah SD Negeri Pejengkolan terhadap media yang digunakan .

  1. TUJUAN PENELITIAN :

1. Menemukan pola/ koherensi tentang penggunaan media pembelajaran oleh guru kelas 3 di SD Negeri Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen Tahun 2011.

2. Menggambarkan proses dalam penggunaan media pembelajaran oleh guru kelas 3 di SD Negeri Pejengkolan Kecamatan Padureso Kabupaten Kebumen Tahun 2011.

  1. TEORI ACUAN

A. Pengertian Media Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, media diartikan sebagai alat (2000: 726). Dari sumber internet diketahui bahwa kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang berarti “pengantar atau perantara”, dengan demikian dapat diartikan bahwa media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.Media pendidikan adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran atau pembelajaran (2000: 726).Kaitannya dengan pembelajaran, maka media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam PBM.

Media menurut Brings (1970) adalah ”Segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta perangsang peserta didik untuk belajar”. Media/alat peraga merupakan alat pembantu pengajaran yang mudah memberi pengertian kepada peserta didik. Media pengajaran merupakan bagian dari sumber pengajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan (Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 2001: 262).

Gagne dan Reisen dalam buku Strategi Belajar Mengajar (Mulyani Sumantri 2001:150) mendefinisikan media pengajaran sebagai ”Alat fisik dimana pesan-pesan instruksional dikomunikasikan.” Jadi seorang instruktur, buku cerita, pertunjukan film, atau tape recorder, dan lain-lain peralatan fisik yang mengkomunikasikan pesan instruksional dianggap sebagai media.

Dinje Bowman Rumupuk dari buku Strategi Belajar Mengajar (Mulyani Sumantri 2001 : 153) mendefinisikan ”Media pengajaran sebagai setiap alat, baik software maupun hardware yang dipergunakan sebagai media komunikasi dan yang tujuannya untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar.” Dari dua definisi media pengajaran yang dikemukakan di atas dapat dipelajari bahwa media pengajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan guru sebagai perantara untuk menyampaikan bahan-bahan instruksional dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan pengajaran tersebut.

Secara umum media pembelajaran dapat diklasifikasikan dalam empat golongan yaitu:

1. Media Audio

Adalah media yang dapat diterima dengan indera pendengar. Contoh: tape recorder, radio.

2. Media Visual

Adalah media yang dapat diterima dengan indera penglihat. Contoh: media grafik, gambar-gambar, atau benda asli dan benda tiruan.

3. Media Audio Visual

Adalah media yang dapat diterima dengan indera pendengar dan indera penglihat. Contoh: televisi, suara dengan foto, suara dengan slide, video.

4. Multimedia

adalah media yang berasal dari sumber animasi computer.

B. Tujuan Penggunaan Media Pengajaran

Secara umum tujuan penggunaan suatu media yaitu untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara tepat dan akurat.

Sedangkan secara khusus media pengajaran digunakan dengan tujuan sebagai berikut :

1. Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, dan ketrampilan tertentu. Dengan menggunakan media yang paling tepat untuk karakteristik bahan ajar.

2. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar.

3. Menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam teknologi, karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu.

4. Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik. ( Mulyani Sumantri 2001 : 153 )

C. Fungsi Media Pengajaran

Media pengajaran sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk mengantarkan atau menyampaikan pesan,

Secara umum media berfungsi sebagai :

1. Alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

2. Bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar.

3. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme.

4. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik.

5. Mempertinggi mutu proses pengajaran. ( Mulyani Sumantri 2001 : 154)

Levie and Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran khususnya media visual, yaitu:

1. Fungsi Atensi

Yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkosentrasi kepada isi pelajaran.

2. Fungsi Afektif

Yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.

3. Fungsi Kognitif

Yaitu memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan.

4. Fungsi Kompensatoris

Yaitu untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan secara verbal.

Dari berbagai fungsi tersebut dapat disimpulkan bahwa media sangat bermanfaat dalam proses belajar mengajar guna memperdalam pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Selain untuk siswa, media juga bermanfaat bagi guru.

Adapun uraian manfaat media secara lebih rinci yaitu sebagai berikut:

1. Memudahkan belajar siswa dan memberi kemudahan mengajar bagi siswa,

2. Membantu mewujudkan pengajaran konsep dan tema pengajaran yang abstrak dalam bentuk konkret,

3. Membantu jalannya pelajaran tidak monoton dan tidak membosankan,

4. Membantu semua indra siswa secara aktif dan turut berproses, sehingga kelemahan siswa dalam salah satu indra dapat diimbangi oleh kekuatan indra lainnya,

5. Membantu meraih minat siswa dan memberikan motivasi dalam penyajian pelajaran,

6. membantu mendekatkan dunia teori dengan dunia realistis.

D. Alasan Penggunaan Media

Penggunaaan media pengajaran bertitik tolak pada dua hal berikut, yaitu :

1. Belajar Merupakan Perubahan Perilaku,menurut Mulyani Sumantri 2001 : 155 menyatakan bahwa:

Perubahan perilaku terjadi akibat adanya suatu proses yang diawali dengan adanya rangsangan yang kemudian diolah menjadi persepsi. Untuk menanggulangi hambatan terbentuknya persepsi harus diupayakan suatu bentuk alat bantu yang memudahkan atau mengurangi hambatan-hambatan penguasaan kemampuan peserta didik.

2. Belajar Merupakan Proses Komunikasi

Mulyani Sumantri (2001: 155) ’’Proses komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari sumber ke penerima. Media digunakan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan hambatan-hambatan tersebut.”

E. Prinsip-Prinsip Pemilihan Suatu Media

Dalam proses pengajaran hendaknya seorang guru menggunakan media pengajaran yang sesuai agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan optimal. Adapun prinsip-prinsip pemilihan media meliputi:

1. Memilih media harus berdasarkan pada tujuan pengajaran dan bahan ajar yang akan disampaikan.

2. Memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.

3. Memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru, baik dari pengadaannya maupun penggunaannya.

4. Memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.

5. Memilih media harus memahami karakteristik dari media itu sendiri.

( Mulyani Sumantri 2001 : 156 )

Sedangkan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih media pengajaran adalah :

1. Objektifitas yaitu pemilihan suatu media tidak didasarkan karena kesukaan pribadi atau sekedar hiburan, sehingga menghiraukan kegunaan dan relevansinya dengan bahan ajar dan karakteristik peserta didik.

2. Program pengajaran artinya dalam memilih media harus disesuaikan dengan program pengajaran, karena tidak semua media dapat digunakan untuk semua program pengajaran.

3. Situasi dan kondisi artinya pemilihan media harus disesuaikan dengan situasi belajar mengajar yaitu disesuaikan dengan metode mengajar, materi pelajaran, serta lingkungan sekolah dan kelas.

4. Kualitas teknik yaitu kesiapan operasional media sebelum digunakan, misalnya untuk video compact disk apakah kondisinya masih bagus atau sudah rusak.

5. Keefektifan dan efisien penggunaan artinya penggunaan media bukan semata-mata karena melaksanakan salah satu komponen-komponen tetapi apakah media itu betul-betul berguna untuk memudahkan pemahaman peserta didik. ( Mulyani Sumantri 2001 : 156 )

Kesimpulan dari uraian media pembelajaran, maka media pembelajaran merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran.

F. Pengertian Guru

Menurut undang-undang guru dan dosen pasal satu, Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

G. Tugas guru dalam proses pendidikan

Tugas guru dalam proses pendidikan antara lain sebagi beikut

1. Guru sebagai sumber belajar

Maksudnya adalah peran guru dalam kaitannya dengan penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik.

2. Guru sebagai falilitator

Maksud guru sebagai fasilitator adalah perannya dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran

3. Guru sebagai pengelola

Guru sebagai pengelola pembelajaran berusaha menciptakan ikllim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara optimal. Melalui pengelolaan yang baik guru dapat menjagakelas agr tetap kondusif untuk proses belajar siswa.

4. Guru sebagai demonstrator

Yang dimaksud dengan peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa yang berkaitan denang materi sehinga dapat membuat siswa lebih mengreti tentang materi yang diajarkan oileh guru.

5. Guru sebagai pembimbing

Guru sebagai pembimbing maksudnya peran guru agar dapat mengarahkan siswanya untuk dapat menemukan potensi yang dimilikinya sebagai bekal dalam hidupnya, berusaha membimbing siswa supaya mencapai perkembangan yang maksimal sebagai manusia yang menjadi harapan oleh orang tuannya, masyarakat dan bangsa.

6. Guru sebagai motivator

Guru memberikan motivasi suapaya proses pembelajaran yang terjadi dapat berhasil degnan maksimal, siswa yang rendah nilainya belum tentu bodoh maka tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga prestasinya dapat optimal

7. Guru sebagai evaluator

Sebagai evaluator guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan

Jadi dari pengertian guru dan tugas-tugasnya maka dapat disimpulkan bahwa guru SD adalah, guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,dalam pendidikan dasar.


ARGUMEN BAHWA PENELITIAN KUALITATIF ADALAH ILMIAH

Secara umum penelitian bertujuan untuk menguji, menemukan teori baru, atau untuk menemukan sebuah jawaban. Pada Penelitian kualitatif dikatakan ilmiah jika penelitian tersebut memenuhi kebenaran secara ilmiah. Penelitan kualitatif dikatakan ilmiah karena dalam penulisannya secara sistematis menggunakan acuan baku yang telah disepakati. Penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah untuk mencari jawaban yang masih belum jelas atau samar-samar, sehingga pada penelitian kualitatif langkah-langkah yang digunakan dalam mencari jawabannya harus dengan pertanyaan-pertanyaan logis / masuk akal sehingga jawabannya juga logis. Oleh karena itu penelitian kualitatif dapat ilmiah jika dalam dalam proses penelitan tersebut ada data pembandingnya sehingga lebih objektif (triangulasi), selain itu dalam proses pengumpulan data harus objektif, pencarian data harus sampai pada titik jenuh (ajeg/sama) dan tidak ragu ragu dalam pengambilan keputusan yang dianggap perlu dengan mempertimbangkan fakta-fakta yang didapat dari lapangan. Disamping itu dalam penelitian kualitatif juga menggunakan teori acuan yang digunakan untuk pedoman dalam proses penelitian, pedoman ini semata-mata digunakan untuk acuan sehingga tidak harus sama antara teori dengan hasil penelitian. Hasil penelitian kualitatif juga dapat digeneralisasikan seperti pada penelitian kuantitatif jika focus penelitian sama atau mirip dengan hasi penelitian yang telah dilakukan di tempat lain.


CARA MENENTUKAN TOPIK DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Untuk menentukan topic penelitian kualitatif antara lain sebagai berikut :

  1. Cari/ tentukan focus penelitian (dalam hal ini permasalahan yang akan diangkat oleh peneliti untuk diteliti).
  2. Setelah menenemukan focus penelitian langkah selanjutnya adalah mencari factor-faktor yang mempunyai kaitan dengan focus penelitian yang akan diteliti.
  3. Setelah mengkaitkan factor-faktor , langkah selanjutnya adalah memilih factor yang dianggap cocok oleh peneliti untuk diadakan penelitian lebih mendalam.
  4. Setelah itu kaitkan secara logis factor-faktor subfokus yang akan dipilih dengan focus penelitian.

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Menurut Snelbecker dalam Moleong (1988) mendefinisikan teori sebagai seperangkat proporsi yang berinteraksi secara sintaksi yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis dengan lainnya sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. Dari segi fungsi teori ada dua pendapat yang dikemukakan yang pertama menurut Selbecker(1974: 28-31) dalam Moelong (1988) menyatakan ada empat fungsi teori yaitu:

  1. Mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian.
  2. Menjadi pendorong untuk menyusun hipotesis dan dengan hipotesis membimbing peneliti mencari jawaban-jawaban.
  3. Membuat ramalan atas dasar penemuan.
  4. Menyajikan penjelasan untuk menjawab pertanyaan mengapa.

Menurut Glaser dan Strauss (1967: 3) dalam Moleong fungsi teori antara lain;

1. Memberikan kesempatan untuk meramalkan dan menerangkan perilaku.

2. Bermanfaat dalam menemukan teori sosiologi.

3. Dapat dgunakan dalam aplikasi praktis –peramalan.

4. Memberikan perspektif bagi perilaku yaitu pandangan yang harus di saring dari data.

5. Membimbing serta menyajikan gaya bagi peneliti dalam beberapa bidang perilaku.

Jadi dapat disimpulkan fungsi teori dalam penelitian kualitatif adalah untuk menjadi pedoman dalam penelitian tetapi bukan untuk dibuktikan dalam hipotesis melainkan sebagai pedoman. Disamping itu fungsi teori digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang terjadi dalam proses penelitian.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 12 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Upaya Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Harry Supandi | 8 jam lalu

Bunga Generasi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 8 jam lalu

Persebaya Gagal Di 8 Besar, Karma Kah ? …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: