Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bom Cirebon: Titik Awal Pemersatu Rakyat

OPINI | 20 April 2011 | 07:25 Dibaca: 70   Komentar: 2   0

Setiap kejadian, sudah pasti ada makna yang menyertainya. Tercatat sudah 18 kejadian pemboman di Indonesia. Akan tetapi, rakyat, pengurus lingkungan, kepala desa, bupati/walikota, gubernur, presiden, polisi, tentara, legislatif, dan lembaga swadaya masyarakat belum memiliki satu kata “Bersatu” menuntaskan persoalan “BOM” sampai ke akar-akarnya. Nyaring terdengar hanyalah “hujatan”, “Cacian”, “Makian”, dan “Kata-kata emosional”. Namun, satu kata dari pemilik bibir-bibir yang memiliki peran hampir nyaris tidak terdengar mengatakan kata “Bersatu”. Rakyat bersatu, para terorisme dapat tertangkap dan tercegah kegiatan mereka.

Bersatu, kata yang sangat ampuh dipergunakan oleh para Pemuda pada tahun 1928 dalam mempersatukan Negeri ini untuk menuju Indonesia Merdeka. Namun, mengapa kata “Satu” akhir-akhir ini sulit diwujudkan dalam memberantas “Terorisme” di Negeri ini. Bukankah - kita tinggal dalam satu lingkungan, yang memiliki rasa ingin tahu, siapa yang tinggal dan bertamu di satu rumah. Bukankah kita memiliki Ketua Rukun Tetangga, mengapa untuk memastikan apa yang dilakukan oleh setiap warga betapa sulitnya. Bukankah kita memiliki hansip, tukang ojek, tukang sapu, tukang tambal ban, warung pojok, tukang sampah, yang setiap waktu melintas dan mengawasi setiap rumah warga.

Ternyata potensi-potensi ini belum banyak terpakai dalam rangka pencegahan “Terorisme”. Bukankah para pelaku itu tinggal di dekat kita, sering berjumpa dengan kita, minum dan makan bersama kita, berbicara bersama kita.

Dalam teori kriminologi yang diperkenalkan oleh Oscar Newman, menyebutkan bahwa suatu kejahatan tidak dapat diberantas oleh suatu kekuatan polisi yang terlatih, namun ia membutuhkan mekanisme dan dukungan sosial. Untuk itu Oscar Newman memperkenalkan teori Defensible Space, yaitu sebuah model lingkungan tempat tinggal (perumahan) yang menghambat kejahatan dengan menciptakan suasana secara sosial seakan-akan ada yang mengawasi tempat tersebut. Sebagai contoh, kehadiran tukang ojek yang bergerombol di depan gang, membuat kikuk seorang individu yang berniat jahat di lingkungan itu. Si penjahat merasa kurang tenang, dicurigai, dan merasa diawasi, sehingga ia mengurungkan niat untuk melakukan kejahatan.

Untuk mewujudkan tempat memiliki kemampuan menjaga diri sendiri, pertama, ciptakan lingkungan kita memiliki batas teritorial yang jelas, misal masing-masing Rukun Tetangga memiliki batas yang jelas, dan di setiap batas diberi tanda yang memudahkan untuk memantau pergerakan setiap individu baik yang telah dikenal maupun tamu. Kedua, secara alami diciptakan suasana di Rukun Tetangga antar satu warga dengan warga lain atau rumah satu dengan rumah lain saling mengawasi baik secara fisik maupun sosial. Artinya, setiap ada kegiatan yang dicurigai dapat tercegal terlebih dahulu. Misalnya, rumah kontrakan satu ramai pada malam hari, namun di siang hari tenang-tenang saja. Bahkan penghuninya pun kadang tidak terlihat.

Ketiga, bentuk fisik rumah terlihat seolah-olah sebagai pengawas bagi yang melihatnya. Bagi mereka yang tidak memiliki niat jahat, akan merasa aman berdiri di depan rumah seperti itu, namun berbeda bagi mereka yang memiliki niat jahat, mereka merasa terancam atau terawasi. Kita dapat menemukan rumah semacam ini ada di kampung. Dan terakhir, lingkungan fisik dan sosial kuat. Artinya, rumah, jalan, gang dilengkapi penerangan, dan antar sesama warga saling kenal satu sama lain.

Dapatkah kita menciptakan lingkungan yang memiliki kemampuan mengawasi? Jawabannya dapat, akan tetapi tergantung pada kesepakatan dan persetujuan antara warga dengan ketua RT. Jika kita bersatu, maka sesulit apapun ide tersebut, kemungkinan besar dapat terwujud. Namun, kembali lagi intinya bersatu. Meskipun sehebat-hebatnya anggota terorisme berkamuflase, aktivitas mereka akan terkuak.

Ayo berhentilah menghujat. Marilah Satukan Barisan. Antar sesama kita saling bertegur sapa dan saling kenal satu sama lain.

Merdekaaaaaaaaaaa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HIGHLIGHT

Humor Pengantin Antar Negara (Bagian-1) …

Lin Halimah | 7 jam lalu

Solusi Kenaikan BBM …

A. Jauhar Fuad | 7 jam lalu

Mari Menulis… …

Nazarnurdin | 8 jam lalu

Agung Laksono Peduli Peningkatan SDM …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Kurikulum 2013, …

Iefa Waisaleh | 8 jam lalu

Charity “Care to Share” - Aiesec …

Lidya Charolina | 8 jam lalu

Pro Duta, Persikabo & Psis Pertarungan …

Pallas Athena | 8 jam lalu

Kebijakan Yang Tidak Cantik, Tapi Menarik …

Ratusiti | 8 jam lalu

Dunia adalah Halaman Terakhir Doaku …

Abdee As | 8 jam lalu

Menjaga Nyala Api Harapan Rakyat …

Ferlando Jubelito S... | 8 jam lalu

Si Cantik di Pulau Seram - Teluk Sawai …

Elvi Bandanaku | 8 jam lalu

Membumikan Fungsi Ke(polisi)an Dalam …

Muhammad Nasir | 8 jam lalu

Wacana Partai Lokal di Papua: Demokrasi atau …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

Keterbukaan Informasi Publik di Aceh Masih …

Baihaqi | 8 jam lalu

Siapapun Presidennya, Semoga Yang …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: