
Banyak orang yang perlu kita tolong. Segera tolonglah....
Dibaca: 109
Komentar: 0
Nihil
Pekerja Art Mural dan Warga Berpose
Komunitas yang tergabung dalam Orange House Studio (OHS) Surabaya, selama satu minggu kedepan (1-8/5), akan menggelar pameran mural atau yang biasa dikenal lukisan yang menggunakan objek dinding. Pameran yang bertemakan Camp on Kampung Exhibition, Refugees of Future Cities ini, mengambil tempat di tiga perkampungan, Plampitan, Tambak Bayan dan Lemah Putro. Kebetulan dua kampung yaitu Tambak Bayan dan Lemah Putro, saat ini menghadapi sengketa dengan pengusaha.
Tambak Bayan (Tambak Bayan Tengah dan Kepatihan), seperti pernah diberitakan, saat ini bersengketa dengan pengusaha Hotel Vini, Vidi, Vici (V3), Soetiadji Yudho atau Loe Toen Bie. Sedangkan Lemah Putro, bersengketa dengan Hotel Elmi, yang konon melibatkan Hayono Isman, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga dan sekarang anggota DPRRI dari Partai Demokrat.
Pameran desain-seni rupa-arsitektur, kata Kumara Sadana Putra, satu dari penggagas, merupakan hasil penelitian tentang kampung, atas inisiasi, Mr. Kenta Kishi dari Japan of Art. “Struktur pameran ini didesain menyerupai sebuah komplek yang terdiri dari berbagai aktivitas publik yang diadakan selama satu minggu, “ kata dosen muda Universitas Surabaya ini.
Refugees of Future Cities, Kumara mengartikan secara bebas, pengungsi kota masa depan. Dari tema yang diambil ini, dia berharap kota Surabaya akan menjadi sebuah taman hiburan besar yang menarik. Seperti banyak yang sudah diketahui, pembangunan-pembangunan saat ini tidak pernah memikirkan dampak sekitar. “Kita perlu memahami, kota Surabaya kini sedang berada pada titik transisi, diantara beberapa visi ke depan. Satu visi yang jelas yaitu seperti kota-kota didunia. Pengembangan kotanya dicapai dengan cara konvensional. Kami sebut master planning, “jelasnya.
“Nah, biasanya dasar dari methodologi ini dapat disefinisikan sebagai proses erasure and inplant. Perkampungan dan situs kota yang bermasalah biasanya akan digusur, “imbuhnya.
Sementara itu, satu tokoh masyarakat Tambak Bayan Sunggeng Wijaya, mengapresiasi kegiatan ini. Dia berharap kegiatan ini dapat dijadikan sarana lain, untuk mengangkat isu sengketa warga. “Jika tujuannya membela warga, kami atas nama warga, tidak ada masalah. Dan malah lebih baik, “kata Wijaya, panggilan akrabnya.
Dikatakan juga, bahwa kegiatan-kegiatan yang selalu diadakan warga bisa dijadikan sebagai bentuk perlawanan. “Mungkin banyak sisi perlawanan yang bisa kita lakukan, secara hukum, politik, bahkan lewat karya seni seperti ini, “jelasnya.
Selain di Surabaya, proyek pemeran ini akan dilaksanakan di Jakarta, yang akan berlangsung pada Mei 2011 dan Mei tahun depan (2012, red). “Orange House Studio juga berencana untuk membawa proyek ini ke kota-kota di Asia lain. Seperti Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, China, dan sebagainya. Melalui hubungan dan kolaborasi dengan organisasi atau institusi setempat. Pada kesempatan ini, Orange House Studio secara resmi bekerja sama dengan Desain dan Menejemen Produk Universitas Surabaya dan Desain Program Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, “kata Kumara secara rinci [pry]