Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Moriz

anaknya seseorang yang belum jadi "elit", tapi saya akan berusaha jadi "elit"

Nilai IPK ? Bukan Standar Keberhasilan Seseorang

REP | 09 May 2011 | 01:51 Dibaca: 2372   Komentar: 12   0

IPK teman-teman 2,7 ?

IPK teman-teman 3,0 ?

IPK teman-teman 3,5 ?

Bukan hal yang absolut dalam kehidupan kita. Itu hanya sebuah isyarat dari kerja keras kita dalam hal penguasaan akademik di bangku kuliah yang berlangsung dari semester 1-8.

Tetapi, hal yang lebih penting ialah bagaimana cara kita mengaplikasikan hal positif apa yang sudah kita pelajari baik selama di bangku kuliah, keorganisasian, dan sekitar kita agar tindakan yang kita lakukan dapat menunjang segala aspek yang berkaitan dengan jenjang karir kita dimasa depan baik menjadi seorang pegawai, maupun pengusaha.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, sudah tidak asing lagi kita mendengar persyaratan untuk melamar pekerjaan di berbagai instansi maupun perusahaan dengan menargetkan IPK minimal 3.0 atau lebih. Tetapi memang persyaratan itu hanya bisa dicapai dengan mahasiswa/i yang memiliki IPK 3.0 atau lebih. Tapi untuk teman-teman yang tidak mendapatkan IPK lebih dari 3.0 atau lebih, teman-teman janganlah berkecil hati dengan keterbatasan itu. Karena saya yakin, sangat banyak peluang di dunia ini yang dapat teman-teman raih dengan kerja keras dan semangat yang tinggi. Mungkin suatu saat nanti anda bisa membuka usaha sendiri walaupun teman-teman meminjam modal pada orang tua sendiri ataupun pada pihak lainnya untuk membuka usaha yang akan teman-teman gawangi, tapi dengan kerja keras dan semangat yang teman-teman pupuk, saya yakin kelak teman-teman dapat mempekerjakan orang-orang yang mempunyai IPK diatas 3.0 itu.

Untuk contohnya, ada salah satu kerabat saya (kakak tingkat dan sudah lulus), ketika di bangku kuliah beliau dikenal dengan anak yang rajin walau tidak terlalu pintar. tapi beliau tetap semangat dalam mengerjakan segala aktifitasnya. Beliau kuliah di jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan. Ketika lulus kuliah beliau sedikit kecewa dengan nilai IPK yang didapatkannya, hanya 2,85 saja. Dan akhirnya beliau tidak bisa mengikuti tes persyaratan yang dibuka oleh salah satu instansi perbankan. Akhirnya, tawakal menjadi kunci dengan keadaan yang dihadapinya karena semua sudah terjadi. Tetapi dengan keterbatasannya, dan ilmu serta SoftSkill yang diperolehnya selama di bangku kuliah, beliau tidak putus asa dan memilih jalan untuk berwirausaha di bidang pertanian.

Akhirnya setelah 4 bulan beliau mempersiapkan ilmu pertanian yang akan garapnya,  memulai usaha itu dengan dibantu 3 orang karyawannya yang lulusan SMA. Setelah beberapa bulan , usahanya berkembang sangat pesat karena ada proyek yang bernaung dibawah payung instansi pemerintah. Dan akibat dari pesatnya perkembangan usaha yang beliau jalankan, kegiatannya mengharuskan adanya penambahan sumber daya manusia unggul agar usahanya semakin efisien dan lebih tertata dengan baik. Maka  dia pun membuka lowongan pekerjaan dengan syarat lulusan S-1 yang mempunyai IPK 3,0 atau lebih. Dan sampai saat ini usaha beliau sudah mempekerjakan karyawan sebanyak 47 orang dengan rincian, lulusan S-2 ; 2 orang, S-1 ; 10 orang, SMA ; 24 orang, dan SMP ; 11 orang.

Dari cerita singkat diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa nilai bukan segalanya, tapi persyaratan mengikuti tes, segalanya diukur dari nilai terlebih dahulu. Maka untuk teman-teman yang masih di bangku kuliah, raihlah nilai setinggi-tingginya tetapi jangan lupakan softskill dan keterampilan yang harus kita kuasai yang akan memberikan nilai tambah bagi kita dan membedakan kita dari rata-rata mahasiswa/i lainnya.

Namun, apabila kita mempunyai tekad yang baik, semangat juang yang tinggi, berani bekerja lebih keras dari orang lain, serta memiliki ilmu dan softskill yang baik, maka kita jangan gentar terhadap persaingan yang ada di depan mata kita. Segalanya berawal dari kita.

Bukan berarti artikel ini menghalalkan teman-teman untuk tidak memikirkan IPK yang tinggi, tapi dengan hasil IPK berapapun, teman-teman harus memiliki jiwa yang sudah saya sebutkan tadi. Apalagi dengan teman-teman yang sudah dikaruniai nilai IPK yang tinggi.

Intinya, berbuatlah lebih daripada orang lain, belajarlah lebih daripada orang lain, berdoalah lebih daripada orang lain, dan bekerjalah lebih daripada orang lain. Maka anda akan jadi orang yang diperhitungkan oleh orang banyak.

Salam hangat, ditunggu koreksinya ;))

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 7 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 11 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: