Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hatta Syamsuddin

jalan-jalan berbagi inspirasi, penikmat sejarah & kuliner, guru ngaji dan jualan roti di pesisir bengawan selengkapnya

Kuliah Gratis di Jakarta Bertaraf Internasional

REP | 12 May 2011 | 11:52 Dibaca: 1038   Komentar: 2   0

Indonesia sedang gelisah untuk mencetak generasi pemimpin yang cerdas secara intelektual, emosional dan juga spirutual. Tak banyak sekolah yang mampu merealisasikan kebutuhan tersebut. Mahad An-Nuaimy mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mengusung jargon : Mencetak Dai Cerdas dan Profesional. Tak gampang memang, namun sebuah upaya dengan penuh kesungguhan telah dilangkahkan.

Mahad yang terletak di Jl. Seha II No 01 Grogol Selatan, Kebayoran Lama Jakarta Selatan ini, didirikan pada bulan September 2005 ini di atas tanah wakaf seorang dermawan bernama ibu Faisya Hara. Kemudian dibangun dengan sumbangan dari para muhsinin (dermawan) , dan yang paling banyak menyandang kebutuhan operasionalnya dari keluarga besar an-Nuaimy di Qatar.

Ma’had yang mencanangkan Visinya untuk menjadi percontohan (the best typical and prototype) dalam melaksanakan program pengajaran dan pembinaan bagi lembaga pendidikan lain yang serupa di Indonesia , saat ini dipimpin oleh Dr. Taufiqul Azhar, MA. M.Ed yang mendapatkan gelar doktor Ushul Fiqh di Universitas Ummudurman Sudan. Bertindak selaku ketua Dewan Pembina sendiri adalah Dr. Salim Segaf Al-Jufri atau Mentri Sosial RI saat ini.

Bagi Anda yang menginginkan pendidikan syariah dan dakwah dengan kualitas yang mumpuni di negeri ini, atau ingin menebar dakwah dengan memperbanyak calon da’i di nusantara ini, Mahad An-Nuaimy bisa menjadi pilihan  yang sangat layak dipertimbangkan. Setidaknya ada enam hal yang menjadi ciri khusus di Mahad An-Nuaimy yang bisa disebut sebagai keungulan tersendiri.

Pertama : Fasilitas Gedung yang representatif dan strategis, meliputi Ruang Kuliah, Aula Pertemuan, Masjid, Perpustakaan, Laborat Bahasa, dan tentu saja Asrama Mahasiswa agar pembelajaran dan pembentukan karakter berjalan lancar.

Kedua : Biaya Perkuliahan yang gratis termasuk biaya Asrama dan Perpustakaan. Mahasiswa hanya mengeluarkan uang makan bulanan sebesar Rp 300.000,- , dan ada keringanan bahkan pembebasan khusus merekan yang berprestasi

Ketiga : Kurikulum yang lengkap dan terpadu untuk pembekalan ilmu syariah dan dakwah yang cukup menjawab kebutuhan masyarakat. Selama dua tahun menyelesaikan 139 SKS untuk melahap ilmu-ilmu keislaman dari yang dasar hingga pengembangan , seperti : ulumul quran, ulumul hadits, ushul fiqh, qowaid fiqh, dan juga Tsqofah Islamiyah

Keempat : Kegiatan Perkuliahan dan Keseharian wajib menggunakan bahasa Arab. Selain jarang ditemukan di Indonesia, juga merupayakan upaya yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab, yang nantinya sangat penting bagi pemahaman ilmu keislaman.

Kelima : Kegiatan Kemahasiswaan yang beraneka ragam, memenuhi unsur pembentukan karakter dan juga pembekalan sebelum menjadi dai sesungguhnya di masyarakat. Antara lain : Seminar pendidikan, dauroh dan training, halaqoh tahfidzul quran, olahraga, kreasi bahasa dan seni. Secara khusus setiap ramadhan, mahasiswa diminta menyebar di masyarakat untuk ikut aktif mengisi ceramah-ceramah ramadhan di masjid-masjid.

Keenam : Diasuh oleh Dosen lulusan dalam dan luar negri, seperti : Universitas Muhammad Ibnu Suud di Riyadh, Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Umdurman Sudan, Universitas Al-Azhar, dan juga LIPIA Jakarta. Ada bagian khusus Bidang Pembinaan yang digawangi Ustd. Sofwan Abbas, MA, yang bertugas mencetak mahasiswa agar mempunyai kecerdasan spiritual dan emosional yang tinggi, sehingga mampu berbuat banyak dan diterima masyarakat nantinya.

Untuk Info lebih Lanjut, silahkan kunjungi :

http://www.indonesiaoptimis.com/2011/05/mahad-nuaimy-kuliah-syariah-gratis.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 2 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 5 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: