Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dwi Setyaningsih

orang biasa yang sedang belajar mengungkap rasa..

Sertifikasi Dalam Sorotan

REP | 15 May 2011 | 00:03 Dibaca: 123   Komentar: 28   1

“Sertifikasi adalah suatu bentuk penghargaan yang diberikan pemerintah kepada guru yang mampu dan berkompeten” demikian ditekankan oleh Kepala bidang PPTK dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada kegiatan TOT Teaching Clinic Pasca Sertifikasi pada hari Kamis tanggal 12 Mei 2011.

13053778871724479399

Pemberdayaan dan peningkatan mutu guru perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru. Karena ternyata sertifikasi belum mampu meningkatkan mutu kompetensi guru secara signifikan. Dari hasil survey yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan diperoleh hasil yang belum memuaskan, baik segi nilai kompetensi akademik, profesional, maupun pedagogik dan sosial dari guru bersertifikasi.

Selama ini ada salah persepsi yang mengganggap sertifikasi sebagai hak guru. Ada beberapa prinsip yang harus dipahami dari sertifikasi, sebagai berikut:

1. Sertifikasi adalah instrumen peningkatan mutu guru, bukan tujuan akhir guru.

2. Sertifikasi memiliki konsekuensi sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan.

3. Sertifikasi harus disikapi secara profesional, bukan emosional.

4. Adanya kerjasama dari berbagai pihak untuk memajukan pendidikan nasional sebagai hasil akhir dari meningkatnya mutu guru.

5. Pihak terkait dituntut mampu memberikan kontribusi yang positif bagi tercapainya tujuan.

Guru pasca sertifikasi dituntut untuk mengembangkan pengetahuan secara terus menerus. Sehingga akan muncul komitmen bersama dalam mengoptimalkan pembelajaran di sekolah. Sehingga hasil akhirnya adalah peningkatan mutu pendidikan nasional.

Mulai Juli 2011, guru bersertifikasi dituntut memenuhi jam tatap muka yaitu 24 jam per minggu dan mengampu mata pelajaran sesuai yang tertera dalam sertifikat. Di samping itu guru bersertifikasi tidak diperkenankan melakukan team teaching. Ada juga perubahan tentang guru sebagai tutor pada program kesetaraaan (paket A, B, dan C) tidak diperbolehkan sebagai tambahan dalam memenuhi 24 jam tatap muka, padahal dulu diperbolehkan.

———————————

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 7 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 7 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya Dirayu Aguk, Sang Penulis Haji …

Wening Tyas Suminar | 7 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Let’s Moving On …

Tonggo Nababan | 8 jam lalu

Indonesia: Tim Medioker Asia Tenggara …

Agung Buana | 8 jam lalu

Gen Bahasa …

Zakiyatul Muti'... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: