Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bahaya Lisan

REP | 15 May 2011 | 22:45 Dibaca: 701   Komentar: 10   4

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasannya Nabi Saw. Bersabda : “kata-kata yang baik itu adalah shadakah”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam hubungan kita dengan sesama manusia di kehidupan sehari-hari sering kita tidak menyadari adanya bahaya besar dibalik setiap perkataan yang kita katakan. Namun hal tersebut tidak kita sadari, karena berkata-kata apapun isi katanya sering kita anggap sebagai suatu aktivitas yang lumrah dan kita pun lupa, bahwa bagi setiap apa yang kita ucapkan akan dihisab dan berdampak bagi kehidupan kita diakhirat nanti dan menentukan dimana kita akan berada, disurgakah atau dineraka yang menyala?.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata :”Rasululluh Saw. Ditanya tentang perbuatan apakah yang paling banyak memasukan manusia ke surga?”.

Beliau menjawab :” takwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik”.

Dan beliau juga ditanya tentang perbuatan apakah yang paling banyak memasukan seseorang ke dalam neraka?.

Beliau menjawab: “mulut dan kemaluan”.

Apa yang disabdakan oleh Nabi kita, harus kita yakini dengan sungguh-sungguh. Dalam kehidupan di dunia fana pun kita dapat melihat begitu dasyat dampak dari perkataan . Seseorang dapat saling mencederai bahkan sampai saling membunuh akibat saling mengejek dan mengolok-olok. Padahal sudah jelas bagi kita bahwa perkataan yang baik adalah sedekah dan kalau kita tak dapat menahan perkataan, lebih baik diam.

Islam sebagai agama yang sudah dijamin Allah hingga akhir jaman sudah memperingatkan manusia, sejak awal, dimana Allah telah berfirman “janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain” (Qs. Al-Hujurat ll). Terbukti ketika larangan Allah tersebut banyak dilanggar, maka kita kerap melihat banyak pertikaian antar manusia.

Betapa mengerikan, kita menyaksikan berita-berita yang ditayangkan televisi bagaimana seseorang yang masih bertalian saudarapun dapat saling menyakiti dan saling membukakan aib termasuk dalam kaitan hubungan antara ibu dan anak, suami dan istri, antar tetangga bahkan antar suku dan agama yang pada akhirnya memerlukan penyelesaian di pengadilan.

Selain pertikaian, bahaya lisan yang terjadi dapat membuat seseorang terlena untuk tetap berlaku dalam kemaksiatan, karena orang-orang yang berada disekelilingnya selalu melemparkan sanjungan yang membuaikan dan pembenaran bagi setiap kelakuannya. Sehingga menutup mata orang yang disanjungnya dari kekeliruan yang tengah diperbuat. Hal ini kerap dilakukan oleh orang-orang yang bermuka dua. Mereka menjual lisannya untuk kesenangna dunia yang sesaat tanpa menghiraukan hisab panjang pada hari akhir nanti.

Sebenarnya bagi umat islam, hal ini tidak perlu terjadi andai saja kita berpegang teguh pada ajaran agama, bahwa setiap apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan akan mendapat hisab dan balasan yang setimpal. Dan kita harus ainul yakin bahwa surga dan neraka itu hal yang nyata. Mengapa kita tidak jadikan surga sebagai tujuan ? dan bukankah seorang muslim yang baik adalah orang yang tidak suka menggagu orang lain dengan lisan dan tangannya.

Dalam hadist lain dikatakan bahwa “tak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak bisa tentram atas kejahatannya”.

Dari banyaknya bahaya yang dapat ditimbulkan dari lisan kita, maka wajib bagi kita untuk memelihara mulut kita. Sebab, diantara anggota badan dan pancaindera kita, mulutlah yang paling usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan.

Kita menyadari bahwa kita seringkali mampu menahan haus dan dahaga pada saat terik matahari, tetapi sangat sulit bagi kita untuk meninggalkan berkata-kata yang tidak perlu meskipun hanya untuk beberapa jam saja. Andai saja perkataan kita baik tentu akan menambah pahala shodakoh tetapi kalau perkataan kita buruk tentunya menambah dosa.

Untuk itu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari kita diantaranya dengan cara :

1. jangan bicara untuk hal yang tidak berfaedah, karena bila kita bicara untuk hal yang tidak bermanfaat, maka kita telah menyia-nyiakan waktu. Seandainya waktu itu kita gunakan untuk menyebut nama Allah, berfikir atau diam itu adalah lebih baik

2. tidak banyak bersenda gurau karena bersenda gurau dapat mematikan hati dari mengingat Allah.

3. jangan suka mengejek atau memperolok-olok orang lain karena kita tidak mengetahui kemulyaan seseorang disisi Allah

4. tidak menyebarkan rahasia, rahasia seseorang adalah amanat untuk kita jaga kecuali Allah akan membukakan aib kita pada hari akhir nanti bila kita gemar membuka aib orang lain

5. tidak melanggar janji dan berdusta karena itu termasuk pada hal ciri orang munafik

6. jangan menggunjingkan orang lain (ghibah) karena Allah berfirman “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Qs. Al-Hujurat:12)

7. jangan melakukan pujian kepada seseorang secara berlebihan karena pujian yang berlebihan dapat menyebabkan dusta dan riya’

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 8 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 16 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 17 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: