Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Diah Chamidiyah

masih harus banyak belajar

Desa Kajen, Ada Apa denganmu Kini?

REP | 15 May 2011 | 15:15 Dibaca: 431   Komentar: 31   4

(dahulu, suasana begini yang berkembang di desa Kajen. pic: Bing)

Sebelum berkembang menjadi desa dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang sangat pesat, desa Kajen merupakan desa yang dihuni oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Bertahun-tahun yang lalu, aku sering berziarah ke makam desa Kajen, karena ada makam ulama yang sangat kharismatik, yaitu KH. Ahmad Mutamakkin, yang sering diziarahi oleh para pejabat baik pejabat pusat maupun pejabat daerah, bahkan presiden ke empat RI,yaitu KH. Abdurrahman Wahid, setelah selesai dilantik menjadi presiden pergi berziarah ke makam tersebut.

Desa Kajen sangat aku kagumi karena keberadaannya sebagai desa yang memegang teguh ajaran Agama Islam, dengan keberadaan puluhan podok pesantren, sehingga terkenal dengan sebutan kota santri, yang diramaikan dengan kegiatan mencari ilmu dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Apalagi jika hari kamis malam jum’at, dapat dipastikan setiap pondok dan surau yang ada disetiap RT pasti akan ramai oleh berbagai macam pengajian, dari membaca Asma’ul Husna (nama-nama Allah yang indah) juga hafalan Al-Qur’an yan dibaca secara tartil (pelan). Suasana desa Kajen menjadi sejuk dan damai. Tak hanya anak-anak dan remaja yang belajar di Desa Kajen, bahkan para orang tua juga ikut nyantri di desa Kajen. Bukan sebagai santri yang tinggal di Pondok pesantren, tapi santri yang setelah belajar pulang kembali ke rumahnya, dalam istilah pesantren disebut santri kalong (mirip hewan kalong, yang pulang pada pagi hari).

Masih terngiang di telingaku alunan lagu dari Nasyidaria (sebuah kelompok nasyid yang terdiri dari beberapa santriwati dari kota Semarang) yang menggambarkan tentang suasana di kota santri yang asyik dan menyenangkan hati. Aku sendiri tidak begitu mengetahui, apakah lagu itu menggambarkan desa Kajen atau daerah lain, yang jelas keadaan desa Kajen saat itu persis seperti lantunan lagu Nasyidaria itu. Lagu yang juga dipopulerkan kembali oleh duet Anang dan Syahrini dengan judul yang sama “Kota Santri”. Ini syair dari lagu tersebut:

Suasana Di Kota Santri
Asik Senangkan Hati
Suasana Di Kota Santri
Asik Senangkan Hati

Chorus:
Tiap Pagi Dan Sore Hari
Muda Mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji”

Setelah sekian tahun, keadaan Kajen sebagai kota santri tetap tidak berubah. Akan tetapi, suasana yang digambarkan dalam alunan lagu Nasyidaria sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh kemajuan jaman dan teknologi. Betapa tidak, Kebiasaan santri yang setiap malam disibukkan dengan halaqah-halaqah (kelompok) pengajian, kini mulai tergeser dengan “mengaji” di depan monitor alias mantengin internet dan Play Station (PS). Tumbuh dan berkembang puluhan warung-warung internet dan games (PS) di desa Kajen berimbas pada kegiatan santri yang sekarang lebih menyukai berlama-lama di depan layar monitor daripada membaca kitab kuning, yang merupakan sumber ilmu dari ulama’ salaf (kuno). Hampir setiap sudut desa Kajen yang tak begitu luas ini bertebaran warnet-warnet yang buka hingga 24 jam non stop. Sehingga dalam salah satu blog, pernah aku baca slogan baru bagi desa Kajen yakni “Kampung Warnet”. Duh….

Pernah suatu waktu, aku membutuhkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) untuk sebuah keperluan. Untuk mendapatkan NUPTK tersebut, harus melalui jaringan internet. Dan hasilnya, aku harus kecewa karena seluruh warnet yang ada di desa Kajen semua penuh dengan pelanggan yang kebanyakan para santri. Entahlah, apakah mereka memang mendapat tugas dari sekolah formalnya untuk mencari bahan pelajaran melalui internet ataukah untuk bersenang-senang saja?

(kondisi di depan Makam KH. Mutamakkin yang lebih mirip pasar. Pic: pinjam Ali Mustahib Eliyas)

Kemajuan teknologi yang mestinya tepat guna, ternyata bagaikan pisau bermata dua, dan dapat menjadi boomerang yang bisa mengancam akhlak para santri. Diakui atau tidak, keberadaan warung-warung internet yang sangat menjaga kenyamanan pengunjung dengan ruang ber AC serta tertutup sangat rapat dapat memicu tindak pornografi dan pengguna internet dapat mengakses situs porno dengan leluasa. Apalagi ditambah dengan tidak adanya software antipornografi yang terinstal di PC masing-masing warnet, serta tidak adanya kontrol dari pihak yang berwenang, sangat berbahaya bagi keberlangsungan akhlak para santri.

Telah banyak akibat negatif dari kemajuan tehnologi satu ini. Para pakar dan pengamat informatika sendiri mengamini bahwa banyaknya penculikan, pelecehan seksual di kalangan remaja merupakan salah satu dampak negatif dari tehnologi ini. Sebelum virus pornografi menyebar di kalangan santri, peran orang tua, guru, ustad, kyai dan para pengelola warung-warung internet sangat dibutuhkan untuk meminimalisasi dampak negatif tersebut. Jangan sampai desa Kajen yang mendapat julukan sebagai kota santri, yang dulu sangat aku kagumi, kini hanya tinggal slogan saja.

1305428136818882778

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 14 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 18 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 20 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: