Kompasiana
Kamis, 23 Pebruari 2012

Edukasi

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Sari Oktafiana

Seorang perempuan dan ibu dari seorang putri dan putra kembar. Dan seorang guru yang berjuang pada sebuah sekolah untuk bisa mewujudkan sebuah sekolah yang progressif.

Dan Aku Pun Sayang…

OPINI | 16 May 2011 | 18:31 146 0 Nihil

13055453061218560441

Getting closer…hari berpisah dengan murid-muridku semakin mendekati..apa yang terjadi dalam relasi belajar mengajar kami? Dalam sebuah lingkungan, habitat yang bernama sekolah terdapat banyak sekali komponen-komponennya…mulai yang software berupa kurikulum, system pengajaran-belajar, aturan sekolah, peraturan pendidikan, metode belajar-mengajar, topic dan lain sebagainya..lalu yang bersifat hardware yaitu pelaku yang terdapat di lingkungan sekolah yaitu guru, murid, cleaning service, security, mbak-mas yang di bagian tata usaha…semuanya adalah unsur-unsur yang terlibat dalam kehidupan di sekolah.

Sebuah pepatah kuno sejak jaman Yunani..NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS..kita belajar bukan hanya untuk nilai yang berupa angka-angka semata untuk sekolah..tetapi kita belajar untuk hidup, dan nilai-nilai kehidupan dalam arti yang lebih luas…bila kita melihat dalam konteks yang lebih luas..semua warga yang menjadi komunitas dan bagian sekolah sangat berarti, bermakna, saling membutuhkan satu sama lainnya dan tentunya saling melengkapi.

Seperti yang terjadi dalam relasi hubungan guru-murid. Dalam konteks pembelajaran guru dan murid sama-sama saling belajar, perlu kooperatif, agar masing-masing nyaman untuk belajar dan mengajar.

Saya menikmati dengan profesi sebagai guru. Beberapa kali akan mengundurkan diri beralih profesi yang tentunya dengan apresiasi yang lebih menjanjikan rupanya tak mampu memalingkan wajahku dari murid, mengajar, kelas, lesson plan…I love teaching!

Dan bahkan mengamini, menjiwai kalimat sakti dari Nelson Mandela bahwa Education is the best weapon to change the world…Banyak orang bicara tentang perubahan, banyak orang omong lantang tentang reformasi, revolusi, tapi sudahkan mereka bertindak?? Saya pun tak tahu karena ukuran dari aksi juga sangat relative. Biarlah itu menjadi refleksi bagi pribadi masing-masing yang selalu bicara tentang perubahan, reformasi dan revolusi…

Ada banyak cara orang untuk melakukan sesuatu, ada seribu strategi dan bahkan lebih orang gunakan untuk melakukan Sesutu mewujudkan tujuan. Tapi ya begitulah..idealisme itu ada dikepala tetapi tidak dalam realitas..sehingga selalu berjarak antara idealisme dan realitas. Tetapi dengan menjadi guru, kita punya kesempatan untuk bisa membuat perubahan walo mungkin itu kecil. Di kelas adalah sebuah aksi nyata untuk membuat perubahan akan pikiran, tindakan dan aksi berikutnya. Dengan mengajar guru bisa “mewarnai” seperti apakah “warna” dunia nanti.

1305545429712834017

Menjadi guru bagi orang lain mungkin bukan profesi yang menjanjikan dunia materi..tetapi bagi mereka yang pernah menjadi dan menjadi guru akan memahami mengapa setia dan mungkin keblinger memilih profesi menjadi guru..karena dunia immateri guru adalah luar biasa.

Apanya yang luar biasa? Keindahan apa yang membuat aku, mungkin juga guru lainnya tidak beranjak pada profesi lainnya? Keindahan dan kepuasan itu adalah

1. Sebuah kebahagiaan setiap hari melihat generasi muda yang bersemangat dan punya potensi, sebuah pepatah dari film Kungfu Panda..each generation will teach next generation.

2. Sebuah kebahagiaan, kepuasan dan kebermaknaan bahwa kita telah menjadi jembatan bagi para generasi muda untuk belajar dan mengantarkan mereka meraih cita-citanya. Dan menjadi perasaan bahagia, terharu bila kita melihat anak didik kita lulus ujian dan wisuda.

3. Rasa yang terharu bila setiap hari murid-murid menyapa kita dengan dengan selamat pagi pak, bu! Hari ini kita akan belajar apa? Dan tentunya setelah kita mengajar, memfasilitasi anak didik kita, bila kita melihat rona wajah yang dulunya tidak bisa, tidak tahu, akhirnya..mengatakan oooo…aku tahu, aku paham!

4. Sejuta rasa untuk mengungkapkan bagaimana keindahan di dalam kelas dan di sekolah. Kita bukan bekerja didepan computer, mesin-mesin saja..tetapi medan-nya adalah murid yaitu anak didik kita dengan berbagai macam karakter, sifat, potensi dan keunikannya masing-masing…

Aaah closer and getting closer..the farewell day will be come….dan aku pun sayang dengan murid-muridku..telah berinteraksi dengan mereka selama 4 tahun..murid datang dan pergi..mengantarkan mereka hingga lulus.,mengajar mereka hampir tiap hari, bertemu mereka hampir tiap hari, sekolah sebagai second home, di sekolah sebagai orang tua mereka kedua.

Rasanya sulit untuk berpisah dan mengucapkan selamat tinggal…masih terdapat dalam ingatan berbagai model murid-murid,..yang bandel, yang lucu, yang aneh, yang rajin, yang mengagumkan, yang pemalu, yang cerewet, yang suka terlambat, yang sering terlambat mengumpulkan tugas, yang kadang berusaha nyontek ketika ulangan, yang berusaha tricky dengan guru-nya, yang kadang suka berpura-pura, yang kadang bête dan tertidur bila diajar….semua ada dan komplet.

Rasanya berat dihari-hari yang semakin mendekati untuk berpisah dan beranjak ke tempat baru..tak tega setiap mereka mengatakan..don’t leave miss..we will be nice..don”t leave us! Wait us until graduate…

Ooh..this is only the diary of teacher..that hard to leave her students.

Best regards to all my lovely students,

Sari

sumber gambar:

http://media.vivanews.com/images/2009/01/05/62320_jam_masuk_sekolah.jpg

http://images.merajutkeinsyafan.multiply.com


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012