Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Syukron Maksum

saya senang menulis, apa saja. alhamdulillah sudah 50-an buku sudah saya hasilkan, alhamdulillah pula impian saya selengkapnya

Agar Matematika Disukai Siswa

OPINI | 18 May 2011 | 14:21 Dibaca: 403   Komentar: 3   0

Seorang tokoh spiritual negeri ini pernah berpetuah, “Jadilah guru seutuhnya. Tak cukup hanya mengajar dan selesailah tugasnya. Guru sebenarnya adalah guru yang muridnya senantiasa berada dalam ingatan dan pikirannya, hadir dalam doanya dan terkenang selalu serta merasa ikut bertanggungjawab atas nasib murid-muridnya.”

Totalitas dan Keikhlasan

Totalitas dan keikhlasan, inilah kata kunci yang melandasi pernyataan Tuan Guru di atas. Jika dua prinsip itu telah hadir dalam jiwa seorang guru, maka masa depan pendidikan negeri ini tentu akan lebih baik. Tak menjadi masalah bagi siswa akan kondisi sekolah, pendidikan guru, fasilitas yang ada, bahkan mata pelajaran sesulit apapun tak menjadi soal, misalnya mata pelajaran matematika yang selama ini selalu menjadi momok bagi kebanyakan siswa.

Jika bicara tentang matematika, saking mengerikannya, ada yang menganalogikan guru matematika dengan lima landasan dalam hukum Islam, sehingga menjadi lima kategori guru matematika. Pertama, guru wajib, yakni guru yang kehadirannya sangat dirindu dan dibutuhkan siswa, dan ketiadaannya membuat mereka kehilangan. Ini adalah profil guru matematika yang kompeten dalam mengajar, memberikan seluruh kemampuan dan kasih sayangnya dalam mentransfer ilmu, dan melengkapi perangkat serta administrasi pembelajarannya sesuai standar pendidikan, sehingga pengajarannya berlangsung efektif dan menyenangkan. Tipe guru ini berjuang tanpa pamrih, selalu melakukan inovasi pembelajaran yang membuat belajar matematika terasa menyenangkan, dan satu-satunya impiannya adalah melihat siswanya berhasil dan memberi manfaat bagi masyarakat. Inilah tipe guru matematika harapan.

Kategori kedua adalah guru sunnah, yakni guru matematika yang kehadirannya diharapkan para siswa, namun saat ia tidak ada tak berpengaruh apapun bagi siswa. Guru ini memang bagus dalam mengajar, memenuhi standar dalam pembelajaran dan perangkat administrasinya, namun kurang keikhlasannya dalam mentransfer ilmu, sehingga jika ada sedikit saja hambatan dan rintangan, baik itu dalam proses pembelajaran ataupun dalam keluarga dan lingkungannya, ia dengan gampangnya meninggalkan kewajibannya sebagai seorang guru. Hal inipun memberikan image negatif bagi siswa, sehingga lama-lama merasa tak terlalu merasakan ikatan batin yang kuat dengan sang guru matematika. Ada juga kategori guru mubah, yakni guru matematika yang ada atau tidaknya sama saja bagi siswa. Guru ini tak berpengaruh apapun pada siswa, apakah dia mau hadir untuk mengajar atau tidak, tak seorang siswa pun menanyakannya. Mengapa demikian? Karena ia mengajar ala kadarnya saja, sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang guru. Bahkan ia juga tak terlalu peduli apakah siswa memahami atau tidak materi yang ia ajarkan. Baginya yang penting ia hadir dan mengisi daftar hadir sehingga tak mendapat teguran dari kepala sekolah ataupun pengawas.

Adalagi yang menyedihkan, yakni guru makruh, dimana kehadirannya sangat tidak diharapkan siswanya, tapi jika tidak ada juga tidak memberi pengaruh apapun bagi siswa. Guru matematika tipe ini mengajar dengan seenaknya saja, kadang masuk kadang tidak, dan mengajar dengan cara-cara lama yang tidak kreatif dan membosankan. Ia tidak disukai oleh siswa, dan jika tidak hadir tak seorang pun yang menanyakan keberadaannya. Dan yang paling menyedihkan adalah guru haram, yakni guru matematika yang kedatangannya ke sekolah untuk mengajar menjadi momok dan tak diharapkan siswa, dan jika ia tidak hadir, bahagialah seluruh siswa di kelasnya. Ia tak Cuma mengajar dengan seenaknya, tapi jika menerapkan hukuman yang tidak proporsional bagi siswa yang tak bisa mengikuti pelajarannya. Ia akan marah besar jika melihat anak didiknya tidak bisa mengerjakan soal yang ia anggap mudah, dan menyebut mereka bodoh. Ini adalah tipe guru yang paling tidak layak untuk ditiru dan membuat siswa sangat membenci matematika, bahkan kadang-kadang kebencian siswa berlanjut meskipun bukan guru itu lagi yang mengajar matematika.

Jadi, tampaknya tipe guru wajib-lah yang bisa memberikan angin segar bagi pembelajaran matematika yang menyenangkan dan nyaman dipelajari siswa. Guru wajib berusaha membuat matematika menjadi sebuah pelajaran yang asyik, penuh tantangan dan tak membuat jera, justru menjadikan siswa ketagihan. Guru wajib memenuhi segala kriteria yang ditetapkan pemerintah dalam Standar Pendidikan yang telah ditetapkan, dan juga memenuhi keinginan siswa yang menginginkan sebuah pembelajaran yang tidak membosankan, tapi justru menimbulkan rasa ingin tahu dan petualangan pengetahuan yang seakan tak berujung. Itulah guru idaman, itulah totalitas.

Totalitas itu akan semakin sempurna dengan dilengkapi keikhlasan. Ya, keikhlasan menumbuhkan efek positif bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran, melakukan proses hingga evaluasi akhir sebuah pembelajaran matematika. Guru akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam mengajar, dan energi positif ini menyebar hingga merasuk ke relung jiwa siswa. Tak hanya di kelas, ketika akhir pelajaran dan kembali ke rumah, asas keikhlasan yang hadir dalam diri guru menumbuhkan kepedulian akan siswanya dalam kondisi yang tanpa batas, sehingga guru tetap memikirkan keadaan siswa dimanapun dan kapanpun. Saat shalat pun siswanya hadir dalam doa, dan saat bertemu di jalan sekalipun, anak didiknya itu tak pelak ikut mendapat curahan kasih sayang dan perhatian, termasuk menjaga dan mewanti-wanti murid-muridnya dari efek pergaulan bebas yang berdampak negatif. Pendek kata, tipe guru ini memasukkan siswanya dalam tataran insan yang harus ia perhatikan dan cintai, seperti ia mencintai keluarga, Rasul dan Tuhannya. Inilah kriteria guru wajib nan diidam-idamkan akan menciptakan generasi unggul penerus bangsa.

Belajar Sepanjang Masa

Berani mengajar berarti harus siap untuk senantiasa belajar. Pesan bijak ini patut menjadi perhatian para guru matematika, sebab sebagaimana ilmu pengetahuan lain, matematika senantiasa berkembang dan metode pembelajaran juga mau tidak mau harus senantiasa bergerak aktif dan inovatif jika tak ingin membuat siswa menjadi benci pada matematika. Kini kita telah memasuki era millenium, dimana teknologi kian menarik dan memanjakan, dan mau tidak mau suatu pembelajaran ilmu juga harus bisa menyaingi menariknya segala bentuk kesenangan dan keasyikan yang diciptakan teknologi. Untuk itulah, para guru matematika dituntut untuk senantiasa meluaskan wawasan dan ilmunya, dalam rangka memberikan bimbingan maksimal untuk siswanya.

Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan para guru dalam upaya meningkatkan kompetensinya. Pertama, latar belakang pendidikan keguruan matematika. Meskipun ini tidak mutlak, namun dengan landasan pendidikan matematika yang kuat, guru akan lebih memiliki pondasi kokoh dalam melaksanakan pembelajaran matematika di kelas. Namun jika hal ini tak dapat dipenuhi, guru dapat menyiasatinya dengan berusaha senantiasa belajar, seperti upaya-upaya yang akan kami kemukakan berikutnya. Kedua, guru dapat terus belajar melalui buku-buku matematika terbaru, baik tentang pendalaman materi matematika maupun pada teori pembelajarannya. Selain itu guru dapat menelusurinya dengan memanfaatkan teknologi internet, dimana model-model pembelajaran terbaru senantiada ada dan disebarluaskan di dunia maya.

Ketiga, guru dapat memaksimalkan peran MGMP dalam rangka bertukar pikiran dan pengalaman dengan guru dari sekolah lain. Apalagi MGMP merupakan kumpulan guru dalam lingkup daerah, sehingga barangkali persoalannya tidak jauh berbeda antar guru, sehingga dapat dicarikan solusi secara bersama-sama. Dan yang keempat, guru dapat berperan aktif mengikuti diklat-diklat pembelajaran matematika, apalagi sekarang pemerintah sedang giat-giatnya melaksanakan program peningkatan mutu guru-guru, termasuk di dalamnya guru matematika, dalam program diklat yang dilaksanakan secara lokal maupun nasional.

Yakinlah, bahwa usaha kita untuk mendidik dan memberikan yang terbaik untuk siswa tidaklah akan sia-sia. Jangan khawatir akan masa depan guru jika kita harus berjuang mati-matian untuk membuat siswa menyukai matematika. Kini nasib guru bukanlah seperti Guru Umar Bakri dalam syair lagu Iwan Fals, tapi pemerintah dari tahun ke tahun memiliki iktikad baik untuk terus berusaha memberikan kesejahteraan yang layak melalui berbagai program. Dan yang lebih penting, usaha kita dalam totalitas dan keikhlasan mengajar matematika, akan mewujudkan impian kita-seperti lagu Mars PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia)- agar siswa menyenangi matematika. Saat itulah semua orang akan angkat topi pada guru matematika, terutama para siswa.*

*Dimuat di Jambi Ekspres edisi Rabu, 18 Mei 2011 dengan judul ‘Guru Matematika Sepenuh ‘.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: