Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ajeng Kania

Guru di SD yang sedang asyik menemani bayi mungilnya

Nilai “Human Interest” Sebuah Postingan

OPINI | 25 May 2011 | 21:23 Dibaca: 948   Komentar: 8   4

Kegiatan menulis yang isinya sesuatu lumrah terjadi  dan datar-datar saja hanya akan menjadi postingan biasa saja.   Tetapi isi tulisan bila aktual, tajam dan mencakup serta  orisinil yang idenya langka biasanya akan menyedot rasa kepenasaran khalayak untuk terus  mengikutinya.

Begitu pun tulisan  memiliki muatan human interest,  meskipun awalnya tulisan ini awalnya  biasa-biasa saja akan  mampu mengobati kerinduan dan menghibur khalayak untuk terus  mengikuti kelanjutan ceritanya.   Definisi human interest ini berbeda-beda, namun pada umumnya terkandung “unsur yang menarik empati, simpati atau menggugah perasaan” khalayak .

Khalayak akan menantikan postingan atau tulisan berisi hal-hal ketidaklaziman (unusualness), kejadian tidak biasa atau sesuatu yang aneh  akan memiliki daya tarik kuat untuk dibaca.  Kisah tukang rongsok mendapatkan sebatang emas terkubur di tumpukan sampah mendadak kaya raya tentu membuat rasa kepenasaran untuk terus menantikan kisah seterusnya, atau Briptu Norman Kamaru yang awalnya polisi biasa saja tiba-tiba masuk dapur rekaman dan dikontrak sejumlah produser acara di Jakarta memberi gairah untuk terus mengikuti perkembangan anggota Brimob ini.

Begitu juga postingan atau tulisan yang memiliki unsur ketegangan (suspense), seperti publik dibuat kepenasaran habis menantikan tanggal 26 Mei 2011 di mana Kompasiana dan Telkomsel akan menggelar ngeblog seharian, seperti apa bentuknya,  tayangan atau sistemnya memungkinkan, membuat para kompasianer rela mengurangi jam tidurnya.    Masyarakat Indonesia dibuat tegang menunggu keputusan rapat FIFA akhir Mei ini perihal ada tidaknya sanksi buat Indonesia akibat kisruhnya Kongres PSSI lalu, sehingga setiap berita tentang Keputusan FIFA berkaitan Kongres PSSI lalu senantiasa ditunggu pembaca.

Tulisan mengandung human interest lainnya menyedot perhatian publik yakni simpati (sympathy).  Seorang ibu meratapi jasad anaknya yang meninggl karena penyakit kronis dideritanya bertahun-tahun tanpa bisa mengobatinya ke Puskesmas sekalipun,  akibat derita kemiskinan yang membelit  akan menarik simpati dan empati khalayak yang membacanya.  Begitu pun korban ketidakadilan menimpa seorang guru jujur, berdedikasi dan berprestasi serta memiliki motivasi kuat dalam memajukan pendidikan, tiba-tiba dimutasi ke lokasi terpencil dengan itikad menghukum dirinya yang tidak mau bersekongkol meluluskan semua siswanya.

Begitu pun yang postingan mengandung unsur konflik (conflift), seperti perkembangan aktual sindir-sampir Bang  Ruhut vs Pak Mahfud MD  atau Kelompok 78 vs KN menyita khalayak untuk terus mengikuti perkembangan berita berikutnya, sehingga postingan yang seperti ini sering bertengger di HL Kompasiana.

Postingan bermuatan “human interest”,  ada atau tidak muatan beritanya, tetapi memberikan  hiburan, manfaat dan pencerahan  bagi khalayak merupakan salah satu postingan yang dirindukan khalayak pembaca. ****

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: