Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Adi Supriadi

Writer, Trainer & Public Speaker. Working as HR & GA Manager Di Perusahaan Penanaman Modal selengkapnya

Berkorban adalah Kebutuhan Kita

OPINI | 27 May 2011 | 00:17 Dibaca: 122   Komentar: 3   0

13064553001657772208

Berkorban Adalah Kebutuhan Kita

Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama lbrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu” la menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang dipertintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (OS, Ash-Shaaffaat:102)

Begitulah hendaknya kesigapan kita ketika melihat kesempatan berkorban. itu perlu kita lakukan sekarang ini untuk menghadapi masa depan. Seperti halnya sejarah mencatat para Nabi, Rasul dan salafushalih. Mereka melakukan pengorbanan yang luar biasa hingga kehidupan dan akhir kehidupan mereka menjadi gemilang. Kemenangan dan kejayaan umat islam bahkan kemerdekaan tanah air kita tegak dari pengorbanan.

Pengorbanan bertemu dengan rasa tanggung jawab terhadap dakwah, keberanian dan kesabaran. Dorongannya adalah semangat berdakwah untuk membawa manusia dan kehidupan menjadi lebih baik. Hakikat dan tabiat perilaku geraknya adalah pengorbanan. Perisainya adalah keberanian jiwa menghadapi berbagai rintangan. Dan nafas panjangnya adalah kesabaran.

Inilah yang melahirkan manusia-manusia yang memiliki masa depan. Karena padanya berjuta manfaat dari selangit solusi. Apapun masalahnya buat dia selesai. Seperti yang Rasul sampaikan sebagai sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.

Masa depan hanya dimiliki oleh mereka yang telah membelinya dengan pengorbanan Kita membutuhkan pengorbahan itu untuk masa depan kita, kita sendir Bukan orang lain.

Saat ini kehidupan manusia telah dihanyut ombak nafsu yang menghancurkan fitrahnya. Semua telah rusak oleh kerakusan manusia. Sehingga dihadapan terbentang kesempatan berkorban. Inilah saatnya kita memulai bersama. Dan iringilah semua pengorbanan dengan do’a, harapan yang bermakna; tempatkan ya Tuhanku di singgasana terindah di syurga dengan para syuhada.
Bandung , 27 Mei 2011

Artikel ini diambil dari Buku B A Smart Worker , Penulis : Adi Supriadi, 2007

Untuk Kompasiana Semua, Semoga Bermanfaat

Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi)


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 7 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Jokowi Tak Pernah Janji Rampingkan Kabinet …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Persembahan untukmu Gus…. …

Puji Anto | 8 jam lalu

Omne Trium Perfectum dan Tri-PAR …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Saat R-25 Menjawab Hasrat Pria …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Sombong Kali Kau …

Ian Ninda | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: