Artikel

Edukasi

Bias di Kelas Itu Biasa


OPINI | 27 May 2011 | 08:05 Dibaca: 146   Komentar: 8   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Reproduksi pengetahuan yang disampaikan melalui proses komunikasi dapat menimbulkan kesalahan “turun-temurun”. Ilmu mungkin tidak dapat ditangkap seutuhnya oleh penerima ilmu, malah bisa hanya diterima sepotong-sepotong. Bahkan, “sepotong roti”- menurut makna dari si pengirim pesan, bisa menjadi “sebutir telur” di memori penerima pesan. Itu bisa terjadi karena komunikasi yang tidak “nyambung”, seperti dialog fiktif pada saat kuliah perbankan berikut.

Dosen          : “Apakah kalian tahu tentang Basel I dan Basel II ?”
Mahasiswa  : “Kota di Swiss Pak”
Dosen          : “Bagus ! Memang berawal dari situ. Apa lagi ?”
Mahasiswa  : “Kurniawan D.Y. pernah tinggal di sana Pak”
Dosen          : “Siapa tuh? Seorang ahli tentang Basel ya?”
Mahasiswa  : “Iya pak, Dia main di FC Lucerne”
Dosen          : “Lho kok? Saya kan mau bahas peraturan !”
Mahasiswa  : “Iya, Dia pasti tahu peraturan biar gak dihukum”
Dosen          : “Oh, memang kita akan membahas regulasi Basel kok”
Mahasiswa  : “Asyiiikkkkkk, tumben bapak bahas peraturan sepak bola”
Dosen          : “Diam semua ! Nanti buka www.bi.go.id, besok presentasi !”
Mahasiswa  : ???????????


Perkuliahan di kelas merupakan contoh proses komunikasi, bisa berupa monolog atau dialog antara dosen dan mahasiswa. Minimal ada tiga komponen yang terlibat, yaitu pemberi pesan, media komunikasi, dan penerima pesan. Proses belajar-mengajar di kelas dapat berupa proses komunikasi satu arah- dalam pandangan ini, dosen menjejali pemikiran mahasiswa dengan segala hal yang diketahuinya- padahal, interaksi antara dosen dan mahasiswa bisa juga bolak-balik. Komunikasi searah menempatkan dosen sebagai “yang serba tahu” sedangkan mahasiswa yang “serba tidak tahu”. Dominasi proses komunikasi tersebut bisa berujung pada tirani pemikiran yang dapat mencederai otonomi keilmuan. Bukankah mahasiswa juga merupakan bagian dari civitas academika yang mempunyai hak terhadap otonomi keilmuan tersebut?

Dosen dan mahasiswa bisa melakukan proses komunikasi timbal balik. Dosen dan mahasiswa bisa bergantian sebagai pemberi dan penerima pesan. Memang ada juga yang berpendapat bahwa tidak semua mahasiswa aktif, mereka lebih banyak diam atau apatis. Kondisi tersebut seharusnya menjadi tantangan untuk para dosen agar bisa memberikan “rangsangan” sehingga mahasiswa bisa lebih “bergairah” di kelas. Tidak ada salahnya dosen selalu berinovasi atau berkreasi dalam mengembangkan teknik mengajar. Jika berbagai upaya telah dilakukan namun tetap gagal sehingga komunikasinya hanya searah, akhirnya perkuliahan tidak ada bedanya dengan monolog atau pidato. Namun, teknik mengajar konvensional dan terkesan kuno tersebut jangan dianggap remeh. Metode paparan tersebut mungkin saja berhasil diterapkan dalam  proses transfer pengetahuan dari dosen ke mahasiswa, dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode inovatif lainnya. Namun kekuatannya sangat tergantung pada daya tarik dosen, termasuk kemampuannya dalam mengolah bahasa, serta kondisi atau kesiapan mahasiswanya- dalam hal ini, bukankah kita relatif sulit untuk menjaga konsentrasi penuh jika hanya mendengar saja?

Proses transformasi atau transfer pengetahuan dari benak dosen ke memori mahasiswa tidaklah mudah.  Ada beberapa jenis bias atau distorsi informasi yang mungkin terjadi pada proses komunikasi di kelas, tiga di antaranya dipaparkan di sini. Tiga bias tersebut relatif sering terjadi di kelas. Jika bias itu dianggap biasa, maka bukan hal yang tidak mungkin bias tersebut malah menjadi “bisa” atau racun dalam upaya penyebaran ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Pertama, bias di kepala dosen itu sendiri. Sebagai manusia pembelajar, Dosen pun memperoleh pengetahuan dari proses pembelajaran yang sudah dilakukannya. Seperti halnya mahasiswa, dosen pun seharusnya tetap belajar dan mengembangkan diri secara rutin. Ini bisa dilakukan melalui studi lanjut, pelatihan, atau- untuk dosen yang tergolong minimalis- cukup “browsing” sebentar di internet, setelah itu baru menyampaikannya kembali ke mahasiswa. Bukankah ada yang berpendapat bahwa perbedaan antara dosen dan mahasiswa itu hanyalah soal waktu saja. Dosen itu lebih dahulu belajar dibandingkan mahasiswa. Persoalannya tidak terletak di situ, bukan soal siapa yang lebih dahulu belajar.

Apakah ilmu pengetahuan yang mengisi memori di kepala dosen itu sudah ajeg seperti yang dimaksud oleh penemu ilmunya? Dosen itu pada hakikatnya hanya mereproduksi ilmu yang telah terekonstruksi di kepalanya. Adakah jaminan bahwa dosen itu selalu berkata benar? Jika mahasiswa tidak mengkritisi atau menelan “bulat-bulat” ilmu dari dosen maka terjadi kesalahan turun-temurun yang bisa sulit untuk diluruskan kembali.  Galileo Galilei pun akhirnya bisa meluruskan “kesalahan berjamaah” tentang “jagat raya itu mengeliling bumi” yang diyakini sebagai kebenaran selama ratusan tahun, walaupun untuk itu, dia menjadi “pesakitan” pada sisa hidupnya. Sulit mengisolasi netralitas ilmu di balik subyektifitas atau perspektif para pengikut atau penyebar ilmunya, terutama dalam konteks ilmu sosial, yang cenderung terkesan samar tentang pengertian dari salah dan benar.

Kedua, bias yang terjadi pada proses pemindahan paket informasi melalui media komunikasi yang digunakan. Dosen mengharapkan bahwa makna informasi “versi”-nya persis sama dengan makna yang ditangkap oleh mahasiswa. Seolah-olah isi kepala dosen dipindahkan seutuhnya ke memori mahasiswa. Mahasiswa pun “membeo” terhadap semua yang disampaikan oleh dosen. Atau, sering terjadi ketika ujian, jawaban mahasiswa hanya “copy-paste” dari butir-butir yang ada di tayangan “Power Point”. 100 persen persis sama, sampai ke “titik-koma”-nya, atau kesalahan penulisan yang dibuat oleh dosen. Budaya menghapal tanpa mengkritisi sepertinya menjadi fenomena yang biasa. Mahasiswa mungkin takut menyakiti atau dimarahi jika mencoba mendebat atau mengingatkan bahwa dosen itu salah. Padahal, benar itu tetap benar, salah tetap salah. Jangan sampai kita menyalahkan orang lain padahal mereka benar, atau sebaliknya, merasa benar sendiri padahal kita salah. Benar dan salah tidak tergantung posisinya sebagai dosen atau mahasiswa.

Ketiga, penggunaan bahasa bisa menimbulkan bias pemahaman. Akibatnya, ilmu pun tidak tersampaikan dengan seutuhnya. Bahasa sebenarnya semacam simbol, isyarat atau notasi lisan dan tulisan yang disepakati bersama. Namun mencapai kesepakatan dalam memaknai simbol bahasa tidaklah mudah. Bahasa bisa menyebabkan kita merasa sedih, kecewa, marah, bahkan bermusuhan. Bahasa pun bisa menyebabkan kita mengerti atau tidak mengerti tentang sebuah ilmu. Jadi, bahasa memegang peranan penting dalam proses diseminasi atau penyampaian ilmu-pengetahuan, termasuk dalam perkuliahan- baik bahasa lisan atau tulisan dalam tayangan dan catatan kuliah. Penyampain esensi atau substansi sebuah ilmu bisa tidak terungkap seutuhnya karena kendala atau keterbatasan berbahasa. Ilmu- yang disebarkan melalui proses komunikasi di kelas, disampaikan dalam bentuk tersirat atau tersurat dalam bentuk bahasa yang disampaikan secara lisan atau tulisan. Mahasiswa menangkap ilmu tersebut melalui pemahamannya terhadap bahasa yang dilihat, didengar, atau dibacanya. Jadi ada kemungkinan bahwa keterbatasan dalam memaknai bahasa tersebut menyebabkan esensi ilmunya tidak tertangkap.

Saya mengartikan kemampuan berbahasa tersebut tidak hanya sebatas bagaimana menggunakan bahasa yang baik dan benar. Namun, juga kemampuan berkomunikasi yang efektif sehingga penerima dan pemberi pesan berada dalam “frekuensi” yang sama. Harus ada kesamaan konsepsi atau makna dari bahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa. Seharusnya, bahasa ilmiah memang dapat dimengerti oleh anggota masyarakat ilmiah. Namun, realitasnya, penyebaran ilmu pengetahuan kepada masyarakat tidak harus dengan menggunakan bahasa “tingkat tinggi”. Dan ini tidak mudah juga ketika menyampaikan perkuliahan. Ilmu hanya ditangkap oleh otak melalui mata dan telinga. Itu pun hanya dengan mendengar dan melihat dosen di depan kelas saja, bukan merasakan kehadiran ilmu itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Belajar ilmu hanya dengan menghapal teori melalui simbol bahasa, bukan dengan merasakan kehadiran ilmu itu sendiri dalam fenome di sekitar kita.

Masalah lainnya adalah tata dan gaya bahasa dosen mungkin berbeda dengan mahasiswa dalam proses komunikasi di antara keduanya. Ada dua opsi di sini. Mahasiswa dipaksa mengikuti dosen, atau sebaliknya, dosen- walaupun terkesan mengalah, berusaha memahami mahasiswa.  Jadi tidak ada salahnya kita memahami gaya hidup dan gaya bahasa mahasiswa saat ini- yang mungkin sudah berbeda jauh dengan zaman dulu. Kita kadang membedakan cara berkomunikasi ilmiah di media atau publikasi ilmiah dengan cara berkomunikasi di kelas. Muara akhirnya adalah mahasiswa semakin berilmu, syukur-syukur bisa melebihi dosennya. Dan menimba ilmu itu jangan hanya tergantung pada dominasi dosen di kelas saja.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: