Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pabrianto Abdul Rasyid

belajar dan berbagi karena hidup bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar selengkapnya

Sudah Saatnya Guru Penjaskes Berdamai dengan Kepala Sekolah

REP | 06 June 2011 | 04:28 Dibaca: 443   Komentar: 4   1

Pagi ini telat hampir jam 07.00 baru bangun karena semalam bergadang melototi Laptop.Aduh aku terlambat dan malu sama semua orang APA KATA DUNIA tidak memberikan contoh yang baik, hanya itu dalam pikirku sambil buru-buru bergegas mengambil handuk dan sikat gigi.

Kurang dari jam 07.00 aku tiba di sekolah dan menyempatkan diri mampir ke kantin untuk sarapan.Sambil sarapan seperti biasa kupasang kuping lebar-lebar tuk mendengar segala ocehan, keluhan, kritikan dan curhatan orang-orang di sekelilingku walaupun aku kelihatan cuek dan fokus dengan sarapanku.

Kira-kira berjarak 3 meter sebelah kiri dari tempat dudukku ada seorang Bapak dan Ibu Guru yang lagi asyik membahas tentang Sarana dan Prasarana dalam pembelajaran wah ini semakin membuat daun telinga ku melebar untuk mendengarkan setiap kalimat yang mereka ucapkan karena seiring dengan besarnya keingintahuanku tentang dunia pendidikan dan kebetulan juga aku kenal dengan Ibu tersebut, Ibu Mariati namanya beliau juga merupakan seorang dosen di sebuah perguruan tingggi swasta yang telah menyandang gelar S2 di bidangnya olahraga.Dengan rasa tidak malu tapi sopan aku membawa makananku untuk bergabung sarapan, Maaf Bapak, Ibu boleh saya gabung disini tanyaku..oh silakan mas dengan senang hati tapi banyar sendiri canda ibu tersebut, he he he aku hanya sumringah.

Aku melanjutkan makan dan mereka melanjutkan obrolan mereka tentang SAPRAS.Ada beberapa point dari pembicaraan mereka tentang pengadaan sapras yang membuat aku bingung yaitu tentang persyaratan Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani.Di sekolah saya Pak alhamdulillah sarana dan prasarannya sangat memadai baik itu untuk dosen maupun mahasiswa, dosen kelas maupun dosen lapangan khususnya dosen Penjaskes. Di dukung dengan media pembelajaran yang canggih dan ter up-date sehingga para mahasiswa begitu nyamaan dan lebih mudah menyerap materi yang di ajarkan papar ibu itu.Ya itu untuk di perguruan tinggi bu yang tentunya mempunyai anggaran dana yang besar untuk membeli semua itu tapi coba kalau sekolah-sekolah negeri dan apalagi yang letak sekolahnya berada di daerah terpencil dari mana sekolah untuk mencarikan dana sebesar itu apalagi peralatan dan perlengkapan untuk pendidikan jasmani habis dan BOS tersedot untuk itu semua?sanggah bapak lawan bicara ibu itu..Dalam benakku, tepat sekali pertanyaan bapak itu karena itulah masalah yang sedang di hadapi guru penjaskes sekolah-sekolah saat ini karena minimnya anggaran dana untuk pengadaan sapras jadi para guru di tuntut untuk kreatif dalam penyampaian dan pengguanaan media belajar..

Bapak, ada beberapa syarat yang harus di perhatikan dalam sarana dan prasarana pendidikan jasmani. Memang menyediakan sarana untuk pendidikan jasmani itu tidak sedikit menggunakan biaya tapi disini ada beberapa point yang perlu diketahui,.

1. Aman

2. Mudah dan murah

3. Menarik

4. Memacu tuk bergerak

5. Sesuai dengan kebutuhan

6. Sesuai dengan tujuan

7. Tidak mudah rusak dan

8. Sesuai dengan lingkungan

Jadi Pak gak harus mahal tapi ya sesuai dengan apa yang saya sebutkan barusan. Sebenarnya aku waktu sarapan dengan seksama sekali mendengarkan pembicaraan mereka jadi ada satu yang tak dapat kupahami..ehmmm maaf ibu, boleh saya tanya? Huss sambil makan gak boleh ngomong mas kata ibu itu sambil tersenyum..silakan mas..

Begini bu, dari beberapa point yang ibu sebutkan tadi ada satu yang tidak saya pahami yaitu MUDAH DAN MURAH. Saya contohkan seperti ini bu, jika saya ingin mengajarkan renang ya tentunya harus ada yang namanya kolam dan airnya bu untuk prakteknya tapi bisa saja hanya belajar teorinya tapi ini ilmu praktek kalau tidak dipraktekkan anak-anak nantinya malah bingung bisa saja dalam pikiran mereka ooo renang gaya bebas seperti burung atau katak kali ya “ ngelawakku mulai “ nah kalau di sekolah dan daerah sekitar tersebut tidak ada kolam renang “Nah di sinilah anda sebagai seorang guru penjaskes dituntut daya kreatifnya” ho ho ibu itu memotong pertanyaanku..

He he jadi bu saya harus cari alternatif lain untuk memecahkan masalah ini? Kita balik lagi ke kontek MUDAH DAN MURAH jadi saya harus membawa anak-anak ke sungai, parit-parit atau dalam sumur bu? MENURUT PEMBACA, APA SOLUSINYA?

Kebiasaan, dalam serius di bawa bercanda yang penting maksud dan tujuannya sama.

Ha ha ha ibu itu tertawa lebar, bisa aja mas ini.Aspek keselamatan, kebersihan dan kenyamanan juga harus di perhatikan mas.Ya iya dong bu jadi solusinya menurut ibu bagaimana?tanyaku lagi..

Ya mustahil mas di sekolah-sekolah tertentu tidak memiliki kolam renang paling tidak ya ada satu kolam renang di kota kecamatannya?

Emmmm dalam hatiku mungkin karena ibu lahir membesar dan tinggal di kota kali ya jadi tidak tau kondisi sekolah-sekolah di daerah-daerah dan kecamatan terpencil.

Kalau menurut saya mas alangkah baiknya kalau anak-anak di bawa piknik ke wisata air yang ada kolam renangnya di situ anak-anak bisa bermain sambil belajar contohnya bawa ke pontianak sini? Jawab ibu sambil ngelap jari-jari tangannya habis makan gorengan.

Bapak lawan bicaranya ibu yang tadinya asyik menikmati sarapan dengan penuh makanan di mulutnya tiba-tiba berhenti dan arah pandangnya tertuju ke mataku seolah-olah ingin mengtakan sesuatu..ooooo ngono to bu candaku..Kalau menurut saya itu sudah keluar dari konteks Mudah dan Murah bu bayangkan saja berapa Ongkos dan waktu yang diperlukan untuk perjalanan ini belum lagi makan dan minumnya kalau sekolah tersebut dari Kabupaten Sambas, Putu Sibau atau Ketapang?

He he he Ibu dan Bapak yang ada di situ ketawa dan suasana menjadi cair.Memang aku orangnya suka bercanda tapi keseriusan tetap diutamakan kebetulan juga aku dengan ibu itu sudah lumayan dekat jadi tidak canggung-canggung untuk berbicara.

Kok berminat sekali mas bertanya tentang ini mungkin ada solusinya dari mas? katanya sambil menyodorkan tisu padaku..

Nah lo kok ibu nanya balik sih saya benar-benar mentok berpikirnya bu kalau ketemu dengan masalah begini!.. ha ha akunya sekarang malah bingung dan segan. Ayo mas Ibu marah tu ayo jawab ayooo kata bapak itu sambil ketawa ngakak..

Emmm begini saja bu tiga hari yang lalu ketika saya mau berangkat ke sini (Pontianak), di tengah perjalanan saya melihat ada sesuatu yang menarik perhatian saya karena banyak kendaraan terparkir di tepi jalan dan setelah saya cari tahu ternyata orang pada beli bibit ikan. Mungkin karena banyaknya bibit yang dijual dan kekurangan lahan untuk membuat kolam ikan ( maklum saja letaknya di halaman depan rumah) jadi bibit ikan-ikan tersebut di sangkarkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari terpal anti bocor dengan ukuran 4×2 meter dan tinggi kira-kira ½ meter berbentuk persegi panjang untuk meletakkan bibit-bibit ikan tersebut di mana di setiap sisinya diganjal menggunakan pohon pisang jadi bu alangkah baiknya anak-anak di buatkan seperti itu dengan ukuran yang lebih sesuai untuk pembelajaran paling kita keluar biaya beli terpal saja karena air tinggal disedot dari parit dan ini lebih mudah, murah, selamat dan bersih yang penting tujuan pembelajaran bisa di capai dengan baik dari pada ide nya ibu tadi anak-anak dibawa ketempat wisata air yang jauh dari sekolah, dimana mudah dan murahnya jawabku perlahan sambil mulai menunduk menyedot air dalam gelasku..

Betul betul bagus juga ide nya mas katanya sambil tertawa dan kami bertiga disitu pun tertawa saja padahal ketika saya bicara, ide itu merupakan ide yang spontan yang tiba-tiba melintas di pikiranku.Ide Gila ha ha ha ….

Guru penjas harus kreatif mensiasati keadaan keterbatasan fasilitas! Seperti kata pepatah tak ada rotan akar pun jadi. Semangat ini harus kita cam-kan. Sebagai seorang guru penjas, tidak boleh kalah dengan kondisi yang ada. Karena, jika kita mau dan serius, semua persoalan keterbatasan fasilitas olahraga dapat kita atasi.

Secara tidak sadar, selama ini sebagian besar guru penjas telah bisa survive dengan kondisi keterbatasan yang ada. Misalnya mengganti bola futsal dengan bola plastik yang harganya lebih murah, mengganti tongkat estafet dengan ranting kayu, mengganti peluru atletik dengan batu, mengganti cakram dengan piring plastik/ kaleng, mengganti gawang dengan kardus bekas, mengganti raket dengan raket buatan dari papan atau triplek, mengganti net dengan tali plastik, mengganti tiang gawang dengan batang kayu dan mengganti matras dengan tumpukan jerami.

Kenyataan tersebut menegaskan bahwa, sebenarnya guru penjas telah memiliki kreatifitas untuk memodifikasi peralatan olahraga. Alangkah bijaknya jika modifikasi yang telah diciptakan guru-guru penjas sebelumnya dapat dimutakhirkan lagi dengan model pembelajaran modifikasi yang tidak sebatas substitusi perlatan saja, tetapi juga modifikasi yang kebih kreatif lagi.

Sudah saatnya guru penjas berhenti mengeluhkan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Jangan sampai, guru penjas melakukan aksi memusuhi kepala sekolah, hanya karena penolakan-penolakan atas proposal penyediaan sarana dan prasarana yang kita tawarkan. Sekali lagi, guru penjas tidak boleh menyerah dengan kondisi sekolah yang serba terbatas. Karena selama kita berfikir maka eksistensi dan kreativitas kita akan selalu ada. Yakinlah bahwa pelajaran penjas bukanlah pelajaran yang menjadi “anak tiri“ di sekolah. Karena selagi murid masih bersorak gembira atas kehadiran kita untuk materi pelajaran penjas, itu artinya menjadi tantangan bagi kita untuk menyahuti keinginan bermain para siswa…

Salam Olahraga …?

JAYA!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Google Street View, Akankah Disalahgunakan? …

Deliana Setia | | 21 August 2014 | 23:02

Pembantu Kalahkan Mahasiswa, Apa Bisa? …

Seneng Utami | | 22 August 2014 | 01:24

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Mau Ikutan Diskusi Bareng Anggota DPR Komisi …

Redaksi Kompas.com | | 21 August 2014 | 13:59


TRENDING ARTICLES

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | 10 jam lalu

Ikhlas Menerima Jokowi-JK Sebagai Pemimpin …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Belum Ada Ucapan Selamat dari Prabowo-Hatta …

Revaputra Sugito | 11 jam lalu

Rusuh MK, Sudirman-Thamrin Mencekam …

Mawalu | 13 jam lalu

Ditolak MK, Pendukung Prabowo Berduka …

Samandayu | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: