Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agung Noegroho

Maaf…. hanya Sebagai Tukang Corat-coret di dunia maya, makanya banyak yang kotor karena tulisanku …..! selengkapnya

Menghormat Bendera, Musrik ?

OPINI | 08 June 2011 | 05:31 Dibaca: 526   Komentar: 6   1

Penghormatan Bendera, Musrik? Gambar :www.muslimdaily.net

Penghormatan Bendera, Musrik? Gambar :www.muslimdaily.net

Mungkin berita hangat ini baru muncul setelah dua sekolah di kawasan Kabupaten Karanganyar menolak menghormat bendera merah putih. Tapi apakah yang menjadi dasar penolakan itu sudah tepat dengan label musrik yang diberikan pada penghormatan bendera?

Berikut petikan pendapat dari seorang kepala sekolah, Sutardi, menghormati benda mati seperti bendera merah putih sama dengan perbuatan musyrik. Jika pihaknya dipaksa melakukan penghormatan kepada bendera merah putih, hal itu sama saja dengan mengadaikan akidah yang akan mengakibatkan terhapusnya amal dan pihak sekolah menolak dianggap tidak mempunyai rasa nasionalisme. Karena bendera merah putih tetap berkibar di halaman sekolah (http://www.indosiar.com).

Sepertinya, terdapat kesalah pahaman tentang arti musrik disini, sehingga membuat persepsi yang berbeda tentag musyrik itu sendiri di kalangan akademisi maupun sekolah. Marilah bersama-sama kita urai tentang istilah musrik.

Musrik ialah orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah), dalam hal ini yang dianggap menyekutukan allah (menyembah selain Allah), padahal menyembah disini dalam artian; dengan sadar, percaya diri dan dengan didasari keyakinan (iman) dalam hati bahwa apa yang disembah adalah yang memberikan keberkahan, dan yang maha segalanya (pemberi kehidupan, keselamatan dan lain-lain) oleh penyembahnya.

Sedangkan hormat, adalah memberikan apresiasi atau tindakan yang mencerminkan rasa kebanggaan, kecintaan terhadap sesuatu hal yang dianggapnya mempunyai nilai historis atau sesuatu yang mempuyai nilai luhur.

Nah, disini tindakan penghormatan bendera dianggap musrik oleh sebagian kalangan masyarakat, khusunya akademisi sangat disayangkan. Mengingat dalam penghormatan bendera tak lebih hanya sebuah tindakan/ apresiasi terhadap nilai sejarah bendera itu sendiri. Sehingga sangat hiperbola bila dikaitkan dengan penganggapan bahwa penghormatan bendera disamakan dengan menyembahnya.

Apalagi penghormatan bendera disamakan dengan perbuatan musrik oleh kalangan tertentu, karena dalam penghormatan bendera tidak terdapat keyakinan bahwa bendera tersebut akan membawa berkah dan kemudharatan bagi penghormatnya. Dan tak lebih hanya sebagai bentuk apresiasi kebanggaan atas nilai sejarah bendera tersebut pada jaman sekarang.

Kalau menghormat bendera disamakan perbuatan musrik, apakah penghormatan-penghormatan yang lain juga sama halnya, sebut saja penghormatan pada kalangan militer oleh bawahannya kepada atasannya, atau lebih tersirat seperti rasa penghormatan kepada orang tua atau orang yang lebih tua?

Alangkah dangkalnya pengertian musrik bila diterapkan pada sebuah nilai penghormatan sebuah benda mati, yang tidak disertai keyakinan (iman) kepada apa yang dihormatinya secara gerakan fisik (gerakan menghormat). Alangkah lebih tepatnya kalau penghormatan bendera hanya diartikan sebagai penghormatan kepada sejarah bendera itu sendiri.

Memang penghormatan yang di setarakan dengan perbuatan musrik apabila penghormatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan, yang pada akhirnya menjadi sebuah pemujaan. Namun, penghormatan bendera merah putih yang kerap dilakukan oleh sekolah-sekolah di Indonesia yang rutin dilakukan pada upacara bendera setiap hari senin, tidaklah merupakan perbuatan yang berlebihan. Apalagi rutinitas itu hanya bertujuan selain menerapkan disiplin an memberikan pendidikan karakter bagi siswa didik, juga hanya sebagai pemberian apresiasi atas sejarah bendera itu sendiri.

Mungkinkah pemusrikan penghormatan bendera oleh sekolah ini,  merupakan hasil adopsi dari pendidikan di kawasan Negara Timur Tengah?.

Harapan kita selanjutnya, janganlah mudah untuk membesar-besarkan sesuatu dengan hal yang terlalu sakral / suci untuk disamakan arti dan maksudnya, seperti penghormatan bendera disamakan dengan perbuatan musrik (menyekutukan Allah), sangatlah jauh dari niat dan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat indonesia pada umumnya. apalagi pemahaman oleh kalangan akademisi atau berpendidikkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 5 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 7 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 9 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: