Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ukonpurkonudin

Arti Sebuah Nama….. Ketika cahaya hati bertambah bersinar. Cahaya kepalapun menjadi padam. Ketika cahaya hati menjadi sempurna. Cahaya kepala selengkapnya

Moderenisasi Islam, Upaya Membendung Kapitalisme Global

OPINI | 08 June 2011 | 01:00 Dibaca: 233   Komentar: 0   0

Kapitalisme merupakan momok menakutkan yang menggrogoti setiap segi kehidupan negara ini, hampir semua aspek kehidupan bernegara seperti ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan bangsa ini tidak terlepas dari kacamata kapitalisme barat yang mengintai, menjadi benalu dan menggrogoti kesejahtraan bangsa ini. Dalam aspek ekonomi indonesia dilanda krisis bekepanjangan yang tiada akhir, IMF dan World Bank sebagai antek kapitalis menjajikan kesejahtraan kepada negara yang mengalami krisis global dengan memberikan modal pinjaman dengan bunga tinggi yang akhirnya kesengsaraan dan kemiskinan menjadi harga mati karena negara tidak mampu membayar hutang dan bunganya. dalam aspek pendidikan terjadi klasifikasi dan kelas-kelas yang memisahkan sikaya dan simiskin terbukti dengan adanya sekolah bertarap internasional yang menjadi bukti k0ngkret bahwa orang tertentulah yang bisa mengenyam pendidikan dinegara ini. Dalam konteks pemerintahan saat ini dalam pidatonya di depan DPR, SBY mengatakan bahwa kemiskinan dinegara kita indonesia telah berkurang, tetapi realitasnya tidak seperti itu, memamng sangat aneh pemerintah mengukur kemiskinan hanya berdasarkan statistik data tidak melihatnya secara komprehensif. Disamping itu pemerintah seolah lari dan lepas tanggung jawab dalam mencerdaskan bangsa ini, dengan menyerahkan kebijakan pengelolaannya kepada pihak kampus yang otomatis biaya pendidikan menjadi mahal dan rakyatlah yang menderita akan kebijakan itu.

Maka sudah jelaslah sebagai kader bangsa kita harus sadar akan hegemoni kapitalis yang menguasai negri ini, lebih dari itu kita harus mempunya formulasi yang jelas dalam menghadapi hegemoni kapitalis dan memberikan solusi yang solutif dalam menghadapinya. Sebenarnya kita sudah mempunya formulasi yang baik dengan menjadikan quraan dan sunah sebagai jalan kita dan menciptakan intelektual muslim progresif sesuai kualitas 5 insan cita. Dengan aspek tersebut secara konsisten dapat menciptakan intelektual muslim yang mempunya iman, ilmu dan amal yang kokoh sehingga menciptakan negara baldatuntayibatun warabun gafur.

Sebagai kader sudah selayaknyalah jiwa dan raga kita ditujukan kepada kemajuaan negara ini, aspek kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan, korupsi menjadi sebuah polemik tersendiri yang hingga saat ini negara tidak bisa menyelsaikannya, maka dari itu peran dan fungsi seorang kader dalam hal ini harus mempunyai konstribusi intelektualitas yang bertitik pangkal kepada keadilan dan kesejahtraan rakyat.

Sejak peristiwa Qabil Iqlima dan habil Labuda putra nabi adam perkelahi merebutkan saudara kandungnya untuk dijadikan istri, maka sejak itulah hingga saat ini berkembang dua kutub idologi kehidupan, yakni islam dan matrealisme. Kutub matrealisme ini berubah menjadi kutub kapitalisme dan kutub sosialisme/komunisme. Kutub-ktub idiologi ini jelas memiliki tingkah laku yang berbeda dalam menggumuli modernisasi. Sehingga dalam melempar bola moderinisasi ke bumi ini pun penampilan kutub kutub idiologipun berlainan. Dalam pendekatannya kedua kutub ini yakni sosialisme dan kapitalisme mencari sebuah pendekatan lain, sebuah metode baru untuk perubahan sosial.

Paradigma modernisasi tidak terlepas dari aspek pembangunan, pertumbuhan ekonomi, diferensial kelembagaan, dan kemajuaan pembanguan bangsa yang satu dan lainnya serta tidak terlepas dari kata-kata ketergantungan, penghisapan, nekolim, pembebasan, kesejahtraan, keadilan dari yang satu dan lainnya. Idiologi kapitalisme indentik dengan semboyan pembangunannya, sedangkan sosialisme identik dengan slogan revolusinya. Yang jelas idiologi kapitalisme dan sosialisme berpremis nilai yang bebas, bebas nilai. Sementara islam memiliki premis nilai tauhid.

Sebagi imbas dari moderinisasi yakni mengedakan perubahan, pembaharuaan atau perbaikan untuk mewujudkan yang modren, maka munculah idiologi kapitalis dan sosialis yang melahirkan tatanan strata sosial baru yang berimbas pada dualime yakni bangsa kaya dan bangsa miskin, keterbelakangan dan berkembang, bangsa pintar dan bodoh, timur dan barat. Tidak hanya itu moderinisasi harus dibayar mahal. Dengan harga tinggi yakni berupa human cost dan social cost, berupa alienasi, anomi, homolesness, perasaan tidak kerasan dan lainnya sebagaimana kita menyaksikannya. Tidak hanya itu kegagalan modernisasi telah merambah kepada ruksaknaya alam kita dengan adanya pemanasan global, rusaknya lingkungan, sering terjadinya bencana alam dan sebagainya.

Kapitalisme dan sosialisme dalam aplikasinya tidak memberikan sumbangsih yang relevan terhadap perkembangan bangsa ini, kemiskinan, kebodohan, keruksakan akibat kedua idilogi ini sudah riil dan gagal membawa kesejahtran bangsa. semangat moderenisasi yang menciptakan tatanan keadilan hanyalah selogan semata. Adil menurut meraka adalah keuntungan buat mereka sendiri tidak untuk orang lain. Maka dari itulah letak dari probresifitas intelektul kader hmi di uji pada era modern dengan kaum kapitalis dan sosialis sebagai momok yang harus dihadapi. Tampaklah hanyaah islam yang menjadi solusi untuk menghadapi era modern ini, dengan berpegangan kepada al-quran dan sunnahlah sebagai jalan menuju keselamatan.

Idiologi modernisasi islami tertera dalam al-quran dengan jelas, sebgai mana yang dikatakan nabi syuaib dalam alquran surat Hud:ayat, 88 yang artinya;

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) islah/perbaikan/perubahan selama aku masih berkesanggupan; dan tiata taufik bagiku melainkan pertolongan allah; hanya kepada allah aku bertawakal dan hanya kepadanya aku kembali.

Dan dengan penuh ketegasan islam menolak idiologi islah/modernisasi yang palsu seperti yang tertera dalam alquran surat al-baqarah ayat 11 yag artinya

Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kamu melakukan keruksakan/fasad dimuka bumi, mereka menjawab; sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah yangmelakukan keruksakan, tetapi mereka tidak sadar.

Sudah jelaslah dalam alquran dijelaskan kata islah ini mempunyai makna moderenisasi kearah yang lebih baik bukan pasad yang merupakan lawan kata dari islah yang mempunyai arti keruksakan. Islam sebgai islah/modernisasi kepada perubahan kebaikan adalah moderenisasi yang sesungguhnya yang membawa keadilan dan kesejahtraan dimuka bumi ini. Muslim adalah modernis/muslih merupan orang yang melakukan perubahan dan kebaikan, ini sesuai dengan ruh islam dan atribut kenabian yang perjuangannya patut diteruskan oleh kader bangsa sebagai intelektual muslim. Berbeda dengan modernisasi kapitalis dan sosialis yang membawa fasad/keruksakan dimukabumi ini.

Maka dari itulah perlunya adanya suatu pembaharuan dalam pemikiran intelektualitas kader bangsa ini supaya terciptanya moderinisasi islam secara kaffah. kader bangsa ini harus di bekali dengan kemampuaan pengetahuaan yang mumpuni tentang realitas dunia global agar ia tidak taklid buta kepada westrenisasi, dan kapitalisme globa dengan dibentengi intelektualitas muslim progresif dan ilmu agama yang mapan.

artikel ini merupakan kutipan makalhyang disampaikan pada presentasi LK 2 HMI Cabang Jogjakarta sebagai syarat menjadi peserta latihan dan dimuat di ; http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/03/mengukuhkan-intelektual-muslim.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Ikuti Blog Competition ā€¯Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 9 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 10 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: