Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hj. Ratu Atut Chosiyah

Hj.Ratu Atut Chosiyah, SE. Lahir di Ciomas, Serang, Banten, 16 Mei 1962 (49 tahun). Menjabat sebagai selengkapnya

Perang Perempuan Melawan Buta Aksara

OPINI | 12 June 2011 | 00:17 Dibaca: 332   Komentar: 1   1

Kondisi perempuan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) pada akhir tahun 2010 yang menyatakan bahwa, terdapat sekitar 5,3 juta perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami buta aksara. Data itu masih berbentuk perkiraan di mana kenyataan sesungguhnya di lapangan bisa lebih besar lagi.

Sejauh ini, upaya pemerintah untuk memberantas buta aksara perempuan dituangkan dalam bentuk peraturan bersama tiga menteri (menteri negara pemberdayaan perempuan, menteri dalam negeri, dan menteri pendidikan nasional) tahun 2005 tentang percepatan pemberantasan buta aksara perempuan. Dalam peraturan tersebut pemerintah menetapkan program Aksi Nasional Pemberantasan Buta Aksara Perempuan yang dioperasionalkan secara menyeluruh dan terpadu di seluruh Indonesia.

Pemberantasan buta aksara perempuan dilakukan dengan program pendidikan non-formal melalui magang, Kelompok Belajar Keterampilan (KBK), Kelompok Belajar Usaha (KBU), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), kecakapan hidup (life skills), dan sejenisnya dengan menggunakan seperangkat instrumen pembelajaran di provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, dan desa.

Walaupun demikian, pada prinsipnya, program tersebut sangat bergantung pada komitmen seluruh komponen pemerintah dan masyarakat untuk menjalankannya sesuai yang dinginkan. Pemerintah provinsi, kabupaten, dan sebagainya mempunyai tanggung jawab untuk memberantas buta aksara perempuan melalui program yang dicanangkan. Tentunya program itu harus disesuaikan dengan kondisi sosial-budaya masyarakat di daerah masing-masing.

Untuk konteks Banten, keberadaan perempuan buta aksara sudah menurun. Hal ini tidak terlepas dari usaha pemerintah yang terus berupaya memberantas buta aksara sejak berdirinya Banten sebagai Provinsi hingga sekarang. Bahkan data perempuan melek huruf di Banten sekarang tidak jauh dari Ibukota negara, DKI Jakarta, dan lebih meningkat dibandingkan Jawa Barat.

Sebagai misal, Tahun 2004, perempuan melek huruf di Banten mencapai 91,4 persen, Jawa Barat 91,4 persen, DKI Jakarta 97,5 persen. Tahun 2005 Banten naik menjadi 93,7 persen, Jawa Barat 92,3 persen, DKI Jakarta 97,3 persen. Sedangkan di tahun 2006 dan 2007 Banten mencapai 94,4 persen, Jawa Barat 93,1 persen, DKI Jakarta 97,7 persen.

Menurunnya angka melek huruf perempuan di Banten tidak terlepas dari terobosan yang dilakukan Pemprov Banten untuk meningkatkan intelektualitas kaum hawa. Di antaranya adalah dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di kota/kabupaten di seluruh Provensi Banten. PKBM ini telah berhasil mendidik masyarakat Banten yang tidak mengenyam pendidikan di tempat belajar formal.

Penyelesaian program pemberantasan buta aksara di Banten ke depannya akan dioptimalkan untuk daerah-daerah kabupaten/kota yang tingkat penduduknya padat serta penyandang buta aksaranya masih tinggi. Budaya gemar membaca sebagai langkah awal untuk belajar harus dilakukan semua komponen masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Jika upaya melek huruf telah dilakukan maka selanjutnya mereka akan dirangsang minat bacanya melalui taman bacaan. Salah satu contoh Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah Komunitas Masyarakat Gemar Membaca (Magma) di Kota Tangerang Selatan.

Tentunya, dukungan dan peranserta semua pihak sangat dibutuhkan atas dasar kesadaran bersama untuk terus berperang melawan buta aksara perempuan di Banten khususnya, dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: