Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Analgin Ginting

Peduli, Memberi dan Berbagi.

Saya Akan Marah Besar Kepada Admin Kompasiana!

OPINI | 12 June 2011 | 21:42 Dibaca: 171   Komentar: 26   2

Benar, saya tidak akan main main. Dan saya akan memakai semua kekuatan networking saya untuk memarahi Admin Kompasiana.

Head Line Kompasiana Di-Link kan Ke Kompas Cetak

Saya akan marah besar kepada Admin Kompasiana jika ada postingan saya yang masuk menjadi Head Line atau salah satu yang mendapat penilaian terbanyak pada kategori ter, ter, tidak di link kan oleh Kompasiana di Media Aras Utama, khususnya Kompas, baik yang cetak maupun yang on line. Sebab tidak akan ada gunanya. Tidak ada artinya meskipun di Kompasiana HL atau Terekomendasi kalau tidak di-link kan atau di tayangkan ulang di Media Aras Utama, yang sampai saat ini setahu saya dikuasi oleh penentu berita di Indoensia. Dan mereka kan dapat untung dari situ? Apa artinya postingan kita head line di Kompasiana, kalau tidak digubris oleh orang banyak dan pejabat pejabat, orang berkuasa itu?

Mana mungkin HL di Kompasiana bisa merubah Indonesia?

Eh jangan terlalu abstrak dong.

Ohh enggak, tidak abstrak justru nyata.

Siapa Penentu Berita Head Line di Media Aras Utama?

Kita kan sama sama tahu, bahwa setiap saat yang menjadi HL di Media Media Aras Utama seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat dll, adalah atas pesanan. Ada orang yang memesannya, dan kalau dipesan pasti yang memesannya dapat untung. Hoohoo ada yang memesannya.

Saya yakin akan hal ini karena saya pernah mendengar langsung dari seorang pekerja Public Relation. Justru perusahaan Public Relation (PR) yang dia miliki mendapat komisi dari sana.

Jika anda memesan misalnya, pada hari selasa tanggal 14 Juni nanti berita “A” tolong dibuat head line ya. Cari pakar, guru besar, atau ahli yang mengulas berita itu. Lalu hubungi juga pejabat pemerintah atau penguasa memberi komentar akan topik yang sama. Dramatisir dengan mengangkat pandangan beberapa masyarakat. Oke? Lalu dimasukkan, dan kita tunggu sampai menggelembung dan menjadi perbincangan secara nasional.

Baik, kata Profesional PR tadi. Dan jika berita nanti muncul di Binsis Indonesia, atau Suara Pembaruan, atau Media Indonesia serta Kompas, maka Perusahaan PR tadi akan mendapat komisi yang tidak sedikit

Inul Dara Tista Berhutang Kepada Kompas.

Sebelum kita kembali ke Laptop, meminjam istilah Tukul Arwana; masih ingat akan popularitas Inul Daratista? Berawal karena ada berita mengenai Inul di Kompas Minggu. Saya tidak tahu siapa yang membiayai sehingga Inul yang ndeso itu bisa menjadi berita HL di Kompas Minggu, edisi yang paling banyak dibaca orang. Semua Media cetak mengikuti Kompas, semua stasiun TV akhirnya menayangkan sosok Inul, bahkan dikonfrontasikan dengan H Rhoma Irama yang mengatakan goyang Inul mesum (Saya duga ini disengaja, dan ada fee nya, hahahaha) lalu di konfrontir lagi dengan Gus Dur yang mengatakan goyang Inul tidak mesum koq. Esensinya, Inul diberitakan terus kan?

Nah sekarang kembali ke laptop, kembali kepada alasan kemarahan saya. Eloknya semua yang menjadi HL di Kompasiana harus di-link kan dengan Media Utama, paling tidak Kompas. Tujuannya supaya pembuat berita di Republik Ini bukan hanya penguasa penguasa itu, apakah yang dari Partai tertentu, dari Pejabat Negara, Pengusaha dalam atau Luar Negeri.  Tapi juga rakyat itu sendiri.

Para Kompasianer pun harus mempunyai akses untuk menjadi penentu berita di Indonesia, sebab saya melihat tulisan tulisan Kompasianer itu masih sangat murni, tidak ditunggangi siapa pun. Kompasianer itu menulis dari kejernihan hatinya dalam melihat dan menyikapi realita.

Kita tidak dibayar, tulisan Anda di HL kan tidak dibayar? Saya bertanya, karena selama 6 bulan menulis belum pernah menjadi HL. Hahahahaha. Tapi saya tidak juga kecewa, karena HL pun tulisan anda semua, hanya beberapa hari dan tidak ada pengaruhnya untuk merubah bangsa ini. Paling ada beberapa tulisan Kompasianer yang pernah menjadi rebutan dan sumber pemberitaan Media lain, seperti yang dipresentasikan Bung Iskandar Zulkarnain pada ICC 2011 kemarin itu.

Kalau ide ini diterima, harus diterima karena kalau tidak saya akan marah besar. Maka ada persyaratan untuk meng HL kan suatu berita di Kompasiana, yaitu harus mempunyai nilai tambah terhadap perubahan keadaan Indonesia. Kompasianer perlu membuat dan mempostingkan berita atau opini yang berkualitas yang bisa menjadi Trend Topic terhadap perubahan kebaikan Bangsa.

Partai Kompasiana

Beberapa nampaknya sudah ada dan sudah dipostingkan di Kompasiana. Saya juga memiliki  dua gagasan yang sebentar lagi akan saya postingkan, yaitu mengenai Partai Kompasiana dan yang kedua adalah Telkomsel. Bayangkan kalau Kompasiana menjadi sebuah Partai. Anggotanya langsung 70.000 orang, sebab data yang dipaparkan Mas Iskandar Zulkarnain seperti itu. Dan saya punya ide dan gagasan yang bisa membuat Kompasianer dalam 4 tahun menjadi 37 juta orang, sebab angka 37 juta ini ,menurut Enda Nasution adalah angka pengguna Internet dan Facebook di Indonesia. Lihat : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/06/09/enda-nasution-dari-blogger-menjadi-managing-director-salingsilangcom/.

Tapi Partai Kompasiana harus partai baru yang benar benar bisa membawa perubahan Indonesia dong.

Bisakah?

Ya bisa lah, kita kan bisa diskusi 24 jam untuk mewujudkannya. Kita tetapkan platformnya, kita bentuk strukturnya, kita tetapkan kriteria kompetensi orang orangnya, kita minta pemikiran brilian Bung Erianto Anas, Gusti Bob, Pak Thamrin Dahlan, Bang Faisal Basri, Bang Julianto Simanjuntak, Pak Chappy Hakim, Kafi Kurnia, Mbak Linda S Djalil, Om Jay, Mas Choiron, dan yang lain.

Wah bukankah banyak kiompasianer yang mempunyai kepandaian dan wawasan yang sangat nasional bahkan Global? Ada lagi Bung Asep Setiawan, ada Kimi Raikone, ada Delia Anna, pokoknya mantap dah.

Siapa Pemilik Telkomsel?

Yang kedua misalnya soal Telkomsel. Saat ini pelanggannya adalah 100 juta orang (pemakai Sim Card) yang aktif 40 juta. Pendapatan Telkomesel per tahun katakan lah 2-3 Milyard dollar. Berapa Trilyun Rupiah itu Bung? Pemegang sahamnya saat ini adalah Telkom 65 Persen dan Singtel 35 %. Berapa persen saham yang dimilki karyawannya? Bukankah yang membuat Telkomsel itu besar seperti sekarang adalah karyawannya? Tapi apa ada untung bagi karyawan selain gaji dan bonus mereka?

MENGAPA KITA TIDAK BUAT UNDANG UNDANG SUPAYA SETIAP PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI WAJIB MEMBERIKAN SAHAMNYA MINIMAL 20 % UNTUK KARYAWANNYA?

Mengapa? Bukankah dengan struktur yang seperti sekarang, hanya pejabat Telkom saja yang diuntungkan. Bukankah asing saja yang diuntungkan? Bukankah masalah kebangsaan kita sekarang adalah kesenjangan ekonomi? Bukankah total kekayaan bangsa ini hanya dimiliki oleh 10 persen paling kuat 20 persen Warga Negara? Bukankah para pengusaha dan penguasa yang 20 Persen itu kebanyakan menyimpan uangnya di Luar Negeri. Bukankah itu disebabkan karena DPR tidak pernah berniat membuat Undang Undangnya?

Apakah sahabat sahabatku Kompasianer hanya mendiamkan fakta ini. Apakah kita hanya puas dengan HL nya postingan kita di Kompasiana, padahal tidak ada dampaknya bagi Indonesia yang lebih Baru? Bukankah kalau begitu kita hanya memuaskan diri kita secara swalayan saja? Mansturbasi atau Onani saja?

Postingkan berita berita yang kreatif cerdas untuk perubahan Bangsa ini, lalu di- link kan dengan Kompas. Langkah sederhananya adalah (kita berharap) mulai Minggu depan, ada satu halaman di Kompas yang khusus menayangkan berita berita yang HL atau ter, ter di Kompasiana. Mau kah Kompas mengabulkan usulan ini? Demi Kompasiana, demi Kompas, demi 37 Juta, demi Bangsa Indonesia?

Bisa saja gagasan saya diterima, namun postingan saya tetap tidak HL, hahahahahaha, nasib, nasib. Kalau begitu saya akan berpikir lebih cerdas dan menulis lebih lugas supaya masuk HL. Dan kalau sudah HL tidak di- link kan atau diberitakan dalam satu rubrik baru di Kompas, maka saya akan marah besar. Marah bukan karena kepentingan pribadi saya, tapi saya marah karena upaya saya membuat Bangsa ini makin baik dihambat.

Kalau Kompas setuju, berarti benar kata orang orang, Kompas adalah Media yang paling objektif dan tidak bisa diatur oleh siapa pun. Tanpa Kompas memang belum Pas, Dengan Kompas semuanya berkelas. Terima kasih.

Analgin Ginting.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: