Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Vivien Septarina

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Program Pendidikan Ilmu selengkapnya

Pendidikan yang Ideal Bagi Indonesia

OPINI | 20 June 2011 | 14:29 Dibaca: 192   Komentar: 0   0

Pendidikan yang Ideal Bagi Indonesia

Di era teknologi seperti ini, pendidikan memang sangat diperlukan bagi setiap orang. Pendidikan saat ini kerap menjadi tolak ukur bagi kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Pendapat bahwa orang yang selalu memiliki IPK hampir empat, lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan yang mempunyai gelar tinggi hingga doktor bahkan profesor, dipercayai oleh sebagian besar orang akan menjadi orang yang sukses kelak dan berpenghasilan besar tentunya. Padahal pada kenyataannya tidak semuanya seperti itu. Banyak orang yang sukses diusia produktifnya padahal ketika masa sekolah ia termasuk anak yang bisa dibilang tidak pintar bahkan mungkin termasuk peringkat sepuluh terburuk satu sekolahnya. Mereka dapat menjadi lebih sukses karena dari kecerdasannya dalam berpikir kritis dan futuristik, sehingga mereka pandai untuk berbisnis dan mengelola uang mereka. Hal ini juga tidak terlepas dari faktor yang disebut keberuntungan.

Pendidikan adalah proses pembelajaran, proses dimana kita akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang sesuatu hal  baru yang sebelumnya tidak kita ketahui, Proses dimana kita dilatih dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berakal sehat juga rasional. Dengan mendapat pendidikan yang layak bagi seusianya, diharapkan anak akan dapat menjadi pribadi yang berperilaku yang baik, cepat tanggap, mudah bergaul dan tentunya bertambah pengetahuannya, baik yang umum maupun yang khusus seperti berhitung dan berbahasa. Materi yang diberikan dalam proses pembelajaran ada bermacam-macam seperti  dalam hal berhitung, berbahasa, berperilaku, beragama, berekspresi, seni, berakhlak dan berperilaku. Proses pembelajaran ini tidak hanya dimulai ketika kita taman kanak-kanak, tapi dimulai ketika kita masih didalam perut ibu. Saat kita masih didalam kandungan, ibu sudah mengajarkan kita tentang kasih sayang, kasih sayang dari seorang ibu yang selalu menjaga anak dalam kandungannya agar kelak lahir dengan sehat dan selamat.

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Pendidikan adalah salah satu cara manusia agar dapat melanjutkan kehidupan. Dengan pendidikan, ilmu yang kita miliki akan semakin bertambah, wawasan yang kita miliki akan semakin luas, sehingga kita dapat berpikir secara lebih futuristik dan rasional. Dengan ilmu seseorang dapat berbuat banyak, dengan ilmu juga kita dapat beramal karena dapat berguna untuk orang lain. Sebagai contoh, jika kita memiliki ilmu yang lebih dari teman kita, saat ada yang mengalami kesulitan dalm pelajaran disekolah, dan kita dapat membantunya kita akan mendapat pahala karena kita dapat menolong teman yang kesulitan. Contoh lainnya, jika suatu saat kita berhenti atau sedang tidak bekerja, jika kita memiliki ilmu khusus yang lebih, kita dapat mencari kerja sampingan sementara yaitu sebagai pengajar les atau bimbingan belajar bagi anak yang memerlukannya. Banyak hal yang dapat kita lakukan dan kita dapatkan, jika kita menjadi orang yang berilmu .

Agar pendidikan yang diterima oleh peserta didik secara maksimal, haruslah dibuat sistem pendidikan yang ideal. Yang dimaksud ideal adalah yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur, sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima, dan pendidikan yang diberikan secara bertingkat dan bertahap. Pendidikan sesuai umur maksudnya adalah proses belajar dimana materi yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan umurnya. Misalnya anak SMP tidak cocok lagi jika diajarkan penjumlahan bilangan puluhan bahkan satuan, karena seharusnya mereka sudah paham karena sudah diajarkan sejak taman kanak-kanak. Sebaliknya anak SD juga tidak cocok jika diajarkan pelajaran Biologi, yang membahas tentang proses reproduksi pada manusia. Karena mereka dianggap belum mengerti tentang masalah itu, dan berbahaya jika disalahgunakan. Hal ini juga berhubungan dengan kriteria kedua yaitu sesuai dengan kapasitas kemampuan sang peserta didik untuk menerima pelajaran tersebut. Jika pendidikan yang diberikan melebihi dari kemampuan menerima dikhawatirkan peserta didik akan stress, sebaliknya jika terlalu mudah akan membuat mereka menjadi bosan. Oleh karena itu harus tepat. Kriteria tepat ketiga adalah proses pembelajaran seharusnya diberikan secara bertahap dan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh adalah siswa-siswi taman kanak-kanak mulai diajarkan matematika yaitu mengenal bilangan satuan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan satuan. Ketika di SD kelas 1, pelajaran yang mereka terima mulai naik tahapannya menjadi penjumlahan bilangan puluhan, lalu ratusan, ribuan dan seterusnya. Meningkat lagi ke perkalian dan pembagian. Namun saat SMP, matematika yang dipelajari tidak lagi sederhana yaitu mulai konsep al-jabar, phytagoras dan lain-lain. Sehingga peserta didik dapat menerimanya dengan baik karena dimulai dari tahap yang mudah hingga yang paling sulit.

Belajar tidak hanya disekolah, kita belajar dan mendapat pendidikan dimana saja. Ada pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan wajib yang terstruktur dan terorganisir, seperti sekolah. Di Indonesia pemerintah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun untuk warganya, hal ini berguna untuk menymaratakan pendidikan masyarakat Indonesia agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang pendidikannya. Selain formal, ada juga pendidikan informal, seperti les-les tambahan diluar jam sekolah, les musik, lukis, teater, olahraga dan kesenian lainnya. Pendidikan ini bersifat tidak wajib, hanya sebagai tambahan saja, biasanya untuk mengasah kemampuan yang berhubungan dengan hobi. Selain les-les tambahan kegiatan berorganisasi juga merupakan pendidikan yang bersifat informal, kita belajar bagaimana cara menghargai orang lain, berkomunikasi didepan umum dan lainnya. Keluarga juga berperan penting dalam pendidikan informal ini, karena dirumahpun kita juga tetap belajar, belajar menghomati orang lain, mengalah dan saling menyayangi antar anggota keluarga. Jadi pendidikan itu sebenarnya bersifat luas, dapat diperoleh dimana saja.

Pemerintah Indonesia bercita-cita untuk menjadikan pendidikan di Indonesia ini mudah dijangkau oleh masyarakat. Karena mereka menilai pendidikan itu sangat penting, terutama di era globalisasi ini, dimana teknologi semakin canggih dan semakin mudah untuk melakukan apapun. Menurut pendapat saya hal-hal yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik dan cukup mendukung dengan memberlakukan ’program wajib belajar 9 tahun’ dan ’program sekolah gratis’ bagi setiap warganya maupun program BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Hal ini dinilai berguna untuk menyamaratakan kemampuan seluruh masyarakatnya, agar Indonesia menjadi negara yang maju, tidak hanya berkembang dan jangan sampai mengalami kemunduran. Juga agar Negara Indonesia tidak mengalami ketertinggalan dari bangsa-bangsa lainnya.

Indonesia adalah negara yang tingkat kepadatan penduduknya mendapat peringkat sepuluh besar didunia ini. Masalah pendidikan di negara ini telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang secara garis besar dikatakan bahwa setiap penduduk mendapat hak pengajaran yang layak. Dari kenyataan ini, seharusnya dapat mendukung Indonesia menjadi negara yang maju yang dapat menciptakan alat-alat baru dengan inovasi teknologi yang canggih. Namun realitanya, hanya sebagian kecil saja yang dapat melakukan inovasi tersebut. Dimana sebagian kecil tersebut belum memiliki pengaruh yang besar yang dapat mengharumkan nama bangsa. Hal ini mungkin saja menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia ini belum maksimal sehingga belum menghasilkan banyak bibit unggul yang dapat mengharumkan nama bangsa ini.



Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 9 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 13 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 8 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 9 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 9 jam lalu

Indonesia Tidak Bisa Seenaknya Tenggelamkan …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: