Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Zaa Zakiyah

Kopi tak terlalu manis, nulis,bisnis, optimis

Tarik Menarik Antara Sekolah dengan Konsep Child Center, Bagaimana Solusinya?

HL | 20 June 2011 | 04:36 Dibaca: 557   Komentar: 37   6

13085495161626956122

Dari sebuah blog saja terutama blog semacam kompasiana, kita bisa mendapatkan berbagai macam artikel yang luar biasa. Banyak dan berkualitas, itu yang saya maksud luar biasa. Salah satu artikel yang cukup menarik perhatian saya adalah artikel pendidikan.. Dari sekian banyak artikel pendidikan yang sudah saya baca, ada yang bernada “keluhan” tentang sistim pendidikan negara kita. Sebagian lagi ada yang menguraikan panjang lebar tentang bagaimana semestinya pendidikan negara kita dikaitkan dengan kemajuan teknologi, budaya, agama, gaya belajar dan sebagainya. Dengan bahasa-bahasa yang apik dan tinggi pula.

Salah satu topik yang sering dibahas adalah tentang pentingnya menerapkan konsep “child center”. Pendidikan yang berpusat pada anak. Anak adalah tokoh central yang harus mendapat perhatian. Baik dari sisi kebutuhan, bakat, minat, hobi, gaya belajar dan sebagainya. Konsep ini memberi ruang yang sangat luas pada pengolahan “otak kanan”. Bila konsep tersebut diterapkan dalam sistim sekolah ( sekolah pada umumnya) membutuhkan effort yang lumayan besar. Bahkan ada yang mengatakan jelas tidak bisa karena konsep dasarnya saja sudah berbeda.

Yah…segala macam teori terkini tentang perbaikan mutu pendidikan rata-rata memang sangat menarik, bagus, logis, inspiratif. Namun menjadi amat sangat menggelikan ketika kita sendiri, terutama orang tua yang peduli dan melek pendidikan (terutama faham pentingnya konsep child center) tidak memulai membuat geliat kecil atau langkah kecil dari diri sendiri, dari dalam keluarga.

Mengapa mereka tidak “bergerak” ? Tidak mampukah ? Tidak maukah ? Tidak bisakah ? Tidak PD kah ? Atau menunggu dukungan dari pemerintah dulu ? Menunggu dukungan dari beberapa pihak ? Bila berbicara ideal, tentu saja idealnya ada dukungan dari pemerintah. Namun sampai kapan ?

Sehubungan dengan konsep child center tersebut menurut pengamatan saya sementara ini, ada beberapa kelompok orang tua yang bersikap :

Memilih melaksanakan Homescholling ( HS ), Pelaku HS ada yang menolak sistem sekolah sepenuhnya, mereka menganggap sekolah meng-cooptasi ( mengurung ) kebebasan berpikir anak-anak. Namun ada juga pelaku HS yang masih mau „bersahabat” dengan sekolah. Tentang tipe-tipe HS bisa di search di google. Banyak sekali alasan yang mereka kemukakan mengapa mereka memilih HS. Buku yang cukup menarik dan bagus, tentang HS adalah “Ibuku Guruku” , Marty Layne, penerbit MLC, „ Tamasya belajar”. Linda Dobson, MLC

Memilih membuat “keseimbangan“, Mereka yang tetap menyekolahkan putra putri mereka. Namun sebisa mungkin membuat “keseimbangan” terhadap sistem sekolah. Keseimbangan yang bagaimana? Yaitu keseimbangan pengolahan otak kanan dan kiri. Sebagaimana kita ketahui, porsi pengolahan otak kiri ( kemampuan akademis) di sekolah lebih banyak. Oleh karena itulah, ketika berada di rumah, orangtua berusaha memberi ruang pada otak kanan anak-anak mereka untuk” bergerak”. Sekelompok orang yang berusaha membuat keseimbangan ini biasanya mempunyai beberapa kesamaan pendapat dengan pelaku HS. Ketika anak-anak berada di rumah mereka menerapkan sistem HS bisa dikatakan demikian. Mereka biasanya mempunyai mindset yang berbeda tentang nilai sekolah. Tidak terlalu „pusing” dengan nilai ulangan anak-anak mereka. Hal itupun biasanya diungkapkan pada anak-anak mereka. Bukan berarti mendorong mereka untuk “cuek” saja dengan pelajaran sekolah. Namun, biasanya orangtua memberikan pengertian pada anak-anak mereka tentang pentingnya keseimbangan antara teori dengan praktek. Kalaupun orangtua akan “memasukkan” sesuatu yang perlu diberikan pada anak-anak, mereka menggunakan “jalur otak kanan” lebih dahulu. Sebagai contoh misalnya, akan membantu mereka belajar mate-matika, dimulai dulu dari cerita tentang tokoh super hero kesukaan mereka ( bisa dilihat di http: // totoksapto.blogspot.com). Atau dengan cara menciptakan suasana belajar yang rileks, dengan bersantai di ruang tengah, tanpa kursi, tanpa sofa tetapi menghampar di lantai, kadang-kadang ditemani beberapa mainan kesukaan mereka atau diiringi musik dll.

Gamang, Orang tua dalam kelompok ini tetap menyekolahkan anak-anak mereka tetapi sering mengeluhkan tentang sistem pendidikan di sekolah. Di satu sisi mereka masih pula „sangat berbangga” bila putra putri mendapatkan prestasi yang tinggi, bintang, piala, penghargaan “ter” dan sebagainya. Mereka juga sangat berkecil hati ketikaa putra putri mereka mendapat nilai kecil atau tidak mendapat ranking. So what gitu loch….(kata anak-anak jaman sekarang).

Indeferent atau acuh tak acuh, biasa saja , tidak tertarik, Mereka orangtua yang faham tentang pentingnya konsep child center, namun mereka tidak tertarik untuk melakukan sesuatu. Bagi orangtua yang bekerja, terutama yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya alasan utama mereka adalah waktu. Saya bisa memaklumi hal tersebut.

Saya, dengan jujur dan penuh percaya diri ingin mengatakan bahwa saya termasuk dalam orang tua yang berusaha membuat keseimbangan itu. Putra saya, ketiganya bersekolah di Fullday School ( dari pukul 08:00 sampai pukul 16:00) namun hari Sabtu dan Minggu, sekolah libur. Jelas sekali, dari hari Senin hingga Jum’at waktu mereka lebih banyak di sekolah. Bila diungkapkan dalam gaya bahasa hiperbol, Senin hingga Jum’at mereka berada dalam lingkungan yang harus menurut “apa kata guru” dan “apa kata kurikulum”. It’s OK bagi saya mereka juga harus berlatih untuk „taat aturan”. Toh InsyaAllah bukan ketaatan yang buta, ketaatan tanpa dasar yang jelas. Dan kami sudah mempunyai alasan penting mengapa kami menyekolahkan mereka di sekolah tersebut. Salah satunya pendidikan tauhidnya sangat bagus. Namun sebagai orang tua saya pun tidak ingin „keunikan” anak saya hilang.

Barangkali sudah saatnya kita meyakini pendapat Einstein; Dengan logika kita bisa beranjak dari A ke B, dengan imaginasi kita beranjak dari A ke tak terhingga.

Dalam tulisan ini, saya mencoba menghadirkan langkah-langkah kecil yang sudah kami buat untuk anak-anak kami dalam rangka „membuat keseimbangan” tersebut.. Dengan rasa cinta kasih kami, dengan imaginasi kami , dengan intuisi kami sebagai orangtua, dengan referensi yang secukupnya namun mendasar, kami sudah berusaha membuat geliat kecil, langkah kecil yang kami mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.. Kami adalah sebuah team work.

Menurut pengamatan kami, anak-anak kami adalah tipe anak-anak yang cukup menonjol otak kanannya. Mereka cukup kuat dan tangguh bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekolah yang nota bene banyak mengolah otak kiri. Menurut teori, orang-orang yang menonjol otak kanannya lebih lentur, lebih mudah menyesuaikan diri pada lingkungan yang kaku sekalipun walau bukan berarti tanpa gejolak samasekali. Sebagai bukti dapat dicermati, para seniman jaman dahulu ( pelukis, sastrawan) ternyata mereka juga ahli mate-matika, science, hukum dan sebagainya.

Inilah kegiatan-kegiatan yang sudah kami lakukan ketika anak-anak berada di rumah atau liburan :

1. Dubbing Yuukkk…!!

Kebiasaan kami bersantai di teras kadang diwarnai dengan permainan yang cukup menarik. Yaitu “dubbing”. Men dubbing apa ? Kadang-kadang kucing yang wara-wiri di halaman, kadang-kadang semut yang berkeliaran, bisa juga pohon atau rumput. Dan itu kami lakukan dengan spontan, biasanya saya yang memulai. Bisa dibayangkan? Misalnya ada kucing lewat secara spontan saya men dubbingnya ” Wah…cari makan ga ada nih…adanya rumput gimana dong?” Kemudian anak-anakpun menyahut : ” Ya udah deh ga apa-apa adanya rumput aku makan aja, dari pada lapar!” Dan kamipun tertawa lepas. Gokil bukan ? Yah menjadi orangtua memang kadang-kadang perlu sedikit gokil.

2. Mengarang Cerita Yuukkk !!

Ini bukan mengarang cerita seperti pada pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Menggunakan pikiran utama dan pikiran penjelas. Tetapi begini, saya menyediakan beberapa gambar, apa saja. Kadang saya ambil dari buku lama mereka, yaitu buku belajar mengenal huruf. Dalam buku mengenal huruf biasanya disertai gambar-gambar yang menarik. Gambar-gambar tersebut saya susun mendatar, kemudian anak-anak saya persilahkan membuat cerita berdasar gambar tesebut.. Sebagai contoh: Saya meletakkan gambar jagung, gambar orang, gambar bantal, gambar tv. Kemudian saya meminta mereka membuat sebuah cerita berdasar gambar tersebut secara langsung, tidak tertulis.

Salah satu anak saya membuat cerita demikian: Setelah menanam jagung, paman kecapekan, dia tidur santai dengan bantal empuk sambil nonton tv.

3. ABC Yuukkk !!

Di daerah Jakarta permainan ini di sebut ABC lima dasar. Di sebagian wilayah Jawa Barat, menurut sumber yakni asisten rumah tangga saya disebut permainan “gagarudaan”. Di daerah Jawa tengah khususnya Solo permainan ini dimulai dengan kata “sombyong”. Kemudian para pemain memberikan jari-jari tangan mereka, terserah berapa jumlahnya. Kemudian mulai di diucapkan A,B, C dst sambil menunjuk jari-jari para pemain sampai terakhir jatuh pada huruf apa. Biasanya, pada umumnya, pertanyaaannya adalah menyebutkan nama binatang, hewan, buah, kendaraan, negara dan sebagainya yang “diawali” dari huruf yang disebut tadi ( berdasarkan jumlah jari). Namun, berbeda dengan permainan kami, kami menyuruh mereka menyebut sesuatu yang “diakhiri” atau ” ditengahnya” dengan huruf yang disebut terakhir (sesuai jumlah jari yang diberikan tadi). Sebagai contoh: Huruf terakhir berdasar jumlah jari jatuh pada huruf H, pertanyaannya bukan sebutkan nama binatang yang diawali dengan huruf H tetapi sebutkan nama binatang yang diakhiri atau ditengahi dengan huruf H. Lebih seru kan?

4. Theather Yuukk !!

Dari sekolah, Anak-anak diajarkan lagu-lagu tentang Nabi. Lagu tersebut menceritakan tentang sifat yang menonjol, atau karakter dari para Nabi. Misalnya Nabi Idris, ilmuwan pertama, Nabi Sulaiman, raja yang kaya dan bijak, tidak sombong. Nabi Daud walau kecil tapi pemberani, ahli dalam membuat baju perang dsb. Suatu ketika ketika si tengah bernyayi, si sulung mempraktekkan gerakan sesuai karakter-karakter tersebut. Saya sangat kagum dengan kreatifitas mereka. Sejak saat itulah saya saya mengadopsi ide mereka menjadi kegiatan yang kadang-kadang kami lakukan. Walau diulang beberapa kali namun kegiatan ini tetap menjadi kegiatan yang seru bagi kami. Akhirnya kegiatan ini saya kembangkan, misalnya saya meminta mereka memperagakan sebuah pohon yang tertiup angin, memperagakan seorang ibu, seorang ayah, seorang dokter dsb.

5. Nonton Konser Yuukk

Jangan dibayangkan saya harus mengelarkan kocek ratusan ribu untuk membeli tiket konser tersebut. Konser ini adalah mendengarkan, melihat ayah mereka bermain gitar sambil bernyanyi. Dari lagu religi, slow rock, lagu anak-anak sampai lagu di film-film kartun ( Naruto ). Kebetulan suami bisa dikatakan seniman. Lihai sekali menggambar, bisa memainkan berbagai alat musik, bisa juga meng aransemen musik juga mixing.

Dalam acara ini, anak-anak kadang me requet lagu yang mereka inginkan. Sambil sesekali ngobrol tentang masalah-masalah mereka menghadapi tenman-temannya ataupun kesulitan materi pelajaran mereka.

6. Diskusi Yuukkk

Entah di bawah pohon, entah di teras, entah diruang tengah dengan camilan atau tanpa camilan.kebiasaan kami yang lain lagi adalah “diskusi”.

Tentang apa ? Apa aja yang penting duduk bersama, ngobrol dan memancing mereka untuk berani mengungkapkan pendapat atau bercerita. Sebenarnya acara ini alamiah saja, tidak pernah kami setting terlalu serius, mungkin karena kami sebagai orangtua punya hobi “mengobrol”.

Tak jarang saat kami berdiskusi masalah bisnis, mereka terlibat. Toh materi diskusi kami aman, jadi apa salahnya mereka mendengar dan terlibat?. Menurut pemikiran kami, sekalian men -transfer pengetahuan tentang entrepenuership

7. Mensortir Yuukk

Mensortir apa ? Mensortir mainan mereka. Sudah menjadi pemikiran saya, tidak akan sembarangan membuang mainan tanpa izin mereka lebih dahulu . Kecuali mainan yang sudah rusak parah. Mengapa? Saya tidak ingin membuat mereka kecewa, jelek bagi kita belum tentu jelek bagi anak-anak. Alasan lain yang cukup menarik, kadang-kadang dari mainan rusak tersebut mereka bisa membuat „mainan baru” , hebat bukan ? Oleh karena itulah kegiatan mesortir ini saya adakan. Mereka yang meneliti sendiri mana mainan yang masih mungkin digunakan. Kadang mereka ber tiga berdiskusi, kira-kira mainan bekas tersebut bisa dibuat apa. Tangan robot yang sudah lepas kadang disambungkan pada bekas botol mineral, menjad robot baru. Kardus vitamin disambung dengan kepala robot yang lepas menjadi robot baru. CD rusak dipasangkan pada kardus susu yang ditumpuk menjadi sebuah tank. Dan masih banyak lagi kreasi mereka. Saya pribadi sangat menikmati kegiatan ini dan sering terkagum-kagun dengan imaginasi dan kreatifitas mereka.

8. Menggubah lagu Yuukk

Sekarang makin marak saja lagu yang menunjukkan „weak character”. Sakit hati dan kecewa yang berlebihan, perselingkuhan, egoisme dan kadang-kadang ada lagu yang dibuat seolah-olah untuk mendapat penilaian “tidak mutu” secara irama maupun lirik. ( wah maaf, hehe) . Walau kami sebagai orangtua tidak hobi dengan lagu-lagu macam itu tetapi anak-anak tetap saja mendengar. Mungkin dari iklan tv atau dari teman-teman mereka. Tidak dipungkiri memang lagu-lagu tersebut ada juga yang “enak di dengar” iramanya. Oleh karena itulah saya sering mengajak mereka merubah lirik lagu tersebut “habis-habisan”, Kebetulan sekali di sekolah mereka, para guru juga sering menggubah lagu.

Demikianlah contoh-contoh konkrit geliat kecil kami, langkah kecil kami dalam usaha membuat keseimbangan antara sistim sekolah dengan konsep „child center”, antara pengolahan otak kiri dengan pengolahan otak kanan. Sebenarnya masih ada beberapa kegiatan lagi yang biasa kami lakukan, namun nampaknya terlalu panjang bila harus saya tuliskan semuanya. Dan saya yakin banyak pula orangtua yang sudah melakukan kegiatan-kegiatan semacam ini. Bagaimana? kegiatan kami tidak memerlukan effort yang besar bukan ? Namun yang jelas diperlukan sebuah niat, komitmen, konsistensi juga kepercayaan diri. Alhamdulillah beberapa kegiatan tersebut ada yang saya adopsi untuk acara anak-anak yang dulu kami selenggarakan 2 minggu sekali ( sekelompok ibu yang peduli pendidikan dan pengasuhan anak dari sekolah anak-anak kami )

Semoga bermanfaat

Pekayon, 20 Juni 2011

** Photo, koleksi pribadi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring Bareng …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

[Cermin] Tentang Keimanan …

Meta Morfillah | 7 jam lalu

Mewujudkan Independensi Mahkamah Agung dalam …

Zulkifli Muhammad | 8 jam lalu

Nikmatnya Berwisata Sambil Berdinas …

Dizzman | 8 jam lalu

Menyoal “Kurtilas Terancam Gagal” …

Dede Taufik | 8 jam lalu

“Off the Record” …

Ronny Wijaya | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: