Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Rizal Siswantoro

SAYA SEORANG YANG SEDANG MENCOBA MENETANG HUKUM ALAM, YANG JUJUR BAKALAN HANCUR

PonPes Solusi Pendidikan Indonesia

OPINI | 22 June 2011 | 10:02 Dibaca: 190   Komentar: 0   0

Saat ini banyak hal-hal yang disangkutkan pada syari’ah seperti bank syari’ah yang telah menjamur kemana-mana. Namun, kenapa unsur syari’ah ini tidak dimasukan kedalam unsure pendidikan diindonesia, padahal Indonesia merupakan Negara yang berketuhanan maha esa. meskipun sebenarnya disetiap sekolah terdapat pelajaran agama, tetapi apakah agama ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?. Sebenarnya apa itu agama, banyak orang mendefinisikan agama hanya sebagai pelengkap sebuah kehidupan. Pemikiran yang seperti inilah yang seharusnya dirubah, mari agama jadikan oksigen dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti pesan kyai besar ponpes gontor “jadikan agama oksigen dalam kehidupan” yang menjadi sumber nafas kehidupan. Realita pendidikan Indonesia meruapakan realita yang sungguh aneh tapi nyata, banyak hasil didikan sekolah-sekolah, bahkan universitas-universitas, menghasilkan orang yang hanya terdidik secara intelektualitasnya, namun, spiritualnya kurang. Akhirnya, itupun berdampak pada kader-kader yang tidak memperbaiki bangsa malah merusak sebuah bangsa.
Ada sebuah system pendidikan asli ala Indonesia, ayng seharusnya merupakan sebuah system pendidikan yang sangat maju karena system ini benar-benar menggembleng secara fisik maupun mental. Orang dulu menyebutnya padepokan, dulu padepokan ini merupakan tempat belajar ilmu-ilmu kanuragan, pencak silat, sejenis beladiri lainnya, dimana sang murid tinggal dipadepokan untuk belajar dan menjalani kehidupan sehari-harinya sepuaya dekat dengan sang guru. Kemudian system ini diikuti oleh pondok-pesantren atau biasa disebut pesantren, kalau pesantren lebih cenderung dengan pelajaran agama islam seperti al-Quran dan sunnah nabi. Pesantren bermula dari kegiatan-kegiatan mengaji dimasjid, atau mushola, yang gurunya biasa disebut dengan kyai. Biasanya santri (sebutan untuk murid yang belajar dipesantren) tidak berasal dari sekitar masjid itu saja tapi dari daerah-daerah jauh, akhirnya untuk memudahkan akomodasi santri meminta izin untuk mendirikan gubuk disekitar masjid untuk dia tinggali, sehingga dia tidak harus pulang-pergi setiap hari, lama-kelamaan daerah sekitar masjid banyak gubuk gubuk yang didirikan santri, akhirnya muncullah istilah pesantren yang berasal dari pe-santri-an. Pesantren dari dulu lebih cenderung bertempat di daerah yang jauh dari keramaian kota, jadi pesantren lebih tersebar dipelosok-pelosok desa, ini untuk memudahkan santri untuk berkonsentrasi belajar. Pesantren memiliki beberapa jenis, pesantren salafi (pesantren yang biasanya hanya mengkaji tentang al-Quran dan sunah Nabi), pesantren modern (pesantren yang memasukan pelajaran umum dalam kurikulum pendidikannya) yang membedakan biasanya hanya mata pelajaran yang dimasukan dalam pengajaran kesehariannya. Keberadaan pesantren di Indonesia, hampir terdapat dipelosk negeri dari sabang sampai merauke. Namun, pusat pendidikan pesantren ini lebih cenderung di jawa timur dan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena banyak orang-orang jawa lebih terbiasa menerima pendidikan pesantren yang mirip padepokan, ada hal-hal yang terkenal dari pesantren umum
1. Tidak ada pencampuran genre jadi laki-laki dan perempuan dipisah, inilah yang biasanya menjadikan berat para remaja sekarang untuk belajar dipesantren
2. Sumber penyakit gatal, ini lebih terkenal lagi anak pesantren pasti kena penyakit gatal, sampai ada isu dia baru diterima di pesantren itu kalau sudah terkena penyakit gatal
3. Gaptek, anak pesantren biasanya kurang mengerti teknologi seperti browsing, chating, dkk. Ini memang disengaja kalau dipesantren.
4. Dan hal-hal yang terkenal menyeramkan lainnya
Nilai-nilai yang ditekankan secara umum adalah kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri. Santri biasanya tidak hanya belajar ngaji atau belajar umum (ponpes modern) tetapi juga membantu pekerjaan pak kyai, jika pak kyai memiliki lading, saantri ikut menggarpnya, atau memiliki hewan ternak santri membantu menggembalakannya. Ini untuk menciptakan jiwa keikhlasan, di pesantren biasanya setiap orang telah mendapatkan jatah makanan masing-masing tidak kurang dan tidak lebih, ini untuk menciptakn jiwa kesederhanaan, di pesantren kita dilatih untuk berpuasa sunah rutin, menjaga dari apa-apa yang bukan haknya termasuk lawan jenis. Namun juga ada nilai-nilai untuk membentuk jasmani, sepeti olah raga pagi, senam, lari-lari kecil, dll. Dipesantren tidak diajarkan untuk sekedar mengenal agama tetapi memahami dan menjalankan agama tersebut sebagai pedoman kehidupan. Hal ini secara tidak langsung akan menciptakan seorang yang memiliki karakter kuat untuk kedepannya. Ketika agama sudah dijadikan pedoman dalam kehidupan, maka pendidikan yang bersifat dunia akan bias diterima dengan baik, karena disini terdapat filter yang menyaring setiap saat. Seorang murid tidak akan mudah untuk mencontek, karena dia takut akan dosa dan balasan yang akan didaptkannya, ini akan menciptakan pola piker yang efektif dan efisien yang didasarkan akal nurani.
Kejadian-kejadian luar biasa dalm tiga bulan terakhir
1. Tiga anak kelas tiga tsanawiyah (SMP) membunuh temannya, karena sering dipalakin
2. Polisi merazia anak SMA yang sedang pesta narkoba, prayaan berakhirnya UN
3. Puluhan kendaraan di sita karena tidak disertai dokumen lengkap, konfoi perayaan UN dibatalkan
4. Ditinggal pacarnya siswi SMA nekat bunuh diri
Mungkin akan terus bertambah lagi berita-berita yang seperti diatas, inilah hasil didikan yang hanya bersifat horizontal menciptakan para intelektualitas yang bersifat materialistis, padahal tujuan pendidikan tidak hanya untuk mencari pekerjaan, menciptakan intelektual, tetapi juga perilaku dan akhlak, budi-pekerti yang baik. Semua sekolah di Indonesia hanya mengejar target, semua hanya sekedar asal saja, asal kenal agama, asal ngaji, dan asal-asal yang lain, akhirnyapun menghasilkan murid-murid yang asal-asalan juga. Di era teknologi informasi ini, pengawasan secara individu hapir tidak mungkin dilakukan, hampir disetiap sudut banyak informasi-informasi yang seharusnya disaring terlebih dahulu, namun karena tidak ada filter semuanya dicerna secara mentah-mentah, akal tidak digunakan dengan sepatutnya, hati tidak ditempatkan pada tempatnya, asal sisi materialistis mereka terpenuhi maka cukuplah bagi mereka. Pola piker yang seperti inilah yang seharusnya dihindari, supaya bias menciptakan kader-kader masa depan yang berkualitas, sehingga bisa mengentaskan bangsa ini dari penyakit korupsi.
Ketidak sinkronan ini menyebabkan keterpurukan mentalitas bangsa ini, sang guru mengatakan “jangan sampai akal menunggangi nurani dan jangan sampai nafsu menunggangi akal” pendidikan merupakan hal terpenting dalam proses kemajuan Negara, contoh ; Negara jepang setelah terkena bom atom di kota hirosima dan Nagasaki, hampir semua penduduk tewas disana, pertama kali yang ditanyakan oleh kaisar jepang saat itu adalah “ada berapa guru taman kanak-kanak yang masih tersisa” ini menunjukan seberapa penting pendidikan dalam proses perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, marilah majukan dan perbaiki pendidikan bangsa ini.
Harus segera disadari, sistem pendidikan di Indonesia sekarang semakin menurun, dikatakan menurun karena pendidikan di Indonesia lebih cenderung membangun pada fisik luar saja, tetapi kurang dari segi mental dan spiritual. Hendaknya kita banyak bercermin di jaman-jaman sebelumnya, dahulu banyak dijumpai ilmuwan-ilmuwan besar yang memiliki spiritual yang kuat, sisi hubungannya dengan sang pencipta, hal ini banyak dinyatakan dalam buku-buku sejarah. Secara umum kondisi lembaga pendidikan Ponpes di Indonesia masih ditandai oleh berbagai kelemahan, yaitu:
- Terkekang hanya pada suatu kaum dan kelompok-kelompok tertentu
- Lembaga pendidikan yang bersistem ponpes belum memiliki SDM, manajemen dan dana pendidikan yang dapat dihandalkan.
- Terdapat kesenjangan social antara pendidikan yang mengangkat agama sebagai landasannya dengan kehidupan masyarakat di Indonesia
- Berkurnagnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pesantren
- munculnya isu-isu yang disangkutpautkan dengan agama dan sara
- Berkurangnya kualitas pendidikan pesantren saat ini.
- Output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan belum sesuai dengan keinginan masyarakat yang akan menyebabkan kesenjangan antara lembaga pendidikan berbasis agama dengan masyarakat.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi tantangan tersebut adalah:
1. Menjadikan pesantren tidak hanya sekedar untuk menuntut ilmu agama , tapi jadikan pesantren lingkungan yang scientist, social, dan agamis
2. Mengaktifkan setiap komponen kurikulum agar berfungsi lebih maksimal
3. Meningkatkan profesionalitas guru, dan menejerial
4. Meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana
5. Terdapat dukungan penuh dari berbagai pihak, khusunya pemerintah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 16 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: