
“”Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala”.” (Ungkapan Sayyid Quthb yang dikutip A. Fuadi pada acara Blogshop N5M Bandung, 10/03/2012 ) My Website; http://www.zonakerja.tk
Dibaca: 149
Komentar: 1
Nihil
Pembuatan patung, tidak berhenti hanya sekedar sebagai persoalan fikih saja, tetapi berlanjut sampai pada persoalan akidah, terkadang patung-patung itu menjadi sesembahan selain Allah.
Membentuk makhluk itu adalah perbuatan Allah Ta’ala.
Dari Aisyah Ummul Mukminin, Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan tentang gereja yang pernah mereka lihat di Habasyah. Di dalamnya terdapat berbagai lukisan. Mereka menceritakannya kepada Rasul Muhammad saw. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kebiasaan orang-orang seperti mereka, apabila ada salah di antara mereka yang meninggal dunia, akan mereka dirikan masjid di atas kuburan mereka, lalu mereka buat lukisan-lukisan tersebut. Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk di sisi Allah di Hari Kiamat nanti.” (HR. Al-Bukhari 416 dan Muslim 528)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
“Hadits tersebut mengandung pengharaman terhadap lukisan.” (Fathul Baari I : 525)
An-Nawawi berkata:
“Para ulama, termasuk sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa melukis banda-benda hidup hukumnya adalah haram seharam-haramnya; termasuk kategori dosa besar, karena sudah terkena ancaman yang disebutkan dalam banyak hadits. Tidak ada bedanya antara gambar yang bukan hiasan atau yang berupa hiasan, membuatnya tetap haram hukumnya, kapan dan di manapun juga. Karena itu merupakan sikap meniru-niru ciptaan Allah Ta’ala. Tak juga beda antara gambar di kaus, karpet, uang logam maupun kertas, cawan, dinding dan yang lainnya. Adapun menggambar pepohonan, pelana unta dan sejenisnya yang tidak mengandung benda-benda bernyawa, hukumnya tidak haram. Demikianlah hukum dari melukis benda hidup.” Lihat Syarah Muslim (XIV : 81)
Dari Said bin Abul Hasan meriwayatkan bahwa ia menceritakan: Saya pernah duduk dalam majelis Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu. Tiba-tiba datang seorang lelaki bertanya: “Wahai Abu Abbas! Saya ini orang yang kerjanya cuma dengan cara ini. Saya seorang pelukis.” Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu menjawab: “Saya hanya akan memberitahukan kepadamu apa yang kudengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda: “Barangsiapa yang melukis gambar, pasti akan disiksa oleh Allah swt sampai ia mampu meniupkan ruh ke dalam gambar-gambar tersebut. Padahal ia tidak akan mampu meniupkan ruh tersebut selamanya.” Serta merta lelaki tadi merangkak dengan susah payah, wajahnya memucat. Maka Ibnu Abbas berkata: “Kalau kamu masih membandel, silakan kamu menggambar pepohonan dan segala sesuatu yang tidak bernyawa.” HR. Al-Bukhari (2112) dan Muslim (2110)

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ia menceritakan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling berat siksanya di Hari Kiamat nanti adalah para pelukis.” HR. Al-Bukhari (5606) dan Muslim (2109)
Dari Abdullah bin Amru bin Aash Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ia menceritakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat lukisan ini akan disiksa di hari kiamat nanti, lalu diperintahkan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kalian ciptakan itu.” HR. Al-Bukhari (5607) dan Muslim (2108).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ia pernah masuk ke Al-Madinah. Tiba-tiba ia lihat di bagian atas kota tersebut terdapat lukisan. Maka ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (menceritakan firman Allah):
“Tidak ada yang lebih zhalim dari orang yang menciptakan sesuatu meniru ciptaan-Ku. Coba mereka coba menciptakan biji-bijian atau sebiji dzarrah!” HR. Al-Bukhari (5609) dan Muslim (2111).
Imam An-Nawawi menyatakan: “Sabda beliau saw : “Coba mereka coba menciptakan biji-bijian atau sebiji dzarrah!” artinya: coba mereka menciptakan biji dzarrah yang bernyawa dan beraktivitas sendiri sebagaimana yang diciptakan oleh Allah. Demikian juga, coba mereka menciptakan biji gandum dan sejenisnya yang memiliki rasa, dapat dimakan, ditanam dan tumbuh, serta memiliki segala kriteria yang terdapat dalam biji gandum dan berbagai jenis biji-bijian lain yang diciptakan oleh Allah. Perintah itu untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia melakukannya sebagaimana dijelaskan sebelumnya.” Lihat Syarah Muslim oleh An-Nawawi (XIV : 90). Karena yang mampu menciptakan biji-bijian yang hidup dari sebelumnya tidak ada hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Abu Jahfah meriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah melarang menjual anjing dan darah, melarang orang membuat tato atau dibuatkan tato, melarang orang yang memberi dan memakan riba, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat para pelukis (benda hidup).” HR. Al-Bukhari (1980).