Artikel

Edukasi

Muthofarhadi

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

“”Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala”.” (Ungkapan Sayyid Quthb yang dikutip A. Fuadi pada acara Blogshop N5M Bandung, 10/03/2012 ) My Website; http://www.zonakerja.tk

Pada Awalnya Patung Tidak Disembah


REP | 27 June 2011 | 12:27 Dibaca: 151   Komentar: 3   Nihil

13057786761704228544Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa “Berhala-berhala yang dahulu ada di kalangan umat Nabi Nuh, akhirnya berpindah ke negeri Arab pada masa selanjutnya. Adapun berhala Wudd, ada di Daumatul Jandal. Berhala Suwaa’, ada di kalangan Bani Hudzail. Sementara Yaghuts ada di kalangan Bani Ghatthaf di daerah Jauf di Saba. Ya’uq adalah milik Bani Hamdaan. Sementara berhala Nashr menjadi milik Humair, dari keluarga Dzil Kilaa’. Mereka pada asalnya adalah orang-orang shalih dari umat Nabi Nuh. Setelah mereka meninggal dunia, syetan membisikkan kepada kaumnya agar membuat patung mereka di majelis-majelis yang biasa mereka hadiri, menamakan patung-patung itu dengan nama mereka. Merekapun mengerjakan apa yang dibisikkan oleh syetan tersebut. Pada awalnya, patung-patung itu tidaklah disembah. Tetapi setelah mereka meninggal dunia pula, ilmu tentang perkara itupun sudah tidak diketahui lagi, akhirnya patung-patung itupun disembah. (HR. Al-Bukhari 4636)

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan: “Demikian juga halnya dengan Al-Laata. Sebab ia disembah adalah pengagungan terhadap kuburan orang yang dianggap shalih yang menjadi kebiasaan di kala itu.” Lihat Iqtidhaa-ush Shiratil Mustaqiem II : 333. Beliau melanjutkan: “Sebab ini (yakni pengagungan) yang akhirnya menjadi alasan syariat melarang membuat patung. Itulah yang telah menjerumuskan banyak umat ke dalam syirik besar, atau syirik yang lebih kecil dari itu.” Shiratil Mustaqiem II : 334)

Ibnul Qayyim -Rahimahumullah– menjelaskan tentang permainan syetan terhadap orang-orang Nashrani: “Syetan mempermainkan mereka sehingga mereka mau membuat lukisan-lukisan di gereja-gereja mereka. Tidak akan kita dapatkan di gereja mereka yang manapun yang tidak terdapat lukisan Maryam, Masih, Georgea, Petrus dan yang lainnya dari kalangan yang menurut mereka adalah orang-orang suci. Kebanyakan mereka akhirnya bersujud kepada lukisan-lukisan tersebut, meminta doa kepada mereka selain juga kepada Allah swt. Melalui jalan Aleksanderia, telah ditulis sepucuk surat kepada Raja Romawi yang menjelaskan alasan kenapa mereka bersujud kepada lukisan-lukisan tersebut. Mereka mengisahkan bahwa Allah swt pernah memerintahkan Nabi Musa untuk membuat lukisan Sarwis di kuburan Az-Zaman. Sulaiman bin Dawud ketika membuat semacam candi, juga membuat gambar Sarwis dari emas, lalu beliau pasang dalam candi tersebut.” Dalam surat yang sama disebutkan: “Permisalan dari perbuatan ini adalah seperti seorang raja yang menulis surat kepada para bawahannya. Si bawahan mengambil surat tersebut, menciumnya dan meletakkanya di dinding, lalu ia berdiri menghormatinya. Penghormatan itu bukanlah untuk kertas tersebut, juga bukan untuk tinta pada kertas itu, tetapi untuk sang raja. Demikian juga sujud kepada lukisan itu bukanlah penghormatan terhadap warna dan cat lukisan tersebut, tetapi kepada pemilik nama yang tergambar pada lukisan itu.” Padahal dengan cara itu pulalah, terjadi berbagai penyembahan berhala yang ada.” Ighatsatul Lahfaan (II : 292)

Ibnul Qayyim juga menyatakan: “Kebanyakan syirik yang terjadi di tengah umat berasal dari lukisan-lukisan dan kuburan-kuburan itu.” Zadul Ma’aad III : 458)

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Jangan kamu menghormat aku (saw) seperti orang-orang Nasrani menghormati Isa as bin Maryam, tetapi katakanlah, bahwa Muhammad (saw) itu hamba Allah swt dan RasulNya.” (Riwayat Bukhari dan lain-lain)

Mereka bermaksud akan berdiri apabila melihat Nabi, sebagai suatu penghormatan kepadanya, dan untuk mengagungkan kedudukannya.

Cara semacam berdiri menghormati manusia, dilarang oleh Nabi dengan sabdanya:

“Jangan kamu berdiri seperti orang-orang ajam (selain Arab) yang berdiri untuk menghormat satu sama lain.” (Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Beliau pun memberikan suatu peringatan kepada umatnya, sikap yang berlebih-lebihan terhadap kedudukan Nabi saw sesudah beliau mati, maka bersabdalah Nabi sebagai berikut:

“Jangan kamu menjadikan kuburku (saw) ini sebagai tempat hari raya.” (Riwayat Abu Daud)

Dan dalam doanya kepada Tuhan swt beliau mengatakan:

“Ya Allah! Jangan engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.” (Riwayat Malik)

Ada beberapa orang datang kepada Nabi s.a.w., mereka itu memanggil Nabi saw dengan kata-katanya:

“Hai orang baik kami dan anak orang baik kami, hai tuan kami dan anak tuan kami.”

Mendengar panggilan seperti itu, Nabi saw kemudian menegurnya dengan sabdanya sebagai berikut:

“Hai manusia! Ucapkanlah seperti ucapanmu biasa atau hampir seperti ucapanmu yang biasa itu, jangan kamu dapat diperdayakan oleh syaitan. Saya adalah Muhammad (saw), hamba Allah swt dan pesuruhNya. Saya tidak suka kamu mengangkat aku lebih dari kedudukanku yang telah Allah swt tempatkan aku.” (Riwayat Nasa’i)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: