Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Inda Merinda

mahasiswa fakultas teknik universitas pattimura ambon. hobby menulis

Sekilas Cerita dari Maluku untuk Indonesia

OPINI | 27 June 2011 | 05:31 Dibaca: 82   Komentar: 0   0

Oleh :
Inda
Ketidakstabilan, kekacauan, kehancuran, pemisahan etnik berdasarkan latar belakang agama dan kepercayaan merupakan gambaran singkat dari sekian banyak efek negative yang ditimbulkan akibat konflik bernuansa sara yang melanda wilayah Maluku dan sekitarnya pada tahun 1999 – 2003. Identitas keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan factor utama dalam upaya melindungi diri dari serangan radikal pada suatu golongan agama baik Islam maupun Kristen, secara singkat dapat dijelaskan bahwa keselamatan pribadi akan terjamin jika kita berada pada komunitas agama kita sendiri, Ini adalah fakta yang terjadi pada masa kerusuhan berbau sara tersebut. Tulisan ini tidak bertujuan untuk kembali mengorek luka lama yang menyayat hati, namun melalui tulisan ini dapat kita petik suatu pelajaran berharga dari sebuah kisah nyata tentang Maluku, Pramuka dan Perdamaian.
Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Pramuka di provinsi Maluku memiliki andil besar dalam upaya perdamaian di tanah rempah-rempah yang sedang dilanda konflik social. Ditengah-tengah kemelut hidup yang penuh ketegangan dan serba tak pasti, terdapat sekelompok orang yang berbaris dan saling merangkul dengan penuh ketulusan hati membuktikan kepada orang-orang yang suka bertikai bahwa “kami selalu berpegangan tangan, kami bisa saling menyayangi, kami bisa saling mengasihi padahal kami bukan berasal dari satu ibu. Ada yang berkulit putih, berkulit hitam, berambut ikal dan lurus, ada yang postur tubuhnya pendek dan ada pula yang tinggi dan tentu saja ada yang beagama Islam dan ada yang beragama Kristen tapi satu hal yang kami tahu: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu Bahasa INDONESIA. Bukti cinta kami terhadap Bangsa dan Negara adalah secarik kain merah putih yang selalu menggantung dileher kami dan Pancasila yang menjadi asas dasar kami dalam bertindak.” Tentu saja kelompok ini selalu beridentitaskan seragam coklat tua dan coklat muda, menggunakan lambang tunas kelapa dan WSOM tak lupa pula merah putih yang selalu terisimpul rapi dileher masing-masing, dipastikan komunitas tersebut adalah sebagian kecil dari Anggota Pramuka yang tersebar diseluruh penjuru nusantara.
Ini bukanlah bualan belaka namun fakta yang tak terungkap, ini adalah realitas yang terjadi pada masa suram tersebut. Dikala konflik nyata sedang berlangsung ditengah-tengah perkotaan, Kwartir Daerah Maluku tetap menyelenggrakan Musyawarah Pramuka Penegak Pandega Putra Putri Tingkat Daerah pada Mei 1999 dan lokasi pelaksanaan kegiatannya pada kawasan BHP yang mayoritas penduduknya beragama islam, namun demikian Pramuka pempertahankan konsistensinya sebagai suatu gerakan yang menanamkan jiwa Bhineka Tunggal Ika hingga tidak terjadi apapun terhadap anggota Muspanitra yang tentu saja berasal dari latarbelakang agama yang berbeda , saksi mata pada masa – masa tersebut diantara k’ Saul Saleky, k’ Nana Rajaloa, dll masih dalam kondisi sehat sampai saat ini. Kebersamaan yang terjalin tidak berhenti sampai disini, upaya Kwartir Daerah Maluku melalui Dewan Kerja Maluku pada saat itu dalam bentuk suatu misi kemanusiaan berbuah pengalaman manarik yang patut untuk diteladani. Betapa tidak, disaat warga sipil lainnya selalu berhati-hati dalam melangkah dan bertindak dan para anggota TNI/POLRI tidak pernah melepaskan senjata api dalam genggamannya anggota Dewan Kerja Daerah Maluku pada saat itu mengambil langkah beresiko tinggi untuk sekedar memperoleh data-data yang terbaru tentang pengungsi korban kerusuhan. Tidak tangung-tangung, kakak-kakak pemberani ini bersedia mengorbankan jiwa dan raganya demi membantu korban pengungsian. Yang lebih hebatnya lagi, kakak-kakak tersebut mampu menjelajahi korban pengungsian dari dua komunitas yang sedang bertikai hal ini dapat terlaksana karena prinsip beda agama beda perlakuan tidak diterapkan dalam Gerakan Pramuka dan perlu diinformasikan bahwa kakak-kakak yang bertugas pada program pendataan korban kerusuhan tersebut berasal dari golongan agama yang berbeda.
Pada tahun 2001 Kwartir Daerah Maluku berpatisipasi dalam Jamboree Nasional 2011 yang dilaksanakan di Batu Raden, Jawa Tengah. Pada massa tersebut, pemisahan komunitas dua golongan benar-benar terasa namun tidak halnya dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Maluku yang bersatu padu mengharumkan nama Daerah di kanca Nusantara melalui event nasional tersebut. Benar-benar realitas yang sulit diterima tetapi itulah kenyataannya. tidak berhenti sampai disini, Gerakan Pramuka terus berupaya menyatukan dua kelompok yang bertikai melalui kegiatan-kegiatan edukatif yang penuh prestasi seperti Lomba Tingkat Tahun 2002. Alhasil, generasi muda Maluku yang terlibat aktif dalam gerakan Pramuka tidak pernah memandang perbedaan agama sebagai suatu masalah krusial yang perlu selesaikan. Bukti kongkrit yang menjadi suatu dasar cerita ini bukanlah fiktif belaka adalah para saksi hidup yang masih bergulat dengan roda kehidupan diantaranya K’ Meike Lawalata (01 Dewan Kerja Daerah Maluku sekarang), K’ Eldry Titaley (05 Dewan Kerja Daerah Maluku sekarang) dan masih banyak lainnya.
Hal ini membuktikan peran Gerakan Pramuka dalam upaya perdamaian Maluku yang terjadi secara alami. Kebersamaan yang terjalin menjadi harga mati yang tidak bisa tergoyah meski dihalau konflik bernuasa sara yang terjadi selama bertahun-tahun. Konsistensi Gerakan Pramuka pada Bhineka Tunggal Ika benar-benar dibuktikan pada saat konflik berlangsung, disadari ataupun tidak didikan dalam Gerakan Pramuka benar-benar membektuk karakter generasi cinta tanah air dan menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila yang luhur serta teguh pada kesatuan dan persatuan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 6 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 7 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 11 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: