Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rahmat El Azzam

Blogger | Citizen Journalist | Mobile App Developer| Work at @LPDP_RI | http://rahmathidayatuloh.blogspot.com/

Mendiknas: Jangan Ada Pungutan Masuk SD atau SMP, Pungutannya Kalau Sudah Masuk Saja Yah Pak?

OPINI | 28 June 2011 | 23:36 Dibaca: 258   Komentar: 6   1

sumber gambar :http://ratnaroom.files.wordpress.com

sumber gambar :http://ratnaroom.files.wordpress.com

Memasuki tahun ajaran baru, mendiknas membuat surat keputusan bersama menteri agama untuk tidak memperbolehkan adanya pungutan saat penerimaan siswa baru untuk jenjang SD dan SMP. Jenjang ini adalah jenjang pendidikan dasar dan tidak diperkenankan adanya pungutan dalam penerimaan siswa baru mendatang. “Intinya satu untuk pendidikan dasar SD dan SMP Negeri tidak boleh ada pungutan yang dikaitkan dengan penerimaan siswa baru. Itu sudah kami teken bersama antara saya dan pak Suryadharma Ali,” kata Nuh di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Selasa (28/6/2011).

Kebijakan ini seperti yang sudah-sudah hanyalah sebuah bahasa yang tak ubahnya berganti kata oleh sinonim-sinonim yang telah tersedia di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dahulau katanya sudah tidak ada lagi SPP, tapi nyatanya ada BP3. Seteleh itu sudah tidak ada lagi BP3, nyatanya tetap ada juga penarikan iuran Komite Sekolah. Bahkan ketika ada BOS yang menjamin bahwa tidak ada lagi biaya pada jenjang pendidikan dasar, nyatanya orangtua siswa/wali justru semakin tercekik. Pihak sekolah mengada-adakan biaya berupa buku wajib, seragam wajib, uang bangku, uang taman dan sebagainya. Intinya, pernyataan mendiknas akan tidak ada maknanya ketika tidak menyiapkan sistem dan mekanisme pelaksanaan yang jelas.

Definisi tidak ada pungutan di atas akan luntur begitu saja ketika pihak sekolah mematok biaya formulir, biaya map, biaya Masa Orientasi Siswa (MOS) dan lainnya. Mudah sekali kan, melanggar apa yang menjadi instruksi mentri. Belum lagi, setelah masuk kepada segenap orangtua bersiaplah untuk mengencangkan sabuk, dan membongkar celengan-celengan ang ada. Karena akan begitu banyak istilah-istilah yang dibungkus dengan “sumbangan”. Sunbangan gedunglah, sumbangan manajemen instistusilah, sumbangan pengembanganlah dan sumbangan yang lainnya.

Maka, marilah kita tonton bersama apa jadinya pendidikan ini jika biaya yang begitu besar dikeluarkan tetapi kualitas jauh dari harapan. Belum lagi nantinya bakalan ketika mau kelulusan diperparah dengan adanya UAN, yang saat ini menjadi akal-akalan untuk mengajari anak berbohong bersama.

Mari kita perbaiki pendidikan kita

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 12 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 8 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: