Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

“SMK Bisa!” Bisa naon?

OPINI | 30 June 2011 | 12:20 Dibaca: 3651   Komentar: 15   3

SMK BISA! Itulah slogan yang menyesatkan (kata saya). Slogan yang manis di bibir tapi pahit ditenggorokkan. Saya curiga, ini hanya akal-akalan (strategi) pemerintah untuk tujuan politis. Saya masih ingat jargon SMK Bisa! pertama kali dikemukakan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo ketika membuka Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional ke-17 dan Pameran Kreasi Siswa SMK Tahun 2009, Kamis (21/5). Kita tahu tahun 2009 adalah masa berakhir periode presiden SBY babak I. Dan mencalonkan lagi untuk periode II. Selain itu dengan menggenjot lulusan SMK, maka untuk mendapatkan pekerjaan bisa instan secara waktu. Lulus SMK langsung kerja. Bayangkan dengan orang kuliah, untuk bisa bekerja harus menunggu paling tidak 5 tahun lagi. Effeknya, pemerintah sangat diuntungkan, karena bisa mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Bayanggkan standar kemiskinan versi pemerintah yaitu mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp 211.726 atau sekitar Rp 7.000 per hari. Adapun kategori pengangguran adalah mereka yang tidak menggunakan waktu produktifnya selama seminggu untuk bekerja sampai 35 jam penuh. Atau tidak bekerja minimal 5 jam per hari. Logikanya anak-anak lulusan SMK masa sih, gak bisa nyari duit hanya Rp 7.000 per hari dan kerja 5 jam saja. Jadi pak ogah aja di perempatan jalan, atau tukang parkir dadakan nyari 7 motor/mobil masa gak bisa. Jadi sebuah logika yang dikarang-karang untuk kepentingan penguasa.

Perbandingan SMK dan SMA saat ini mencapai 40% dan 60%.  Dan menurut Menaketrans Muhaimin Iskandar perbandingan ini pada tahun-tahun mendatang akan menjadi 60%  SMK dan 40%SMA. Kesepakatan perubahan komposisi SMU dan SMK itu merupakan langkah lanjut dari penerapan konsep link and match dengan merumuskan kerangka operasional yang menyinergikan kebijakan sektor pendidikan dan sektor ketenagakerjaan,” ungkapnya.

Selama ini masyarakat umum menganggap dengan masuk SMK relatif lebih mudah mencari kerja. Memang betul, karena lulusan SMK kalau tidak kerja ngapain lagi? Mau kuliah ikut SNMPTN, rasa-rasanya berat untuk bisa bersaing dengan lulusan SMA dengan soal-soal ujian yang lebih banyak menguji sisi kognitifnya. Sementara di SMK perbandingan teori dan praktek 40% berbanding 60%. Jadi untuk bisa lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri menjadi hal yang sungguh sangat berat. Paling tidak tercermin dari pengakuan tulus Ridwan Sami seorang kompasianer yang menulis “Saya Tidak Lulus SNMPTN”. Menurut data yang dia miliki bahwa yang lulus SNMPTN di Universitas Bengkulu adalah 96% adalah lulusan SMA, itupun yang lulusan SMK lulus di jurusan yang kurang peminat (tidak populer) seperti Kehutanan, Pertanian, Kelautan, dll. “Inilah nasib lulusan SMK” pungkasnya. Saya melihat, di SMK salah satu pilihan populer adalah jurusan Akuntansi. Dan STAN menjadi pilihan favorite untuk lebih memperdalam ilmu Akuntansinya. Tapi fakta berbicara lain, bahwa mahasiswa STAN yang lulus seleksi UM STAN hampir 90% nya lulusan SMA dan kebanyakan dari mereka dulunya mengambil jurusan IPA.

Saya merasakan langsung dampak lulusan SMK yang tidak didorong untuk melanjutkan kuliah. Saya punya adik sepupu, namanya DEWI IMANASARI. Tahun ini dia lulus dari SMK Al-Ihkwaniyah Pondok Aren Tangerang.  Selama SMK, Alhamdulillah saya bisa membantu biayanya. Dengan mencari beasiswa sana-sini, mencari informasi lewat teman tentang CSR perusahaan yang peduli pendidikan, akhirnya mendapat bantuan biasiswa biaya pendidikan baik SPP, uang buku, uang ujian dll. Selama di SMK 3 tahun boleh dikatakan free karena biaya ada yang nanggung sebuah perusahaan advertising di Jakarta. Sejak awal kelas III saya mengarahkan dan memaksa dia untuk melanjutkan kuliah. Karena ada peluang dan ada kesempatan. Banyak teman saya yang bersedia mengusahakan untuk mendapatkan beasiswa, bahkan ada yang jelas-jelas akan memberi beasiswa. Saya bukan melarang kerja, tapi kalau bisa kuliah dulu. Kerja kan bisa aja setelah lulus kuliah. Dan siapa tahu kalau lulusan kuliah posisinya dalam bekerja bisa lebih baik, bisa dapat kursi empuk dan gaji di atas lulusan SMA/SMK. Dan tentang biaya saya menjamin, karena posisi saya sebagai wirausaha dan membutuhkan karyawan. Kenapa tidak karyawannya adik saya sendiri? fikir saya. Atau kalaupun tidak digaji yang penting bisa kuliah, biaya hidup saya nanggung.

Saya merasakan betul bisa kuliah sambil berdagang kaki lima di pasar kebayoran lama selama 5 tahun dan hidup menumpang di Uwak saya di Pondok Gede. Saya malu kalau hanya numpang hidup. Maka setiap hari saya mengerjakan tugas pembantu, yang memang pembantu uwak saya tidak ada lagi alias disuruh berhenti ketika saya tinggal di rumah tersebut, sebelum dan sepulang dari kuliah di Ciputat. Saya tidak malu jadi pembantu, dan menjadi pedagang kaki lima dari satu pasar ke pasar lain untuk memenuhi kebutuhan finansial saya, karena saya tidak di gaji membantu uwak saya. Tapi gak apalah, memang saya tidak mengharapkan, bisa numpang aja sudah untung. Ini jakarta Bro! Tekad saya yang penting saya bisa kuliah. Saya yakin nasib akan berubah. Dan setidaknya kalau kuliah masih “berpengharapan” akan masa depan yang lebih baik.

Kini Alhamdulillah perubahan itu nampak pada diri saya, paling tidak hidup tidak susah-susah amat. Saya ingin kesengsaraan dan perjuangan saya tidak dialami oleh saudara-saudara maupun adik-adik saya. Maka saya harus membantu memberi luang dan peluang agar mereka bisa kuliah walaupun mereka barasal dari keluarga yang kurang mampu. Saya bertekad mau menjadi orang tua asuh dalam bidang pendidikan agar mereka bisa sekolah dan kuliah, tidak sesulit dan sesengsara  seperti saya. Saya akan nanggung biaya pendidikan dan biaya hidupnya, asal  mau membantu-bantu bekerja part time untuk usaha saya maupun di rumah saya.

Tapi harapan tinggallah harapan dan kenyataan jauh dari harapan. Selepas lulus SMK adikku memutuskan untuk bekerja di pabrik. Atas rayuan orang tua dan saudara-saudaranya dia tidak mau kuliah. Saya kehabisan cara untuk memaksa dia, saya putus asa dalam merayu dia agar mau kuliah dan saya kalah dalam logika di mata  orang tua dan kakak dia yang berpendapat ngapain kuliah meningan kerja aja biar dapat uang, kuliah juga ujung-ujungnya nyari kerja dan nyari uang. Kalau sekarang  bisa kerja dan nyari uang, ngapain harus cape-cape kuliah? Ditambah qodrat menjadi perempuan nantipun akan dibawa oleh suaminya, begitulah alasan yang saya dengar dari orang tua dan saudara-saudaranya. Akhirnya saya mengalah merelakan adik sepupu saya bekerja di pabrik. Dengan mengelus dada saya berfilsafat, tanpa kuliah the life is finish. Ya sudah, terserah lah…

Lulusan SMK mudah mencari kerja. Memang betul adanya. Tapi pekerjaannya apa dulu? yang mana dulu? gajinya berapa dulu? Saya menganalisa bahwa pemerintah mengkonversi SMA ke SMK, memperbanyak SMK untuk menyiapkan tenaga kerja kasar dan rendahan (maaf) dimana bidang-bidang tersebut pasti dikesampingkan oleh orang yang lulus kuliahan. Kita banyak menyaksikan lulusan SMK bekerja sebagai SPG, sebagai pegawai pom bensin, pelayan toko, buruh pabrik, offece boy, cleaning service, tukang parkir, sopir dan yang lainnya. Tidak ada yang salah,  semua pekerjaan baik dan dibutuhkan. Tapi kalau mau jujur dan ada kesempatan yang lebih baik tentu mereka memilih bekerja pada bidang yang lebih baik dan menjadi professional.

Sehingga jargon pemerintah dalam hal ini kemendiknas “SMK Bisa!”  semakin kehilangan rohnya. Karena banyak orang kecewa setelah lulus SMK, mau kuliah susah dan mau kerja hanya menjadi pekerja kasar dan rendahan. Jadi kita patut mengkritisi pemerintah “SMK Bisa!” kita tanyakan lagi “Bisa naon (apa)?”

Wassalam


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 2 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 12 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 12 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

UU di Jadikan Pajangan …

Nurma Syaidah | 7 jam lalu

Tetap Semangat Saat Melakukan Perjalanan …

Vikram - | 7 jam lalu

Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, Pedagang Asong di …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Libatkan KPK Strategi Jokowi Tolak Titipan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Aku dan Siswaku …

Triniel Hapsari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: