Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yudi Hartono

lahir di sumenep,23 april 1987, aktifis PMII situbondo

Pendidikan

OPINI | 07 July 2011 | 17:25 Dibaca: 99   Komentar: 0   0

Pelajaran dari Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW

Oleh: Yudi Hartono

Peristiwa Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa langka yang tidak pernah ada sebelumnya dan sesudahnya. Perjalanan di waktu malam yang di kenal dengan Isro’ Mi’raj dari Masjid Al-Haram (Makkah) ke Masjid Al-Aqso (Palestina) hingga langit ke tujuh atau lebih di kenal dengan Sidhrotil Muntaha hanya dalam tidak sampai satu malam. Sekarang hanya dalam hitungan Jam kita dapat keliling dunia dengan kecanggihan alat transfortasi yang saat ini telah berhasil di ciptakan manusia.

Setelah Beliau melakukan Isro’ Mi’roj serta menceritakannya kepada Masyarakat, banyak sekali kegoncangan terhadap para pengikut Nabi, mereka ragu akan cerita Nabi yang dianggapnya diluar akal sehat masusia tersebut. Tidak sedikit pengikut nabi kembali Murtad begitu nabi menceritakan kejadian Isro’ Mi’roj tersebut, peristiwa tersebut memang sulit di di cerna akal, hanya hati jernih dan penuh keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang bisa menerima.

Peristiwa tersebut merupakan kejadian yang sangat luar biasa dan bentuk cinta Allah kepada Rasulullah SAW. Allah sendirilah yang memperjalankan Nabi Muhammad SAW. dalam peristiwa itu, tepatnya 27 Rajab, Nabi Muhammad SAW dapat saja langsung menuju langit dari Makkah, namun Allah tetap membawanya menuju Masjidil Aqsha, yaitu pusat peribadahan nabi-nabi sebelumnya. Ini dapat diartikan bahwa umat Islam tidak memiliki larangan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia, sekalipun kepada golongan di luar Islam. Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terahir atau penutup sekaligus penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya. Maka, dengan peristiwa langka tersebut Allah memuliakannya melebihi dari kebanyakan manusia dan mahluk pada umumnya.

Peristiwa Isro Mi’raj terjadi ketika nabi sedang dalam kesedihan, dua orang yag merupakan tulangpunggung dan pelindung dakwah nabi yaitu Istri tercintanya Siti Khodijah yang kaya raya dan pamannya Abu Thalib sebagai pemuka bangsa quraisy telah berpulang kerahmatulloh atau yang lebih dikenal dengan tahun duka cita. Saat itu ketika nabi sedang tertidur di dalam Masjidil Haram didatangi oleh malaikat Jibril dan mikail dibedah dada nabi dan di cuci hatinya dengan air zamzam untuk menghilangkan sifat-sifat buruk, lalu di masukkannya kedalam hati nabi dengan iman dan hikmah. Ini adalah merupakan pencucian yang kedua kalinya yang di alami nabi, setelah sebelumnya beliau juga pernah di cuci hatinya dan diisi dengan Rahmah cinta dan kasih sayang sewaktu nabi di asuh oleh Halimatus Sya’diyah.

Setelah dilakukan pencucian tersebut Nabi memulai perjalanannya menuju masjidil Aqso (Palestina) dengan menaiki Buroq yang di bawa malaikat Jibril dan Mikail dari taman surga. Sesampainya di Masjidil Aqso Nabi di sambut oleh para nabi dan rasul-rasul sebelumnya untuk melaksanakan sholat berjamaah dan Nabi Muhammad SAW sebagai imamnya. Hal ini merupakan suatu bentuk penghormatan bahwa derajat Nabi Muhammad SAW diatas kenabiaan dan kerasulan lainnya. Bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dilakukan mereka karena kemulyaan yang di berikan Allah SWT terhadap beliau sebagai penutup para nabi.

Setelah melaksanakan shalat di Masjidil Aqsha, Nabi langsung diangkat naik sampai langit ke tujuh, lalu Sidratul Muntaha dan Baitul Ma’mur. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, pada saat peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Ma’mur, Allah SWT mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan shalat limapuluh kali sehari-semalam. Begitu Nabi Muhammad SAW menerimanya, beliau pulang ke bumi dengan hati senang sekali karena telah di undang untuk menerima perintah shalat yang belum pernah di berikan kepada nabi-nabi sebelumnya.

Namun, sebelum beliau sampai di bumi beliau bertemu Nabi Musa AS memperingatkan, bahwa umat Muhammad SAW tidak akan sanggup dengan limapuluh waktu itu. ”Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu.” Lalu Nabi Muhammad kembali menghadap Allah SWT, meminta keringanan dan ternyata dikabulkan. Tidak lagi limapuluh waktu, tapi sepuluh waktu saja. Nabi Muhammad pun bergegas. Namun Nabi Musa tetap tidak yakin umat Muhammad mampu melakukan shalat sepuluh waktu itu. ”Mintalah lagi keringanan.” Nabi kembali dan akhirnya memeroleh keringanan, menjadi hanya lima waktu saja seperti yang di kerjakan umat islam sekarang.

Sebenarnya Nabi Musa masih keberatan dengan lima waktu itu dan menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk kembali meminta keringanan. Namun Nabi Muhammad malu untuk menghadap Allah SWT karena telah berulang kali menghadap-Nya untuk meminta keringanan atas perintah shalat tersebut. “Aku sudah meminta keringanan kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah.” Nabi Muhammad memang mengakui bahwa pendapat Nabi Musa AS itu benar adanya. Lima kali shalat sehari semalam itu masih memberatkan bagi umatnya.

Peristiwa Isro’ dan Mi’roj diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an tepatnya surah Al-Isra’. Kejadian luar biasa tersebut menjadi insfirasi terhadap umat manusia karena ternyata teknologi transportasi sudah ada jauh sebelum tranportasi saat ini di temuikan. Sebagaimana Firman Allah.

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1)

Terdapat banyak pelajaran kalau dilihat dari sudut pandang tentang Isro’ dan Mi’roj. Dari kacamata Akidah, Isro’ Mi’roj mengajarkan tentang kekuasaan Allah swt. yang tidak terhingga. Dari sudut pandang sains, mengajarkan bagaimana dunia keilmuan masih menyisakan teori ilmiah yang belum terkuak dan dari sudut pandang Ahlak , peristiwa ini mengajarkan bagaimana adab dan akhlak seorang hamba kepada Khaliqnya. Sungguh beragamnya sudut pandang ini menunjukkan keagungan peristiwa yang hanya sekali terjadi sepanjang kehidupan manusia, dan hanya terjadi kepada seorang insan pilihan, Rasulullah SAW, Nabi terahir yang ummi dan yatim piatu serta miskin.

Sayyid Quthb menafsirkan ayat pertama dari surah Al-Isro ini dengan menyebutkan bahwa ungkapan tasbih yang mengawali peristiwa ini menujukkan keagungannya, karena tasbih diucapkan manakala menyaksikan atau melihat sesuatu yang luar bisa yang hanya mampu dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “bi’abdihi” adalah untuk mengingatkan status manusia (Rasulullah) dengan anugerahnya yang bisa mencapai maqam tertinggi Sidratul Muntaha, agar ia tetap sadar akan kedudukanya sebagai manusia meskipun dengan penghargaan dan kedudukan yang tertinggi sekalipun yang tidak akan pernah dicapai oleh seluruh manusia sampai hari kiamat.

Pelajaran Bagi Sang Pemimpin

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa luar biasa tersebut. Peristiwa yang tidak ada sebelum maupun sesudahnya tersebut memberikan inspirasi keilmuan terbesar bagi setiap umat manusia termasuk dalam berbangsa dan bernegara terutama bagi para pemimpin. Seorang pemimpin besar seperti Nabi Muhammad SAW merupakan pemimpin berpengaruh dunia sejak di ciptakannya dunia ini, beliau bisa memimpin dunia bukan karena kekeyaan, kekerasan maupun keberaniaanya. Akan tetapi, karena etika atau ahlak yang luar biasa dalam kehidupannya sehari-hari.

Perubahan besar yang dibentuk Rasulullah SAW di tengah-tengah kehidupan manusia tidak pernah ada tandingannya sepanjang sejarah. Meski dalam keadaan yang sangat sulit, sarana dan prasarana seadanya, dan dukungan massa terbatas. Tak ada kata putus asa, hingga beliau mampu mengikis akar pemikiran dan tradisi jahiliyah kaumnya. Usaha keras Rasulullah SAW berhasil membongkar pohon jahiliyah yang tertanam kuat di dalam hati kaum jahiliyah. Kesabarannya mengantarkan islam merambah ke segenap pelosok dunia yang ajarannya tidak pernah mati terus hidup sepanjang masa.

Beliau berhasil membangun peradaban dan budaya pencerahan yang gemilang. Islam berdiri tegak di atas puing-puing kejahiliyahan dan kondisi sosial primitif yang berkepanjangan. Hal itu tidak lain, karena metode yang mensinergikan akhlak mulia dengan ilmu pengetahuan, mengedepankan keteladanan daripada ucapan, bertahap dan berkesinambungan, mengorelasikan teori pengetahuan dengan percobaan. Beliau telah meretas jalan sukses mengangkat umat manusia dari lumpur jahiyah yang di tularkan kepada para sahabatnya sebagai generasi yang sanggup memikul amanah. Dari para sahabat kepada generasi berikutnya, melestarikan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin. Meski Rasulullah saw wafat menghadap Tuhan semesta alam.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin terbuka atas setiap rencana dan tujuan yang hendak di capai maupun keadaan negara atau lembaga yang di pimpinnya. Yang dimaksud dengan terbuka disini bukan saja terbuka dalam memberikan informasi yang benar tetapi juga mau memberi dan menerima saran/pendapat orang lain, terbuka kepada semua pihak, terutama rakyat untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya baik dalam jabatan maupun bidang lainnya. Isro’ Mi’roj telah memberikan landasan kepada kaum muslimin untuk berlaku jujur dan adil yang ini merupakan kunci keterbukaan walaupun hal itu pahit rasanya. Karena tidak dapat dilakukan keterbukaan apabila kedua unsur ini tidak terpadu. Keterbukaan seorang pemimpin menjadi impian masyarakat untuk mengetahui hal-hal baru yang sebenarnya.

Dari pernyataan diatas jelas bahwa pemimpin mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi keefektifan suatu negara atau instansi melalui kepemimpinan dan interaksi atasan sebagai pemangku kebijakan dengan bawahan atau rakyat. Peran serta bawahan dan masyarakat adalah kesatuan strategi untuk membangun instansi dan negara akan berhasil dalam meraih kemajuan dan kesuksesan. Dalam rangka melaksanakan tugasnya pemimpin harus cooperative dan partisipasif, hal ini disebabkan karena dalam kehidupan ini kita tidak bisa melepaskan diri dari beberapa limitasi (keterbatasan).

Pelajaran dari Isro’ Mi’roj cukup memberi pelajaran bagi para pemimpin dunia terutama pemimpin Indonesia yang ternyata masih banyak mementingkan diri dan kelompoknya sendiri. Pencucian hati bagi calon pemimpin harus dilakukan sebagaimana sebelum keberangkatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Pemimpin dalam memegang ke kuasaan harus mempunyai niat yang tulus untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, bukan hanya sekedar mencari popularitas dan menumpuk kekayaan karena hal itu dapat mengantarkan pemimpin itu pada pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme serta berbagai kebijakan yang memacu gerak langkah bawahan untuk tidak amanah dalam mewakili kepentingan rakyat.

Adanya praktek KKN di negara ini karena awal dari pemimpin itu tidak di barengi dengan hati yang tulus sehingga rakyat yang seharusnya menjadi penuhi kesejahteraannya justru di ambil hak-haknya. Orang yang memiliki kebersihan hati akan mendapat kemuliaan dan derajat yang istimewa dari Allah SWT serta dapat diterima oleh setiap bawahan. Peristiwa Isro’ dan Mi’roj adalah penegasan dari Allah bahwa pada hakekatnya inovator kemajuan teknologi itu dari Islam. Keilmuan yang bersumber dari islam cukup memberi berbagai ilmu untuk membangun negara. Pemimpin yang adil akan tercipta kemakmuran suatu negara dan lahirnya popularitas negara di mata dunia internasional. Dengan sendirinya mereka akan segan karena kebersamaan pemerintah dan masyarakat yang bersatu padu dalam menghadapi tantangan luar negeri.

Sebaliknya, apabila pemimpin tidak memiliki hati yang bersih dan tidak adanya sifat keadilan maka dapat di pastikan kesejahteraan negara selamanya tidak akan terwujud walaupun kekayaan alam yang kita miliki berlimpah ruah. Pemerintah yang dalam hal ini adalah pemimpin tidak bersinergi dalam membangun negara karena sifat individualistik dan materialis para pemimpin. Jabatannya hanya untuk meraup keuntungan belaka tanpa mau melihat penderitaan masyarakatnya. Rakyatpun juga akan menentukan hidupnya sendiri tanpa melihat kerusakan lingungan, resiko yang di timbulkannya. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan mendirikan gerakan-gerakan sparatis yang mengancam keutuhan negara seperti ormas-ormas yang mempunyai pandangan berbeda untuk menegakkan hukum yang berlatar belakang ideologi tertentu.

Menghadapi Drama Kehidupan

Dunia ini adalah panggung sandiwara Tuhan yang telah diatur sedemikian rupa untuk manusia sebagai kholifah di bumi. Manusia itu di atur melalui sebuah sebuah program Islam, iman dan ihsan adalah trilogi agama (addîn) yang membentuk tiga dimensi keagamaan meliputi syarî’ah sebagai realitas hukum, tharîqah sebagai jembatan menuju haqîqah yang merupakan puncak kebenaran esensial. Ketiganya adalah sisi tak terpisahkan dari keutuhan risalah yang dibawa Rasulullah SAW. yang menghadirkan kesatuan aspek eksoterisme (lahir) dan esoterisme (batin).

Tiga dimensi agama ini (islam, iman dan ihsan), masing-masing saling melengkapi satu sama lain. Keislaman seseorang tidak akan sempurna tanpa mengintegrasikan keismanan dan keihsanan. Ketiganya harus berjalan seimbang dalam perilaku dan penghayatan keagamaan umat. Drama kehidupan manusia manusia tersebut telah di gambarkan ketika Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW, tentang umat baeliau yang banyak bergelimang dengan duniawi tanpa melihat akhirat sebagai kehidupan sebenarnya. Kehidupan kekal dan abadi sepanjang masa, dari akhir kehidupan manusia di muka bumi yang hanya sementara.

Hakikat Islam adalah aktifitas badaniah (lahir) dalam menjalankan kewajiban agama, hakikat iman adalah aktifitas hati dalam kepasrahan, dan hakikat ihsan adalah aktifitas ruh dalam penyaksian (musyâhadah) kepada Allah”. Dalam perkembangan selanjutnya, melahirkan disiplin ilmu tauhid, dimensi keihsanan,disiplin ilmu tasawuf atau akhlak.

Karena praktek eksoterisme keagamaan tanpa disertai esoterisme, merupakan kemunafikan. Begitu juga esoterisme tanpa didukung eksoterisme adalah klenik. Semata-mata formalitas adalah tiada guna, demikian juga spiritualitas belaka adalah sia-sia. Mempelajari ilmu tauhid, fiqh dan tasawuf, hanya akan menghasilkan iman ilmul yaqîn, dan jika keimanan ini senantiasa disertai kesadaran hati dan penghayatan amaliah, maka naik ke strata iman ainul yaqîn hingga puncaknya mencapai pada iman Haqqul Yaqîn.

Keimanan terhadap Allah, berarti tauhid atau mengEsakan Allah dalam af’al atau perbuatan seluruh anggota tubuh yang mengEsakan Allah SWT, shifah dan dzât. Dengan demikian, tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid fi’li, yaitu fana’ dari seluruh perbuatan, tauhid washfi, yaitu fana’ dari segala sifat, dan tauhid dzati, yaitu fana’ dari segala yang maujûd atau ada. Fana’ fi’li disebut juga dengan ilmul yaqîn, fana’ washfi disebut juga dengan ‘ainul yaqîn, dan fana’ dzati juga disebut dengan haqqul yaqîn. Kebesaran Allah SWT akan tampak bagi manusia kalau manusia itu melihat dari berbagai sudut pandang dengan kacamata islam, iman, dan ikhsan.

Drama kehidupan yang di tamppak kepada Nabi benar-benar kita rasakan saat saat ini, beliau telah mengetahui sebelum drama kehidupan manusia itu dirasakan manusia. Sehingga Nabi dengan segala upaya berjuang mengentas umatnya dari sumur dosa dan kerakusan terhadap dunia walaupun dirinya di korbankan. Beliau tidak peduli terhadap keselamatan dirinya, sampai menjelang ke wafatannya yang di sebut-sebut umatnya untuk tetap berada di bawah kepemimpinannya. Tidak ada satupun pemimpin di dunia ini yang setara dengan beliau, baik etika maupun kepribadiannya yang membalas setiap orang yang mendholiminya dengan senyuman dan bahkan mendoakan supaya orang tersebut di ampuni dosanya dan di beri petunjuk ke jalan yang lebih di ridhoi oleh Allah SWT.

Mencetak Ilmuan

Pelajaran bagi semua manusia dari Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW adalah kebesaran Allah SWT yang tidak terhingga dalam jagat raya ini. Tidak ada perselisihan antara agama dan ilmu pengetahuan (sains) kalau kita mengacu pada peristiwa Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Kekuasaan Allah yang tak terhingga telah kita dapatkan dengan informasi dari beliau yaitu suatu pejalanan yang kemudian menjawab perselisihan agama dan Ilmu pengetahuan tentang tranportasi ekstra cepat melebihi kecepatan suara bahkan kecepatan cahaya yang hanya 300 000 km/detik.

Alam jagat yang didalamnya terdapat planet-plenet merupakan kebesaran Allah SWT yang sampai saat ini belum ada yang bisa mengungkapnya dimanakah ujung dari dari karya Tuhan yang maha luas ini. Setetes ilmu yang sekarang baru di ungkap tentang luasnya jagat raya ini, sebagaimana kita contohkan matahari yang merupakan tata surya untuk memenuhi kebutuhan manusia dan setiap keberlangsungan mahluk di bumi. Matahari adalah bola raksasa berisi gas yang menjadi pusat peredaran dalam sistem tata surya terletak pada jarak 149,6 juta km dari bumi.

Sang surya itu berjalan mengitari titik pusat pedaran dengan kecepatan yang sangat tinggi sambil memancarkan cahaya. Cahaya itu adalah energi yang berfunngsi mengatur rotasi dan evolusi tata surya sehingga satu dengan yang lainnya tidak berbenturan. Menurut Helmholtz (1821-1894) berpendapat cahaya matahari volume matahari senantiasa menyusut yang akhirnya tidak ada. Maka kalau cahaya matahari sudah tidak ada, terjadilah benturan sesama planet yang dalam hal ini umat islam menyebutnya kiamat.

Terdapat juga bintang-bintang yang sebagian kita lihat dari bumi, kemerlap bintang yang saat ini kita lihat ternyata sinarnya itu adalah sinar yang telah memancar jutaan tahun yang lalu. Sementara cahaya bintang yang saat sekarang masih belum sampai di bumi mengingat jauhnya bintag tersebut dari bumi yang tidak kurang dari ratusan milyar tahun cahaya tersebut. Bintang yang paling dekat ke bumi adalah bintang Alpha Centauri, jaraknya kira-kira 4,3 tahun cahaya. Ketika kita mencoba untuk mengukur jarak bintang tersebut dengan menyebut kecepatan cahaya sama dengan 300.000 km/detik atau 18.000.000 km/menit atau 1.080.000.000 km/jam atau 25.920.000.000 km/hari, kalau 4,3 tahun berapa kilomiter antara bumi dan bintang terdekat tersebut?. Jarak yang dekat tersebut saja sudah tidak bisa membayangkan bagaimana kebesaran yang sebenarnya. Manusia hanya bisa menciptakan Teleskop mount palomar yang garis tengahnya mencapai 5 m dapat melihat bintang yang jaraknya 20 milyar tahun cahaya yang tentunya masih ada bintang yang lebih jauh dari itu tapi belum mampu mendatanginya.

Peciptaan manusia dari dua unsur tanah ruh ilahi lahir sekian banyak daya dan bakat manusia, baik yang sudah maupun yang belum berhasil di ungkap hingga kini. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa unsur tanah melahirkan potensi daya tumbuh yang dengannya manusia mempunyai kekuatan fisik. Berfungsingnya organ tubuh dan panca indra berasal dari unsur ini. Unsur Ilahi lahir daya akal yang mengantarkan manusia memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengungkap setiap kebenaran yang masih belum tampak keberannya.

Daya hati berpotensi mempunyai moral atau etika, merasakan keindahan, mengekpresikannya, serta menikmati kelesatan iman yang di hasilkan melalui panca indra dan di transfer akal kedalam hati. Perpaduan unsur-unsur itu akan menjadikan manusia mengakui kebesaran Tuhan sang pencipta yang telah menciptakan dirianya dari tanah yang tidak memiliki daya apa-apa bila di banding dengan kebesaran-Nya.

Potensi yang mulai berkembag bagaimana di imbangi dengan nilai-nilai luhur demi suksesnya tugas manusia sebagai pengemban amanah yaitu kholifah di bumi. Pengembangan ilmu pengetahuan bila tidak di imbangi nilai-nilai agama yang akan menjadi liar dan menjadikannya merasa bangga dengan prestasi dirinya karena merasa telah berhasil menundukkan dunia. Pengembangan llmu pengetahuan sudah menjadi anjuran bagi umat islam untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda, namun perbedaan potensi itu bagaimana di kolaborasikan untuk menghasilakan sesuatu yang menjadi kebutuhan bersama.

Sebagai mahluk sosial, manusia tentunya sangat membutuhkan terhadap orang lain. Orang kaya membutuhkan orang yang lemah, begitu juga pemimpin membutuhkan terhadap rakyat, dan juga sebaliknya. Maka kebersamaan sangatlah di utamakan dalam meraih kesejahteraan baik dunia sampai akhirat sebagai kehidupan manusia yang sebenarnya. Peristiwa Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW memberi pelajaran tentang bagaimana gambaran seseorang yang mendhalimi sesamanya, kaum yang rakus terhadap kenikmat dunia tanpa mau bersyukur terhadap kekayaannya.

Peristiwa itu bukan cuma sekedar menerima sholat dari Allah SWT, akan tetapi terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil karena semua kehidupan manusia di gambarkan pada peristiwa tersebut. Disinilah mengapa al-Qur’an mengiformasikan tentang pentingnya akal dan hati bersama-sama di fungsikan untuk memetik pelajaran yang sangat berarti tersebut.

Pelajaran secara tersirat akan terkuak dengan sendirinya kalau kita mau menggunakan akal dan hati kita untuk menerima pelajaran secara rinci dari peristiwa Isro’ dan Mi’roj nabi Muhammad SAW yang di lakukanya secara jasmani dan rohani tersebut. Perintah sholat sudah jelas menjadi kewajiban kita sebagai umat islam sudah tidak usah di perdebatkan lagi. Akan tetapi, pelajaran dari peristiwa itu masih banyak kita pelajari secara rinci karena tidak mungkin Allah SWT mengundang beliau jauh ke kasana tanpa alasan yang lebih dari sholat tersebut yaitu edukasi bagi semua umat manusia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 12 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 14 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasianer Dian Kelana Nulis Novel …

Thamrin Sonata | 9 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | 10 jam lalu

Semua Anak Kreatif? …

Khoeri Abdul Muid | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: