Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abdul Muchibbudin

i am muslim n i am an entrepreneur. reading n writing is very exciting activities selengkapnya

Pendidikan Gratis , Mungkinkah?

OPINI | 20 July 2011 | 04:14 Dibaca: 214   Komentar: 9   1

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita tidak lepas dengan yang namanya pendidikan. Mendidik anak , saudara, lingkungan dan masyarakat adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia pada umumnya.

Tanpa adanya pendidikan yang baik, sulit bagi manusia untuk mewujudkan kualitas hidup yang efektif, efesien dan tepat guna. Maka dari itu, pendidikan sangat penting bagi manusia di segala lini kehidupan, entah kalangan kebawah, menengah ataupun kalangan atas yang bergelimangan harta.

Saking urgennya, pendidikan telah menjelma menjadi kebutuhan primer, yaitu kebutuhan yang harus di penuhi agar dapat bertahan hidup. Setara dengan kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Masyarakat sadar akan kebutuhan yang satu ini, sehinggga muncullah wacana untuk membuat system dimana bidang pendididkan itu di laksanakan secara gratis bagi penuntut ilmu. Dalam hal ini pemerintah di tuntut untuk mewujudkannya, karena memang Undang-undang telah mengamanahkan kepada pemerintah agar menjamin pendidikan bagi warganegara Indonesia.

Oleh sebab amanah Undang-undang, lahirlah sekolah negeri. Sekolah ini di biayai oleh pemerintah secara total, mulai dari tanah, bangunan, sarana, gaji guru, dan biaya operasional di beri bantuan dana APBN. Namun keberadaannya tidak dapat menampung seluruh penduduk yang masuk usia belajar. Pemerintah hanya bisa menampung sekitar 50 % dari jumlah usia yang wajib belajar.

Adanya kuota yang yang kosong ini, masyarakat ternyata tak diam diri. Melalui berbagai macam organisasi di bawah yayasan. Lahirlah sebuah sekolah swasta tingkat dasar dan menengah bahkan perguruan tinggi. Hal ini muncul akibat dari rasa sadar diri akan pentingnya pendidikan. Dengan jumlah sekolah yang sangat sedikit yang di wujudkan oleh pemerintah, ternyata tak mampu menampung seluruh penduduk yang wajib menuntut pendidikan.

Memang kalau kita amati , sekolah di negeri lebih murah biayanya dibandingkan dengan sekolah swasta. Sekolah negeri banyak 100% di Bantu Negara sementara sekolah swasta adalah swadaya masyarakat (artinya minim). Sekolah negeri sarananya lengkap, sementara sekolah swasta sangat kurang fasilitasnya.

Kenyataan inilah yang menyebabkan adanya disparitas negeri dan swasta. Masyarakat cenderung memilih sekolah negeri daripada sekolah swasta yang berbiaya lebih mahal. Namun tidak menutup mata bahwa ada sekelompok masyarakat tertentu, yang lebih suka sekolah di swasta karena alasan agama ataupun karena kualitas. Pilihan ini sangat wajar sebab orang tua berkewajiban memberikan pendidikan kepada anaknya dengan pendidikan yang berkualitas dan mampu menopang kehidupannya kelak.

Mereka yang suka menyekolahkan Putranya di sekolah swasta yang berbasis agama , bukan tanpa alasan. Di sekolah negeri memang murah biayanya , akan tetapi mata pelajaran yang di ajarkan sangat minim dengan ilmu agama baik pengetahuan agama, moral agama maupun aplikasi agama dalam kehidupan sehari hari. Hal tersebut di khawatirkan oleh orang tua akan menjerumuskan putranya kearah yang kurang baik, kearah hedonisme yang menuju jalur kehancuran

Sementara mereka yang memilih sekolah swasta yang mengutamakan kualitas, juga memiliki alasan tersendiri. Mereka melihat bahwa sekolah negeri yang di biayai pemerintah mengalami disfungsi pendidikan. Pembelajaran berjalan kurang efektif, kualitas guru melempem karena tanpa persaingan, fasilitas seadanya yang berasal dari pemerintah .

Karena hal tersebut orang tua tipe ini lebih memilih sekolah alternative lainnya yang didirikan oleh pihak swasta. Mereka melihat bahwa pendidikan yang di kelola oleh swasta ( telah terbukti) selalu berusaha menghasilkan output yang berkualitas. Dengan begitu akan ada banyak orang tua yang menyekolahkannya ke sekolah tersebut. Selain itu persaingan yang ketat di antara sekolah melahirkan kebijakan yang ketat terhadap guru agar senantiasa meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran.

Dari kejadian ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan gratis itu sangat sulit di wujudkan terhadap suatu Negara yang SDM pengelola pendidikannya masih rendah. Bahkan akan terpuruk pada penurunan kualitas pendidikan itu sendiri. Sekolah negeri yang seharusnya gratis sebab di biayai pemerintah, ternyata tak mampu meningkatkan pendidikan di Negara dan tidak memiliki daya saing dengan sekolah swasta lainnya.

Kurangnya daya saing inilah, baik karena pengelola ataupun guru membuat kualitas pendidikan menurun, guru tak kreatif, dan pembelajaran berlangsung monoton. Dengan begitu akan memunculkan kebosanan pada siswa yang belajar di sekolah tersebut dan kalau di biarkan terus menerus akan menjadikan pendidikan sebagai momok yang di takuti oleh siswa.

Maka dari itu, kalau kita mau mewujudkan pendidikan yang gratis dan berkualitas, harus di iringi dengan pengawasan yang ketat terhadap pengelola pendidikan. Jangan di biarkan begitu saja. Walaupun para pengelola tersebut telah lulus dalam tes sebagai pengelola yang sesuai dengan SOP yang telah di buat, tidak menutup kemungkinan akan turun kualitasnya baik dari segi ilmu, kinerja, dan kreatifitas.

Salam kompasiana……

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 10 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 14 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: