Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Darmawan Soegandar

Berbeda membuat seseorang lebih bernilai, sedangkan keberbedaan membuat efek negatif atau positif itu persoalan lain. selengkapnya

Sabotase!

OPINI | 30 July 2011 | 00:30 Dibaca: 2754   Komentar: 0   0

Apa sih sabotase itu? Sabotase adalah tindakan pengrusakan yang dilakukan secara terencana, disengaja dan tersembunyi terhadap equipment, personil dan actifity dari bidang sasaran yang ingin dihancurkan yang berada ditengah-tengah masyarakat, kehancuran harus menimbulkan efek psikologis yang besar. Kata “SABOT” berasal dari perancis yg artinya sepatu kayu, populer pada abad 19 masa industri perancis yang menimbulkan pengangguran dan PHK hingga terjadi pengrusakan mesin industri dengan memasukan sepatu kayu ke dalam mesin2 industri yang ada, sejak saat itu Sabotase digunakan seperti pengertian yang sekarang ini.
Untuk paham benar makna sabotase dengan cara yang menyenangkan kita bisa menonton film-film holywood tentang spionase yang memang sering menggambarkan kegiatan sabotase sebagai salah satu tugas seorang agen rahasia. Tetapi untuk menonton film berkualitas, saya menyarakan film penulis misteri paling terkenal sepanjang masa Alfred Hitchcock. Waktu kecil dulu semasa SMP-SMA buku-buku Alfred sering saya baca karena kegemarannya untuk langsung ke puncak misteri. Ceritanya langsung tanpa pemanasan, perkenalan tokohnyapun bergerak seperti air bah, pokoknya ga mungkin para maniak cerita misteri tak kenal penulis yang satu ini. Film-film yang disutradarainyapun tak kalah hebatnya, filmnya meletup-letup. Sabotage (1936) adalah film yang disutradarai Alfred, yang akan memberikan kita pemahaman yang cukup tentang sabotase. Film yang walaupun berdurasi 76 menit, kualitas suara yang hanya mono, dan gambar yang cuma hitam putih, tidak akan mengecewakan kita sebagai penonton. Pesan paling penting dari film ini; “There is also a clear message by Hitchcock on sabotage, today terrorism; those so-called martyrs for a cause are in reality misguided devils who end up killing the innocent and helpless instead of the ones their feeble minds believe to be the deceivers and exploiters of the human race.” (Van Buren, Arkansas).
Jadi persoalan paling penting pada pembenaran sabotase adalah niat! Pembenaran yang hanya akan di setujui oleh sabagian orang dan diperhinakan oleh sebagian yang lain. Tetapi ada juga sabotase yang bagi semua orang sama-sama hina dan tidak bermartabat pelakunya: “Vandalisme” karena jenis orang dengan prilaku ini, tidak menyandarkan prilakunya terhadap ideologi, teori atau tujuan apapaun yang bernilai benar. Karena kebenaranya hanya di miliki oleh orang ini sendiri. Vandalism is the behaviour attributed originally to the Vandals, by the Romans, in respect of culture: ruthless destruction or spoiling of anything beautiful or venerable. Such action includes defacement, graffiti and criminal damage.
Apakah vandalisme bisa dijerat hukum? Pierre Klossowski, dalam bukunya Nietzsche and the Vicious Circle, dalam bab pertama mengatakan: What is the value of culture if those who are exploited by it destroy it? “En sorte qu’il nous faut être bien loin de vouloir, du haut de notre sentiment de nous-mêmes, imputer le crime d’un combat contre la culture exclusivement à ces malheureux. Je sais ce que cela veut dire: le combat contre la culture. (…) je me campronnai avec une conviction sérieuse à la valeur métaphysique de l’art, lequel ne saurait exister à cause des pauvres gens, mais doit accomplir des missions plus hautes. Mais, en dépit de mon extrême douleur, je n’étais pas en état de jeter la moindre pierre à ces profanateurs qui, pour moi, n’étaient que les suppôts de la culpabilité universelle, sur laquelle il y a beaucoup à méditer!” (Nietzsche, halaman 29-30 Klossowski pada edisi berbahasa Prancis, menuliskan: “Le combat criminel contre la culture n’est lui-même que l’envers d’une culture criminelle” (”The criminal fight against culture is only the reverse side of a criminal culture“).
Tapi ada kalanya orang berpikir bahwa perbuatan vandalisme hanyalah lelucon belaka. Dan kemudian dianggap lumrah sebagai bagian dari guyonan untuk menghilangkan kepenatan. Beberapa jam yang lalu, saya mendapati Daftar Nama Siswa Peserta Ujian Nasional versi Online Kementerian Pendidikan Nasional dari madrasah tempat saya bekerja di rusak oleh seseorang (yang karena kebodohannya dia pikir sulit bagi saya untuk mencari komputer siapa yang telah melakukan aksi vandalisme ini..!). Si bodoh ini mengganti 3 nama murid saya dengan GANTI PASSWORDNYA DONG, AGUS SPIDERMAN dan CINDI AKU CINTAPADAMU, kemudian menambahkan 4 nama siswa yang kemudian saya berhasil telusuri berasal dari sebuah madrasah swasta di kabupaten Bandung. Kalau perkara menambah 4 nama siswa yang tidak saya entry, tentu bukan masalah besar, tetapi bayangkan kalau karena kecerobohan Si Bodoh ini: Ada 3 siswa dari madrasah saya yang tidak bisa mengikuti Ujian Nasional? Tentu bagi dia ini sekedar lelucon, tapi bagi saya yang telah menjadi guru/dosen lebih dari 16 tahun: Masa depan murid saya sama sekali tidak layak menjadi bahan guyonan. Karena masa depan orang memang bukan lelucon!. Bagi seorang guru… kesedihan apalagi yang setara dengan kesedihan anak-anak kandungnya selain kesedihan murid atau mahasiswanya? Astagfirullah.. apa yang ada dalam benak Si Bodoh ini?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan di Bandara Sydney Ekstra Ketat …

Tjiptadinata Effend... | | 20 November 2014 | 18:49

Ayo! Berswasembada Pangan Mandiri dari …

Luce Rahma | | 20 November 2014 | 20:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa? …

Seneng Utami | | 20 November 2014 | 18:55

Belum Dapat Konfirmasi e-Ticket …

Kompasiana | | 16 November 2014 | 00:48


TRENDING ARTICLES

Islah DPR, Pramono Anung, Ahok, Adian …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Putra Kandias, Kini Ramai Dibully Karena …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Gubernur Istimewa Jakarta …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Keberanian Seseorang Bernama Jokowi …

Y Banu | 7 jam lalu

Kesalahan Jokowi Menaikan BBM …

Gunawan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Timnas Selalu Kalah? (Part 2) …

Bayu Teguh | 7 jam lalu

Guru Hebat Pasti Bisa Menulis …

Muthiah Alhasany | 7 jam lalu

Manfaat Tersembunyi Dari Menulis yang Jarang …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Kepak Sayap Guru Berkendara Aksara …

Ang Tek Khun | 8 jam lalu

Pintu Hatiku Telah Terkunci …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: