Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wahyu Nh Aly

Wahyu NH Aly :: http://ngajeng.wordpress.com

Hikmah Puasa di Awal Ramadhan

OPINI | 01 August 2011 | 19:59 Dibaca: 303   Komentar: 0   0

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Albaqarah:183)

Marhaban ya, Ramadhan…. Marhaban ya, syahr siam….

________

Pelbagai aneka perilaku yang kurang istikomah selepas beranjak perginya Ramadhan tahun lalu hingga berjumpa kembali di tahun ini, sehingga menorehkan beragam kisah yang melalaikan pesan-pesan puasa, sekarang ini sudah seharusnya tersadar. Hal ini juga telah diingatkan dalam Qs. Albaqarah: 183, yang di awal kalimat ayat tersebut dikatakan, “Wahai orang-orang yang beriman!”. Kalimat tersebut mengatakan secara tegas, bahwasanya yang dipanggil khusus bagi kalangan orang-orang beriman saja. Dengan demikian, yang menjalankan puasa adalah orang mukmin, sebagaimana diterangkan secara gambling dalam kelanjutan kalimatnya, “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu“. Kalimat dalam ayat tersebut yang memerintahkan orang mukmin berpuasa, oleh Alquran dimaksudkan guna menambah ketakwaannya seperti bunyi kalimat terakhir ayat tersebut, “Agar kamu bertakwa.”

Membangun ketakwaan bagi orang mukmin, sebagaimana yang tercantum dalam ayat di atas, tentunya bukan hanya saat masuk di Ramadhan, tetapi telah dipersiapkan sebelumnya. Orang mukmin akan menyambut penuh bahagia yang dikarenakan selama setahun tidak bersua dengan bulan Ramadhan yang penuh hikmah. Orang mukmin akan tersenyum penuh kebahagiaan setelah menyimpan hasyrat rindu yang begitu dalam setelah ditinggal oleh bulan puasa tahun yang lalu.

Tentunya juga, ekspresi senyuman seorang mukmin menyimpan makna yang begitu besar, makna yang membawa efek dalam tindakannya. Misalnya sebelum memasuki bulan puasa, biasanya orang mukmin tersenyum dengan menyiapkan staminanya. Orang mukmin dengan penuh kebahagiaan melakukan pemanasan guna tidak mengalami kekagetan begitu waktu ramadhan tiba. Pemanasan dengan melakukan puasa sunnat di bulan Rajab dan Sya’ban, mendirikan qiyamu lail atau sholat malam, serta senantiasa banyak memohon maghfirah kepada Allah Swt. Hal ini seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatnya al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): Usamah berkata pada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’

Sebagai orang mukmin melakukan semua yang di atas bukan saja dengan penuh keikhlasan atau limardhotillah, akan tetapi juga menyiapkan stamina agar di permulaan puasa tidak mengurangi semangat rutinitas ibadahnya yang lain seperti bekerja. Karena, seorang mukmin menyadari, bahwasanya Ramadhan adalah bulan yang seharusnya digunakan untuk menambah semangat melipatgandakan pahala, bukan mengganti ibadah yang sudah rutin seperti bekerja dengan hanya melakukan puasa saja. Sekarang Ramadhan sudah tiba. Marhaban ya, Ramadhan…. Marhaban ya, syahr shiam….

Kehadiran Ramadhan sekarang, sebagaimana yang telah sedikit disinggung di atas, bukanlah mengganti rutinitas kerja dengan puasa, akan tetapi justru meningkatkan semangat kerja dalam kondisi berpuasa sekaligus menambah amalan-amalan ibadah yang lain semisal memperbanyak bersholawat, berdzikir, mendirikan sholat tarawih, dan ibadah yang lain. Sehingga, dengan berpuasa ini akan mengingatkan diri kita pada para fakir-miskin yang sering kekurangan makanan yang terkadang dengan kondisi pekerjaan yang keras. Teringatnya bagaimana susahnya mereka, diharapkan akan membangkitkan jiwa seorang mukmin, yaitu jiwa penolong terhadap saudaranya. Dikarenakan juga, jiwa penolong adalah tiang membangun umat Islam yang kokoh.

Alakhir, baik yang sudah mempersiapkan diri menghadapi bulan puasa dengan melakukan amal ibadah yang telah dijelaskan sebelumnya, ataupun yang tanpa ada kesiapan sehingga merasakan kekagetan, menjalani puasa awal Ramadhan bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, ketidakringanan melaksanakan puasa pertama apabila dijalankan dengan penuh ketabahan seraya tetap bekerja atau belajar sebagaimana rutinitas ibadah lain sebelumnya, di antara hikmah yang diperoleh dari itu adalah teringat akan kaum fakir-miskin sehingga menggerakkan pribadi mukmin berjiwa penolong, yang diharapkan menjadi mukmin yang kaffah (sempurna). Hari-hari puasa selanjutnya pun, akan lebih mudah dan semakin terisi dengan ibadah-ibadah yang penuh keikhlasan. Mari, jadikan awal ramadhan ini sebagai modal agar kita menjadi mukmin yang kaffah, dengan meningkatkan beramal kita dari hari ke hari….

Wahyu NH. Aly

(Gembel jalanan)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53



HIGHLIGHT

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 10 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: