Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Tips Pembelajaran Berbasis Kinerja Otak

OPINI | 02 August 2011 | 19:10 Dibaca: 508   Komentar: 0   0

Hampir setiap kali ketika Ujian Nasional selesain dilakukan, selalu muncul permasalahan yang tak enak didengar. Kasus nyontek masalah yang dilakukan oleh sebuah sekolah dasar di Jawa Timur sampai membuat gempar masyarakat dan sekaligus memberikan gambaran buruk tentang kondisi pendidikan saat ini. Dunia pendidikan dituding tidak bisa menciptakan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan intelektual tinggi sekaligus moral yang baik. Kejadian tersebut tidak selamanya menjadi tanggung jawab sekolah. Sebagai penyelenggaran layanan pendidikan, sekolah memang berfungsi menyediakan pembelajaran yang bermutu sekaligus mendidik karakter siswa. Jika diperhatikan, peristiwa nyontek masal itu terjadi karena guru dan sekolah merasa khawatir kalau-kalau anak didiknya tidak lulus.

Namun demikian, keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh sekolah. Terdapat berbagai hal yang mempengaruhi kemampuan siswa untuk belajar. Penemuan-penemuan dalam bidang neuroscience telah banyak mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembelajaran. Otak sebagai salah satu organ penting yang sampai saat ini masih menjadi misteri berperan penting dalam pembelajaran. Sayangnya saat ini, pembelajaran saat ini hanya mampu mengefektifkan 1% potensi otak.

Berikut akan saya paparkan beberapa tips untuk meningkatkan pembelajaran yang dapat membantu orang tua, guru serta para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan.

#1 waktu tidur mempegaruhi memori dan pembelajaran

Tidur memiliki fungsi yang penting bagi kerja memori. Otak kita belajar dengan cara sadar maupun tidak sadar. Ketika tidur, otak bekerja untuk melakukan konsolidasi memori. Informasi yang diterima oleh dan disimpan dalam memori jangka pendek akan ditransfer ke memori jangka panjang. Hal ini disebabkan karena informasi yang tersimpan dalam memori jangka pendek masih bersifat labil dan mudah terlupakan. Otak membutuhkan waktu untuk melakukan konsolidasi memori. Dalam sebuah penelitian, ilmuwan menemukan bahwa subjek yang mengalami deprivasi tidur atau kurang tidur akan mengalami penurunan hampir 40% kata-kata yang sebelumnya telah diingat. Selain itu, subjek yang mengalami deprivasi tidur cenderung untuk mengingat kata-kata yang bersifat negatif. Tidur sangat penting bagi tranfer informasi yang tersimpan dalam memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

#2 biasakanlah anak untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah

Asupan makanan sangat penting bagi performa otak ketika belajar. Glukosa merupakan salah satu sumber energi yang penting bagi kinerja otak. Sebuah hasil penelitian yang Leigh Martin Riby dari Glasgow Caledonian University Inggris yang dipublikasi pada jurnal Age and Ageing edisi Agustus 2004, melaporkan bahwa ada hubungan positif antara kadar glukosa darah dengan hasil tes yang berkaitan dengan kemampuan berkaitan dengan memori episodik pada 20 subjek berusia sekitar 6 tahun. Siswa yang mengkonsumsi sarapan yang mengandung energi tinggi akan menunjang kreatifitas, daya tahan tubuh tinggi, pemahaman matematis yang baik serta kapasitas memori jangka pendek yang baik dibandingkan dengan siswa yang mengkonsumsi sarapan dengan energi yang rendah. Sebagai tambahan, sarapan dengan kadar lemak yang rendah dan karbohidrat yang tinggi dapat mengurangi kelelahan dibandingkan dengan sarapan yang memiliki kadar lemak tinggi dan karbodhirat yang moderat.

Penelitian lainnya juga dilakukan di Miyagi Jepang pada tahun 2010 yang melihat pengaruh jenis bahan dasar sarapan yaitu roti dan nasi terhadap peningkatan volume gray matter dan IQ pada 290 siswa sekolah menengah pertama. Rata-rata volume gray matter siswa yang mengkonsumsi nasi setiap pagi lebih tinggi dan berbeda nyata secara statistik dengan rata-rata volume gray matter siswa yang mengkonsumsi sarapan dengan bahan dasar roti. Perbedaan jenis bahan dasar sarapan tidak mempengaruhi perbedaan white matter. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa tingkat IQ siswa yang mengkonsumsi nasi lebih tinggi dibanding dengan siswa yang mengkonsumsi roti, meskipun tidak terdapat perbedaan secara statitik.

#3 jadwal pembelajaran di sekolah disesuai kan dengan ritme biologis

Tubuh kita memiliki ritme biologis (biological rithme) yang mengikuti pola sirkardian (24 jam). Ketertarikan terhadap fluktuasi memori selama siklus harian mulai tampak pada awal abad 20. Sejauh ini, studi-studi dalam ritme biologis telah mengindentifikasi lebih dari 100 fungsi sklus sirkardian terhadap perubahan biokimia dan psikologis, diantaranya adalah fungsi-fungsi jantung dan suhu tubuh. Perubahan-perubahan biokimia dan psikologi berpengaruh terhadap performa kognitif. Perubahan-perubahan siarkardian dan pengaruh terhadap kemampuan kognitif yang paralel dengan perubahan dalam dominansi hemisfer otak. Hemisfer otak kiri lebih dominan pada pagi hari yang mengontrol pemrosesan data-data akustik, shor-term memory dan aktivitas-aktivitas yang bersifat rutin. Sedangkan, hemisfer otak kanan lebih dominan pada sore hari yang bertanggung jawab memroses informasi visual semantik dan tugas-tugas perseptual termasuk transformasi informasi dan memori jangka panjang (long-term memory). Oleh karenya pembelajaran yang membutuhkan peran kiri seperti matematika sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan pembelajaran mengenai kemmpuan berbahasa dilakukan siang atau sore hari.

Rekomendasi penelitian juga menyarankan jadwal pembelajaran sekolah sudah seharusnya mengadaptasi berbagai kebutuhan unik siswa yang berbeda untuk mendapat pembelajaran yang efektif. Agar lebih efektif, pembelajaran sekolah harus melakukan pergiliran waktu pelajaran.

#4 Menggunakan Alat Bantu Visual Untuk Menarik Atensi Siswa.

Otak kita memiliki kemampuan visual yang lebih baik dengan auditoris. Menitikberatkan pembelajaran dengan mendengar penjelasan guru justru akan menghambat potensi belajar otak. Dengan demikian, guru dapat menggunakan alat bantu visual untuk menarik perhatian siswa. Para ahli mengemukakan bahwa bahwa 1) otak punyai bias atensi untuk hal-hal yang sangat kontras dan baru, 2) 90 persen dari masukan sensori otak adalah dari sumber-sumber visual, dan 3) otak mempunyai respons yang segera dan primitif terhadap simbol, ikon dan gambar-gambar sederhana lainnya.Untuk membuat suasana pembelajaran menjadi rileks, guru dapat menambahkan sedikit humor di sela-sela pembelajaran. Tujuannya agar siswa tidak menjadi stres selama pembelajaran.

#5 Menggunakan gaya pembelajaran yang multisensoris.

Otak tidak dirancang untuk mengikuti gaya pembelajaran yang intralinier dan mudah terprediksi. Otak lebih sensitif terhadap hal-hal yang bersifat baru (novelty). Oleh karenanya, pembelajaran seharusnya menggunakan gaya pembelajaran yang multisensoris. Semakin beragam cara mempelajari sesuati maka semakin banyak jalur memori yang terbentuk. Selain itu, pembelajaran yang multisensoris akan membantu sel-sel untuk membentuk jalur-jalur memori menjadi semakin kuat. Penebalan gray matter (materi abu-abu) yang merupakan percabangan dendrit dan mielenasi akson atau peningkatan materi putih (white matter) akan menyebabkan transmisi sinyal menjadi lebih cepat dan efisien. Komunikasi antara sel-sel saraf akan semakin meningkat jika jalur-jalur memori tersebut semakin sering digunakan dalam pembelajaran.

#6 Otak pria dan wanita berbeda

Seringkali kita evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar siswa tidak memperhatikan gejala fisiologis berdasarkan perbedaan otak laki-laki dan perempuan. Bagi perempuan dan laki-laki, bukan hal yang tak lazim bila merasakan seperti sedang belajar pada tingkat performa yang tinggi pada satu minggu, kemudian pada minggu berikutnya otak terasa seperti mati. Siklus menstruasi perempuan dapat mempengaruhi efisiensi pembelajaran sepanjang bulan. Tingkat estrogen yang lebih tinggi dapat diterjemahkan sebagai kemampuan motorik yang baik dan kefasihan verbal.

Jika estrogen mendorong sel-sel otak menjadi lebih aktif, meningkatkan kesadaran sensori, serta meningkatkan kesiagaan otak, maka perempuan akan lebih bisa belajar dengen efisien pada paruh pertama siklusnya ketika tingkat estrogen lebih tinggi. Ketika otak dipenuhi oleh estrogen akan menyebabkan perasaan yang menyenangkan, gairah seksual meningkat, kondisi yang baik, antusia, dan rasa percaya diri.

Tulisan ini disari dari berbagai sumber dan laporan-laporan penelitian.

Novie SR

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: