Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

H. R. Harapan Rakyat

HARAPAN RAKYAT (HR) untuk kemajuan Indonesia yang masyarakatnya HIDUP RUKUN (HR), lingkungannya HIJAU RIMBUN (HR), selengkapnya

Puasa dan Membangun Karakter Bangsa

OPINI | 09 August 2011 | 18:22 Dibaca: 373   Komentar: 34   27

13128708841251970979

Hakekat puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja. Tetapi puasa itu adalah menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kasar. Oleh karena itu, bila ada yang mencacimu atau menjahilimu, maka katakanlah kepadanya, sesungguhnya aku sedang berpuasa! Sesungguhnya aku sedang berpuasa!” (HR Muslim)

Seseorang yang berada di bawah kendali hawa nafsu akan berbuat sesuka hati tanpa mempertimbangkan efek positif dan negatif yang mungkin terjadi. Ia cenderung menghalalkan segala cara (the end justify the means) untuk mewujudkan keinginan sehingga lambat laun akan menjadi manusia yang kehilangan akal sehat, budi pekerti, dan akhlak baik. Singkat kata, orang tersebut akan menjadi manusia yang kehilangan karakter.

Memang, upaya mengendalikan hawa nafsu bukan hal mudah untuk dilakukan. Ketika Rasulullah Saw dan para sahabat kembali dari medan perang melawan kaum musyrikin, beliau bersabda, “Kita baru kembali dari satu perang kecil untuk kemudian masuk ke perang yang lebih besar. Sahabat pun terkejut dan bertanya, “Perang apakah itu wahai Rasulullah?” Baginda Rasulullah Saw berkata, “Perang melawan hawa nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi).

Meskipun demikian, jika kita bersungguh-sungguh dalam mengendalikan hawa nafsu, maka Allah SWT pasti akan memberikan petunjuk. Allah SWT berfirman, “Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan kami, sesungguhnya kami akan tunjuki jalan. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang buat baik.” (QS 29: 69).

Kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu merupakan modal besar dalam kehidupan. Pengendalian diri ibarat rem kehidupan, kemampuan untuk menahan diri dari arus deras keinginan duniawi yang berpotensi menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan melahirkan manusia-manusia berkarakter unggul.

Sejarah membuktikan bahwa kehancuran sebuah bangsa seringkali ditandai oleh keruntuhan karakter dan mentalitas masyarakat bangsa tersebut. Karena itu, bangsa dengan karakter kuat hanya akan terwujud jika individu-individu di dalam bangsa itu adalah manusia berakhlak, berwatak, dan berperilaku baik.

Dalam konteks itu, ibadah puasa merupakan pendidikan karakter bagi kita sebagai sebuah bangsa. Ibadah puasa Ramadhan akan mengembalikan manusia kepada fitrah, seperti manusia baru lahir. Manusia yang cenderung berpihak kepada kebenaran dan memiliki rasa kemanusiaan tinggi serta budi pekerti.

Bagi Indonesia yang mayoritas dihuni oleh kaum Muslim, ibadah puasa Ramadhan harus dimaknai sebagai laboratorium pembentukan karakter bangsa yang ditandai oleh sikap dan perilaku yang berlandaskan pada konstitusi dan aturan yang telah menjadi kesepakatan kolektif. Dan hal tersebut merupakan bagian dari implementasi ketakwaan kita kepada Allah. Yaitu ketaatan pada Allah tercermin pada ketaatan kepada Rasulullah dan pemimpin (ulil amri) yang berpijak pada ajaran Allah. Jika hakikat dan makna takwa yang merupakan tujuan puasa ini dapat diwujudkan pada diri kaum Muslim selaku kelompok mayoritas, maka tentu akan menjadi sumbangan maha penting bagi perbaikan karakter bangsa Indonesia. Perbaikan karakter bangsa berarti mengatasi berbagai persoalan bangsa secara substansial.

Sungguh amat banyak manfaat, hikmah, dan pelajaran yang dapat kita petik dari ibadah puasa Ramadhan. Semoga ibadah puasa Ramadhan yang kita jalankan ini akan membawa manfaat bagi pembentukan karakter bangsa unggul demi kelanjutan peradaban Indonesia di masa mendatang.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Ibu Negara Kita Kenyes-Kenyes dan Cantik …

Mafruhin | | 20 October 2014 | 08:58

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Tolong … Emosi Saya Dibajak! …

Hendri Bun | | 20 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 5 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 8 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Curahan Hati Indra Sjafrie .. …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Setelah Menjadi Relawan Jokowi, Selanjutnya …

Maulana Zam | 7 jam lalu

Melihat Jokowi dari Papua …

Moh. Habibi | 7 jam lalu

Buku Adalah Dunia, Bukan Jendela …

Nitaninit Kasapink | 7 jam lalu

Pelantikan Presiden yang Mengukir Sejarah …

Mamank Septian | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: