Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Fikrillah

Pembelajar hingga batas terjauh. Ayah dari Muhammad Abiyyu Maisan dan Muhammad Dzaky Naufal. Motto "hidup, berarti, selengkapnya

Gerakan Magrib Mengaji

OPINI | 11 August 2011 | 17:55 Dibaca: 172   Komentar: 2   0

Kementerian Agama (Kemnag) RI sedang menggalakkan Gerakan Magrib Mengaji. Membiasakan mengaji ba’da shalat Magrib. Program yang bertujuan menangkal pengaruh negatif dari berbagai sumber media dan teknologi. Yaitu layar televisi, telepon seluler (Ponsel), internet, komik, dan majalah. Gerakan itu pun bergaung pada semua daerah.

Sebenarnya, program ini bisa dianggap usang, setidaknya bagi kaum dewasa Bima dan Dompu sekarang ini. Demikian juga daerah lainnya. Dulu tanpa diprogramkan pun, hampir setiap rumah Muslim terdengar lantunan suara Kalam Ilahi. Padahal, guru ngaji hanya dibayar sealakadarnya, berbeda dengan insentif dari pemerintah sekarang ini. Tanyakan saja kepada kaum dewasa dan orangtua di Bima- Dompu saat ini, seberapa besar gairah mereka memelajari Al-Quran. Mereka telah merasakan “asam-garam” seputar pelajaran mengaji. Tidak hanya sekadar mengeja, mengaji, dan mencoba melagukannya. Tetapi, lebih dari itu. Mulai dari mengisi air ‘padasa’ untuk kebutuhan wudhu, dibentak dan dipukul kalau terlambat memahaminya, bahkan mengantuk pun dalam ancaman pukulan kayu. Jika dibayangkan terasa keras, namun output-nya luar biasa.

Bagi pemuda Bima, tidak bisa mengaji adalah fakta memalukan sekaligus memilukan. Bahkan, bisa tidak menjadi pilihan utama ‘belahan hati’ dan calon mertua. Mampu mengaji adalah kebanggaan dan memicu kepuasaan batin. Ada perasaan tentram setelah membacanya. Hati yang gelisah menjadi tenang. Benar-lah kalau Al-Quran menyatakan sebagai obat untuk ketenangan jiwa manusia (asyifa).

Tidak ada kata terlambat belajar membaca Quran. Mari kembali menggelorakan semangat. Memulai  dari diri masing-masing. Untuk mendukung program tersebut, revitalisasi pendidikan agama di tengah umat diperlukan, yakni dalam pendidikan berbasis keluarga, sekolah ataupun masyarakat.  Satu diantaranya memaksimalkan potensi dalam  progam. Magrib Mengaji bermanfaat sebagai terobosan memerbaiki akhlak.
Pencanangan program itu akan menjadi catatan penting dalam sejarah. Masalahnya, meski jumlah penduduk Muslim di Indonesia mayoritas, tetapi semarak aktivitas spiritual mengaji ba’da Magrib kian ditinggalkan masyarakat.

Penyebabnya bisa beragam. Diantaranya adalah perubahan social, terutama pascareformasi bergulir. Jika tradisi positif  itu tak segera dihidupkan kembali, maka tidak menutup kemungkinan mengaji usai Magrib akan hilang dengan sendirinya. Saatnya Gerakan Magrib Mengaji tidak hanya sebatas teori, tetapi dipraktikkan!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menunggu Listrik di Kulonprogo …

Ratih Purnamasari | | 20 October 2014 | 11:14

Papua kepada Jokowi: We Put Our Trust on You …

Evha Uaga | | 20 October 2014 | 16:27

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Tips & Trick Menjadi Travel Writer: …

Sutiono | | 20 October 2014 | 15:34

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Dilantik, Bye-bye Skandal Pajak BCA …

Amarul Pradana | 7 jam lalu

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 10 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 10 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 13 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Rentannya Kehidupan Bumi …

Deajeng Setiari | 8 jam lalu

Bangkitkan Bangsa Maritim …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Pergilah… Walau ku Tak Ingin… …

Leni Jasmine | 8 jam lalu

Generasi Pembebas …

Randy Septo Anggara | 8 jam lalu

Selamat Bertugas JKW-JK …

Sutiono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: