Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aryadi Noersaid

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Sekolah Mahal, Pantaskah Untuk Kita ?

OPINI | 22 August 2011 | 03:41 Dibaca: 440   Komentar: 8   1

Seragamnya Necis , menarik bagi siapapun yang melihatnya . Tak ada lipatan kerut yang boleh ada ketika mengiringi keberangkatan pagi kesekolah buah hati tercinta. Di sekolah murid-murid begitu ceria, tak ada satupun sepatu merk bata , apalagi buatan cibaduyut yang melapisi kaki kaki mungil mereka. Bel berbunyi , satu demi satu murid masuk ke kelas dan satu demi satu pula kendaraan pengantar yang usia produksinya tak ada yang lebih dari dua tahun keluar dan parkir di Tepi jalan raya Pondok Labu - Fatmawati , disebuah sekolah yang paling bergengsi di pinggir selatan Jakarta .

“ Untuk anak apapun harus kita berikan yang paling terbaik ,Mas. Semua pencapaian kita di bisnis dan kantor ujung unjungnya buat keluarga, bukan bermaksud menyombongkan diri , tapi dengan bersekolah di situ aku jadi semakin termotivasi untuk bekerja dan cari duit lebih bersemangat lagi !” Kawan saya menjawab , ketika saya bertanya alasan kenapa ia menyekolahkan anaknya di sekolah bertaraf internasional yang uang pangkal dan masuk sekolahnya saja seharga satu mobil Daihatsu Xenia.

“ Ya itu pilihan sih , saya paham dan terus terang iri kamu bisa menyekolahkan anak disitu , Tapi inget lho ya , jangan menyekolahkan anak demi status sosial , bos ,” kata saya , Ia tertawa dan melanjutkan dengan cerita bagaimana di sekolah itu dibentuk suatu environment yang kompetitif , bilingual, tingkat pengenalan computer dengan basis teknologi terkini , ekskul yang beragam , kesempatan untuk bertarung ditingkat internasional , penjagaan pada nilai ambang akademis yang tinggi , guru dan pembimbing minimal S2 dan bermacam fasilitas dalam full day class yang memang sudah sepantasnya ditukar dengan biaya yang sedemikian mahalnya . Tak ada peluh dikelas , karena suhu ruangan di semua gedung kegiatan minimal dua puluh satu derajat Celsius .

“ Aku ingin anakku bisa punya wawasan yang luas sejak awal , dan mudah mudahan di tingkat SMP sampai kuliah nanti sudah nggak bingung dengan persaingan di dunia ini yang makin ketat nantinya!” Ia mengakhiri perbincangan ketika kami bertemu di depan sekolah anaknya , saat saya masih bimbang mau menyekolahkan anak dimana , ia sudah menentukan pilihannya .


Lama kami tak bertemu, sampai tak terasa anak saya dan anaknya sama sama duduk di sekolah dasar kelas empat di sekolah yang berbeda . Ketika bertemu kembali di saat menjenguk ayahnya yang terkena penyakit gagal ginjal dan dalam kondisi sakit parah , saya menjumpai wajah yang tak seoptimis seperti saya mengenalnya dulu . 


“ Usahaku lagi goyang , Mas , hampir hampir habis , tambah sekarang bapak sakit begini , usaha beliau sama usaha mertua juga sama sama lagi gak bagus , beginilah kalau usaha di satu bidang yang sama , kalau lagi turun , ikut turun semua omzetnya!” Dia tersenyum kecut saat saya bertanya tentang kabar ayah dan keluarganya .

“ Seberapa parah ?” saya bertanya . Dia Cuma membalikkan genggaman tangan dan jempolnya ke bawah .

“ Si Ryan , gimana , Masih sekolah di Pondok Labu ? “ Saya teringat pada anaknya .

“ Empat bulan ini dia mogok sekolah , sekarang kita pindah ke Cimone Tangerang, ikut sama mertua , terpaksa aku pindahkan dia ke sekolah Negeri . Mungkin dia kaget karena kondisinya beda maka dia nggak siap begitu , ibunya masih terus membujuk dia tapi belum berhasil , nggak tahulah , nanti dia juga tahu sendiri ,” Setengah putus asa dilanda cobaan yang ada , ia menundukkan kepala .

“ Wah , kok perkembangannya begitu sih , saya malah gak tahu selama ini !” Saya menggugatnya.

“ Ah..buat apa hal gini diceritain , namanya usaha aku kira ya pasti ada naik turun , tapi gak tahunya kok malah turun terus kayak gini , sudah hampir dua tahun begini !” Ia menjawab dengan pelan.

Saat bertemu istri sahabat saya ini , ia nampak gundah , anak yang Cuma satu satunya sudah tak mau bersekolah , ia menceritakan pada saya bahwa betapa dinding yang cerah , lapangan basket berlapis rubber pad , ruangan yang dingin , computer berprocessor cepat dan segala kemewahan sekolah yang didapat sekarang harus bertukar dengan dinding yang suram , ruangan yang sumpek , computer jadul dan segala kekurangan yang sebetulnya biasa saja namun jadi terlihat seperti sebuah hukuman bagi yang tak terbiasa.


Saya lalu membayangkan bagaimana suasana hati Ryan , anak sahabat saya , yang selama ini selalu memiliki fasilitas yang ada tiba tiba harus dipaksa memahami kondisi kedua orang tuanya . Ia memang tak pernah tahu bagaimana hidup ini bersiklus , karena sebagai tumpuan harapan orang tua tugasnya hanya belajar dan menyerap ilmu sebanyak banyaknya , dan ia tak pernah diberi waktu untuk memahami bahwa dunia , rejeki , kehidupan , nasib itu bisa di bolak balik oleh yang maha kuasa dan maha pemilik segalanya .

Tak ada yang salah menyekolahkan anak sedemikian rupa , baik dengan biaya yang sedemikian besar atau fasilitas yang demikian mewah , itu adalah bagian dari keinginan dan harapan orang tua . Yang harus di siapkan agar tak salah langkah adalah , mengukur sesuatu dalam jangka panjang dan memahami bahwa terkadang untuk merubah seseorang dari keadaan berada menjadi tidak berada hanya dibutuhkan satu atau dua peristiwa saja , begitu juga sebaliknya .

Ada satu Pekerjaan yang tidak mudah termasuk saya terhadap anak saya , untuk memberitahukan kepada mereka yang masih usia kanak-kanak bahwa hari ini adalah milik kita dan hari esok adalah tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini , baik kepada diri sendiri , orang lain maupun Tuhan yang Rahman dan Rahim.

lalu , Seberapa siapkah kita dan mereka  ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 10 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 11 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 8 jam lalu

Magnus Carlsen Tetap Juara Dunia 2014! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 9 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: