Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sjarifuddin Josuf

Tamat ABA thn. 1978, kemudian mengajar bhs.Inggris di Surabaya, Jakarta dan Tangerang. Sekarang berdiam di New selengkapnya

Ciri Khas Kursus-kursus Bahasa Inggris di Indonesia

REP | 30 August 2011 | 01:38 Dibaca: 1072   Komentar: 4   1

Kalau kita bertanya,”Dimana sebaiknya  kita belajar bahasa Inggris  di Indonesia?”Jawabannya tentu berbeda-beda.Tergantung dari pengalaman / pengetahuan si pembicara  di bidang bahasa ini.

Demikian pula dengan pengalaman belajar dan mengajar yang pernah saya ikuti di tanah air.Kalau  saya jawab/mengomentari  ”begini” tentunya berbeda pendapat dari rekan2 pengajar  lainnya.Namun satu hal yang saya ketahui, pengembangan bahasa Inggris telah mengalami kemajuan di beberapa daerah tertentu.Ini dikarenakan telah banyaknya perusahaan2 besar  yang telah terjun di bidang pendidikan ini dan seharusnya telah mereka mulai sejak dulu.Kita bisa lihat universitas2 bonafid dimana mereka menekankan bahasa Inggris di perkuliahaan. Salah satu  yang saya ketahui adalah Universitas Pelita Harapan Tangerang.

Kursus-kursus bahasa Inggris yang berserakan dimana-mana, kalau kita amati, dapat kita golongkan kedalam tiga kelompok:

1.Kursus buat golongan masyarakat bawah:

Kursus2 ini menjaring masyarakat golongan bawah, namun mempunyai omzet yang besar.Jadi meskipun uang kursusnya relatif murah tapi siswa yang dijaring banyak, sehingga perputaran uangnya  lebih  lancar.Kelompok ini bisa kita temui di daerah pinggiran kota.Mutu mereka tentunya pas2an.Demikian pula  kualitas guru2nya juga pas2an, dan honor mereka juga pas2an.Para guru2pun karena diberi honor yang pas2an, mereka juga mengajar dengan cara pas2an.Jang penting sesuai jadwal dan materi yang diberikan.

2.Kurus buat masyarakat menengah:

Jumlah kursus ini umumnya tidak terlalu banyak dan berdiri sendiri-sendiri(belum menjamur atau belum punya nama), tapi si empunya kursus punya modal, jadi mereka dapat menghire guru2 yang berpengalaman dan pandai.Tapi tetap saja mereka menekan honor guru sedikit mungkin.Tipe macam ini, biasanya tidak lama karena mereka tidak mau buka kelas  baru kalau tidak mendapat untung walaupun sedikit.Misalnya, jumlah siswa harus  lebih dari 7-8 orang  meskipun level bahasa Inggris mereka  ber-beda dan tidak menjalankan test masuk. Soalnya kalau siswa2 di test, calon2 siswa sudah pada lari duluan, kelamaan nunggunya/dipanggil.

Seandainyapun si pengelola kursus ngotot tetap buka kelas baru, akibatnya dapat di prediksi, jumlah siswa akan menurun perlahan di tengah jalan, di karenakan:

a.Tidak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan.Malu sama teman2 lainnya.

b.Siswa yang pintar merasa bosan, karena pelajaran yang di berikan terlalu mudah.

c.si guru yang menghadapi kelas kewalahan atau stress memberikan ilmunya pada siswa yang berbeda level.

(saya pernah ngajar kelas dengan siswa  5 orang dengan latar belakang yang berbeda.Seorang dari mereka adalah dokter gigi, seorang lagi pembantu rumah tangga dan lainnya  berbeda pula.Akibatnya, pelajaran tidak bisa berjalan mulus.Celakanya, si owner biasanya menyalahkan si guru yang tidak bisa ngajar.

3.Kelompok Masyarakat Berduit.

Jumlahnya  tidak terlalu banyak karena uang  kursus yang  relative mahal dan mengambil lokasi  di tempat2 strategis.Misalnya di pertokoan, didalam gedung mewah, misalnya di gedung BNI’46, gedung Patra Jasa dllnya.Pelajaran yang diberikan kebanyakan lebih bagus, tapi kedepannya masih sering di pertanyakan.Ada kalanya karena terlalu ekspansive sehingga modal mereka kedodoran, dan mutupun mulai diabaikan.Buntut2nya mereka tutup ditengah jalan.Kendala yang mereka dapat, adalah kurangnya siswa karena  uang kursus yang mahal.Selain itu honor  guru2  mereka sedikit lebih tinggi dari kursus lainnya.

Terlepas dari ketiga kelompok tersebut diatas, ada pula kursus2 Inggris yang memberikan privat dengan mengirim guru2 yang mereka sudah seleksi secara ketat, namun honor yang  mereka berikan, masih terlalu kecil buat  si pengajar.Umumnya mereka dapat 2/3 sedang si guru 1/3nya.

Mengetahui keadaan seperti ini, banyak guru2, professional  maupun yang  masih junior  nekat membuka kursus privat..Adan guru yang mempertahankan mutu dan waktu yang lama.Adapula yang mengambil jalan pintas dengan menjanjikan  siswa dapat bercuap-cuap  Inggris dalam waktu  singkat.

Namun secara keseluruhan, kalau kita punya modal usaha,berusaha di bidang pendidikan di Indonesia masih teramat bagus buat dijajaki, karena zaman terus berkembang dan orang-orang pintar masih tetap saja  akan dibutuhkan, sekarang dan kedepan.

Terima kasih.-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 12 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 15 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 16 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kalah 4-2, Persipura Masih Bisa Balas di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Bahasa Menunjukkan Bangsa …

Alfarizi | 8 jam lalu

Hysteria …

Moch. Mishbachuddin | 8 jam lalu

Harga LPG 12Kg (NonSubsidi) Mencapai Harga …

Yulian Amalia | 8 jam lalu

Cesky Krumlov, Kota Cantik di Republik Ceko …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: