Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ulul Rosyad

Menyukai hal yang berbau misteri dan tempat bersejarah. http//www.akarasa.com

Kiri dan Semesta

OPINI | 04 September 2011 | 06:48 Dibaca: 566   Komentar: 5   0

Dalam berkendara motor, saya yakin kita semua lebih nyaman belok ke kiri dibandingkan belok kanan, lantas kenapa itu bisa terjadi?

Thawaf adalah bahasa yang ada di semesta, bahwa segala sesuatu itu bergerak dan berputar pada jalur edarnya. Pada alam makro, bulan berputar mengelilingi bumi, bumi berputar mengelilingi matahari. Dan dalam Islam, orang yang beribadah haji pun berputar mengelilingi Ka’bah.

Pertanyaannya, mengapa bukan Bumi yang mengitari bulan, tapi justru Bulan yang mengitari Bumi? Ya, Bulan bergerak berputar konsisten mengitari bumi karena memang Bumi layak dithawafi atau dijadikan pusat perputaran oleh Bulan. Mengapa layak? Karena memang Bumi lebih besar dibandingkan Bulan.

Bumi thawaf mengelilingi matahari, sebab matahari lebih besar dan lebih kuat dibandingkan Bumi. Lantas apa yang bisa kita simpulkan?

Sangat sederhana dan jelas, yaitu suatu Zat yang lebih besar akan di-thawafi oleh Zat yang lebih kecil. Artinya, dapat disimpulkan bahwa, apabila Zat semakin banyak yang mengitarinya, maka semakin besarlah zat itu.

Dan pusat Thawaf, atau pusat perputaran, yang utama adalah Allah swt. Sebab Allah adalah Maha Besar, Maha Kuat, sumber dari segala grafitasi di Alam Semesta ini.

Lalu, apa yang terjadi jika Bulan enggan thawaf mengitari Bumi, dan Bumi enggan thawaf mengitari Matahari? Elektron ogah mengitari inti atom? Apa yang terjadi jika manusia tak mau lagi mengitari Baitullah?

Bulan yang enggan thawaf kepada Bumi adalah Bulan yang ingkar, sehingga kehidupan Bulan itu dipastikan berantakan. Bumi yang enggan thawaf mengitari Matahari adalah Bumi yang murtad, sehingga kehancuran Bumi terlaksana. Elektron yang enggan thawaf mengelilingi inti atom adalah radikal, atau sering kita sebut Radikal Bebas dan bila Radikal Bebas itu masuk kedalam tubuh manusia, merusak kesehatan tubuh manusia. Dan manusia yang engganthawaf mengelilingi Baitullah, ia manusia sombong dan durhaka.

Karena manusia makhluk berakal, selayaknyalah ia mampu thawaf kepada yang Maha Sempurna, Pusat thawaf sejati di alam semesta: Allah swt. Yang enggan thawaf kepada Allah swt, hanya manusia ingkar, sombong, murtad, dan radikal.

Lantas relevansinya nyaman kekiri apa? Bulan mengitari Bumi kearah kiri. Bumi berputar mengitari Matahari pun kearah kiri. Kecenderungan elekton atom pun juga demikian, dan para sholihin thawaf mengitari Ka’bah ketika beribadah haji pun ke arah kiri. Ada keselarasan perputaran antar alam Mikro, Makro, dan Spiritual.

Kembali mengatakan, kita pun kalau sedang mengendarai motor ataupun mobil, bisa dipastikan lebih nyaman ketika belok ke kiri dibandingkan belok kanan. Al-Qur’an pun ditulis dari kanan ke kiri.

Dalam anatomi tubuh manusia, jantung kita pun ada di sebelah kiri. Selain itu, dalam lintasan atletik di stadion pun berlarinya ke arah kiri. Katanya para ahli berlari kearah kiri lebih bagus dan menyehatkan ketimbang kearah kanan yang menyebabkan pusing. Selaras…..?

Bagi kita yang suka begadang terutama para komopasioner ketika membuat kopi, kopi susu, teh dan sebagainya, sebaiknya kita mengaduk seduhan itu sesuai arah thawaf alam semesta, hehehehe…bahkan ketika saya membeli madu di tukang jamu pun, penjual jamu tersebut menyarankan kepada saya, bahwa Madu tidak baik diminum langsung, melainkan harus dicampur dengan air, lalu diaduk dengan sendok kayu atau plastik, kemudian cara mengaduknya berputar ke arah kiri, sesuai arah thawaf alam semesta. Itu sebabnya pula, tidak baik sering melihat jam dinding, sebab jam dinding berputar ke arah kanan, bisa menyebabkan pusing…..

Tuban, 4 September 2011

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 9 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu

Jokowi Tak Pernah Janji Rampingkan Kabinet …

Felix | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Persembahan untukmu Gus…. …

Puji Anto | 10 jam lalu

Omne Trium Perfectum dan Tri-PAR …

Sam Arnold | 10 jam lalu

Saat R-25 Menjawab Hasrat Pria …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Sombong Kali Kau …

Ian Ninda | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: