Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Rifa'i

MOTTO: MENCARI ARTI,BERARTI, SETELAH ITU MATI

APAKAH KITA MUNAFIK???

OPINI | 07 September 2011 | 03:00 Dibaca: 435   Komentar: 1   0

RASULULLAH SAW. BERSABDA YANG ARTINYA:

“BARANGSIAPA BERWAJAH MENDUA DI DUNIA INI, MAKA KELAK IA HARI KIAMAT DIA AKAN MEMILIKI DUA LISAN (LIDAH) DARI API NERAKA

( HR ABU DAUD DAN IBNU HIBBAN DALAM KITAB SHOHIHNYA)

“Munafik ? Kita ?“ Demikianlah saya bayangkan reaksi para pembaca yang tidak setuju dengan judul karangan ini. Berbicara soal “munafik” saja sudah merupakan suatu hal yang kurang menye­nangkan, apalagi untuk berfikir bahwa ki­talah (artinya. pembaca dan saya) yang munafik itu, rasanya seribu kali lebih ti­dak menyenangkan.

Tetapi para pembaca, apakah hal-hal yang tidak menyenangkan selalu tidak bo­leh dibicarakan ? Bukankah hal-hal yang tidak menyenangkan itu adalah fakta pu­la ? Realitas yang harus kita hadapi sehari-hari ? Dan siapa yang dapat menjamin bahwa kita (anda dan saya) tidak munafik ? seandainya sekarang belum mu­nafik, siapa yang dapat menjamin bahwa seterusnya kita tidak akan munafik ? Nah, tulisan ini justru ingin me­ngajak para pembaca untuk bersama-sama mendalami masalah kemunafikan ini. Bu­kan mendalami untuk kelak ikul-ikutan menjadi munafik tetapi merenunginya le­bih mendalam agar kita dapat menjauh­kan diri akhlaq buruk ini.

Yang dimaksudkan dengan munafik dalam catatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :”

MUNAFIK ADALAH SIFAT YANG ADA PADA SESEORANG YANG SERING KALI MELAKUKAN BERBAGAI PERBUATAN YANG SALING BERTENTANGAN SATU SAMA LAIN DI MANA SALAH SATU ATAU SEBAGIAN DARI PERBUATAN-PERBUATAN ITU TERPAKSA DILAKUKAN SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI ATAU DISEMBUNYIKAN DARI ORANG LAIN, KARENA BERTENTANGAN DENGAN NORMA, ATAU NILAI-NILAI YANG BERLAKU.

Contoh dan kemunafikan paling mudah ditemui di kalangan orang penting atau pejabat tinggi. Soalnya perbuatan dan perkataan-perkataan mereka kita lihat atau dengar setiap hari melalui mass-media. Kita bisa melihat misalnya pejàbat yang menganjurkan hidup sederhana, tetapi Semua orang tahu bahwa ia mempunyai mobil delapan buah dan rumah beberapa biji masih ditambah tanah beberapa puluh hektar. Pejabat lain menyerukan anti komersialisasi jabatan, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa ia tidak pernah menolak kalau ia disodori sesuatu untuk melicinkan urusan-urusan dalam wewenangnya.

Itu adalah contoh-contoh yang segera terlihat. Tetapi jangan menyangka bahwa kemunafikan tidak terdapat di kalangan lain selain pejabat. Cobalah tengok orang-orang, kawan-kawan atau kenalan-kenalan di sekitar kita, atau bahkan barangkali diri kita sendiri. Pasti anda akan menjumpai pula kemunafikan , dalam bentuknya yang kecil-kecilan atau yang besan-besaran. Mi­salnya. ayah yang menyuruh anaknya ber­puasa padahal ia sendiri hanya benpuasa di rumah, mahasiswa yang pagi harinya menandatangani petisi anti kemewahan padahal malam harinya ia pinjam mobil kantor ayahnya dan mengajak pacarnya nonton film di bioskop kelas satu juta-an, pel­ajar yang sok jujur tetapi sering menyon­tek, suami yang sok tidak merokok di de­pan isterinya tetapi selalu merokok di kan­tor, isteri yang di muka suaminya setia te­tapi di depan tetangga-tetangganya mem­pergunjingkan kejelekan-kejelekan suami dan sebagainya saya percaya bahwa pembaca bisa me­nambahkan seribu satu macam contoh lain, karena memang kemunafikan berada di mana-mana, termasuk barangkali di dal­am diri kita sendiri.

Sekarang marilah kita kaji apa sebe­narnya yang terjadi dalam perbuatan mu­nafik itu. Dan contoh-contoh di atas, JE­LASLAH BAHWA DI DALAM PERBUATAN MUNAFIK SELALU ADA DUA ATAU LEBIH PERBUATAN, YANG SALING BERTENTANGAN. YANG SATU BAIK, DA­LAM ARTI MENGIKUTI NORMA-NORMA YANG BER­LAKU DALAM MASYARAKAT, MENURUT KEPADA NILAI-NILAI IDEAL, SEDANGKAN YANG LAIN BURUK, dalam arti bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh masyarakat atau idealis­me.

Jadi sebenarnya ada dua motivasi yang muncul sekaligus pada masa yang bersamaan atau hampir bersamaan, yaitu motivasi untuk mengikuti norma-norma dan motivasi untuk mendapat kepuasan-­kepuasan tertentu yang tidak dibenarkan norma-norma. Orang yang munafik ada­lah orang yang tidak dapat menentukan pilihan, mana di antara kedua motivasi itu yang mau diikutinya dan mana yang akan dihindarinya. Ia ingin memenuhi kedua-­duanya sekaligus. Karena itu ia mengadakan KOMPROMI, jadilah ia seorang muna­fik. Dalam lingkungan yang satu ia berbuat seolah-olah lain, telapi dalam lingkungan yang lain ia menjadi orang yang hanya mengikuti nafsunya sendiri saja. Dalam agama Islam orang yang semacam ini sumber bencana,hal ini dapat dibuktikan di jaman perjuangan merebut kemerdekaan, betapa banyak orang munafik yang berfihak kepada bangsa penjajah, dia rela mengorbankan bangsa dan Negara hanya untuk kepentingan pribadinya, saat seperti sekarang ini bangsa dalam keadaan terpuruk, masih tega-teganya korupsi besar-besaran. Walhasil sangat pantas dan wajar jika dalam Al Qur-an surat An Nisaa ayat 45 :

“SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG MUNAFIK ITU (DITEMPATKAN) PADA TINGKATAN YANG PALING BAWAH DARI NERAKA. DAN KAMU SEKALI-KALI TIDAK AKAN MENDAPAT SEORANG PENOLONGPUN BAGI MEREKA”.

Rasulullah saw, juga memberikan gambaran sebagai cirri-ciri orang munafiq,yaitu:

Apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari tidak menepati, apabila dipercaya berkhianat.

Pada anak-anak kemunafikan ini belum ada. Apa yang dipikirkan oleh seorang anak, itulah yang diperbuatnya (karena pada anak-anak masih tdk banyak memiliki KEPENTINGAN). Pada suatu saat seorang anak hanya mempunyai satu tujuan dalam perbuatan-perbuatannya dan tujuan ini biasanya sesuai dengan norma­-norma, karena kalau ia agak menyeleweng sedikit, terang sudah akan dimarahi oleh orang tuanya. Karena itu anak-anak umumnya jujur.

Suku-suku bangsa yang primitif atau orang-orang desa yang cara berfikirnya masih sederhana, juga umum­nya jujur dan tidak kenal kemunafikan dalam diri mereka pada suatu saat hanya berlaku satu norma dan satu nilai, karena itu mereka tidak mempunyai lebih dari satu motivasi perbuatan dalam satu saat yang sama. Dengan demikian kompromi-­kompromi tidak diperlukan dan tidak ter­jadi kemunafikan . Tetapi orang dewasa di masyarakat yang sudah mengalami multi-kebudayaan umumnya lebih mudah menjadi munafik. Soalnya mereka berada dalam lingkungan di mana sekaligus berlaku beberapa nilai dan norma, dan tidak selamanya nilai nilai atau norma-norma itu sejalan satu dengan lainnya. Dihadapkan pada norma-norma yang saling bertentangan itu maka seorang dipaksa untuk melakukan pilihan dan kalau ia tidak bisa memilih, maka ia melakukan kompromi dan kalau sudah terjadi kompromi maka dapat terjebak dalam kemunafikan .

Contohnya bisa kita lihat pada seorang tokoh agama TETAPI IA PUNYA BISNIS YANG BESAR DI JAKARTA. Waktu usaha bisnis sang tokoh agama ma­kin besar, ia harus berhuhungan dengan relasi baru ia mulai berkenalan minuman keras, dengan wanita­ di kehidupan malam, dengan kata­-kata belece dari pejabat, yang se­mua ini dilarang oleh agama, tetapi meru­pakan suatu hal yang biasa dalam dunia bisnis. Sang tokoh agama demi kemajuan bisnis te­rpaksa sewaktu-waktu menanggalkan b­aju tokoh agama nya dan menggantinya dengan dasi dan mulai menjadi munafik, karena di rumah dan di lingkungan RT-nya menjadi kyai alim yang disegani. Apakah tokoh agama ini bersalah dalam hal ini ? ya jelas salah.Yang jelas pilihannya hanya satu diantar dua pilihan. tetap MENJADI TOKOH AGAMA DENGAN RISIKO BISNISNYA TIDAK MAJU, ATAU BISNISNYA MAJU TETAPI TIDAK MENJADI TOKOH AGAMA LAGI NAH, ia menco­ba cari kompromi (pembenaran prilakunya).

Masalah yang dihadapi sang tokoh agama saya percaya, adalah sama dengan yang dihadapi oleh kita yang hidup di kota-kota besar, seh­ingga bukanlah merupakan masalah masing-masing sebagai perorangan, te­tapi merupakan masalah kita semua seba­ngsa. Merupakan masalah nasional. kita ini adalah bangsa yang sedang membangun. Bersama pembangunan, berda­tanganlah teknologi baru yang diimport Barat, dan bersama import teknologi import pula (sengaja atau tidak sengaja ­kebudayaan asing )

Disamping itu, pembangunan itu sendiri membawa pengaruh yang macam-macam. bertambahnya uang yang beredar, bertamb­ahnya barang, timbulnya berbagai jenis barang baru, lancarnya komunikasi dan media, semua itu menumbuhkan kebutuh­an-kebutuhan baru yang semula tidak pernah ada. Kalau dulu orang Indonesia hanya membutuhkan hal-hal yang primer saja seperti sandang, pangan, per­mukiman dan pendidikan serta pekerjaan, maka sekarang orang Indonesia sudah membutuhkan seribu satu macam hal lain seperti pengangkutan, hiburan, dan seba­gainya Bukan itu saja. Bahkan tumbuh pula kebutuhan akan SIMBOL-STATUS sehingga tidak hanya jumlah jenis kebutuhan yang bertambah, melainkan kualitasnya­pun meningkat. Makan tidak cukup nasi biasa, tetapi harus beras Cianjur, dan sekali sekali makan di restoran mewah Rumah tidak cukup asal rumah, tetapi yang har­ganya ratusan juta Kendaraan tidak cu­kup bus atau taksi, tetapi harus Mercedes, BMW. Nonton bioskop tidak asal menonton te­tapi harus di bioskop dengan AC dan se­bagainya dan seterusnya. Akibatnya, tum­buhlah motivasi-motivasi baru yang mele­bihi kebutuhan primer. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang di atas kebu­tuhan primer inilah manusia Indonesia (dan juga manusia-manusia lain di negara­-negara berkembang) harus melakukan perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kemunafikan Salahkah manusia-manusia itu ? Sebagai subyek mungkin mereka bersalah, tetapi sebagai obyek, yang me­rupakan sebagian saja dari proses pemba­ngunan, mereka hanya menjadi akibat dari adanya proses pembangunan itu sendiri Mereka hanya menyesuaikan diri terhadap keadaan. Kalau begitu, apakah kita semua ini akan menuju kepada kemunafikan total ? Barangkali ya, tetapi mungkin juga tidak. Soalnya, dapatkah kita sebagai bangsa mengekang diri kita sendiri sehingga dapat menekan kebutuhan-kebutuhan kita kepada tingkat primer saja ? Dapatkah kita sebagai bangsa mengadakan gerakan perlawanan terhadap arus modernisasi atau arus pembangunan ? maksud saya bukan menentang pembangunannya, tetapi menentang efek-efek sampingannya. Da­patkah ? Yang jelas gerakan ini tidak bisa dimulai dari bawah .yaitu dari kita masing-masing perorangan, bagaimanapun juga adalah sulit bagi orang per-orang untuk melakukan gerakan anti kemunafikan kalau semua orang lain di sekitarnya melakukan hal tersebut.

Lalu, bagaimanakah jalan keluarnya ? Saya berpendapat bahwa gerakan kembali kepada kebutuhan-kebutuhan primer, yang merupakan kunci dari pada tumbuhnya kembali kejujuran di negara kita dapat di­galakkan menjadi suatu gerakan seluruh bangsa asal dimulai dari atas.

Pemerintah saat ini bukannya tidak menyadari hal itu. TERBUKTI DARI SUDAH SERINGNYA DICANANGKAN POLA HIDUP SEDERHANA, ANTI KEMEWAHAN, ANTI KOMERSIALISASI JABATAN, ANTI KORUPSI DAN SEBAGAI­NYA ITU. Tetapi yang masih kurang adalah pemberian contoh yang kongkrit dari pe­jabat-pejabat pemerintah itu sendiri. Saya yakin kalau kita memiliki kepemimpinan nasional yang benar-benar jujur dan sederha­na, tetapi sekaligus berwibawa, keras dalam melaksanakan hukum dan mau men­didik kader-kader penggantinya, maka da­lam waktu yang tidak terlalu lama seluruh rakyat Indonesia akan mencontoh sifat-sifatnya dan nasionalisme yang sudah merata membuat seorang Indonesia yang ting­gal di pelosok jauh dari Jakarta sekaligus, masih menganggap pemimpin-pemimpin­ negaranya sebagai pemimpinnya. Contoh kepemimpinan bagi orang Indonesia seka­rang tidak lagi terbatas kepada kepala suku atau raja masing-masing. Karena itu secara teoretis sesungguhnya tidak sukar menga­tur orang Indonesia untuk hidup sederha­na dan jujur asal benar-benar diberi contoh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: