Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Daniel Puspo Wardoyo

seorang yang terus bertumbuh dan belajar

Kotoran Kucing

OPINI | 06 September 2011 | 20:51 Dibaca: 192   Komentar: 2   1

13152983661462097339Suatu siang saya sekeluarga makan di rumah makan. Setelah selesai makan, anak saya yang ke dua yang bernama Esa berlari-lari sambil berteriak-teriak memanggil kakaknya.

“Kak… kak ada kucing Puk (buang air besar) !!” teriaknya.

Kakaknya yang tatkala itu masih belum habis makannya segera beranjak dari tempat duduknya lalu berlari mengikuti adiknya.

Sesaat kemudian mereka kembali dengan senyum-senyum. Lalu saya bertanya apa yang mereka lihat. Adiknya yang menjawab ” Tadi kak Marvel lihat kucingnya sedang puk”

Kakaknya menyambung ” ya tadi aku gali tanah bekas kuburan puk-nya kucing he he”

“Tangannya kotor dong. Memangnya bagaimana caranya kucing puk?” tanya saya

“Pertama kucingnya gali tanah dulu lalu dia jongkok lalu dia puk lalu ditutup lagi tanahnya” jelas si kakak yang usianya masih 8 tahun

“puk-nya warnanya apa?” tanya saya seperti menguji

“hitam..eh abu-abu” jawab adiknya

Dari pengalaman ini membuat saya merenung. Mengapa anak-anak begitu antusias melihat kucing puk. Padahal melihat kucing menari-pun belum tentu saya tertarik melihatnya. Namun itulah bedanya anak-anak dengan orang dewasa secara usia.13152990191458380864

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka seperti mendapatkan penemuan-penemuan yang baru dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kadang hal-hal itu juga pernah mereka lihat, namun seringkali mereka masih tertarik melihat dan mengetahuinya. Itulah yang membuat mereka ceria, selalu segar, dipenuhi kepolosan dan keceriaan melihat hal-hal yang unik bagi mereka.

Sedangkan orang-orang dewasa kadang acuh dengan apa yang sudah “ada” atau yang sudah diketahui. Mereka kadang mudah bosan.

Bagian yang perlu terus dikembangkan dalam hidup kita supaya hidup ini segar, menarik, tidak menjemukan dan selalu “baru” meski itu sesuatu yang sudah pernah ada dan yang sudah diketahui. Bagian itu adalah Techable yaitu hati yang terbuka untuk belajar dan diajar.

Bila hati kita siap untuk belajar dari apapun maka tidak sedikit kejadian, pengalaman, barang atau orang dan sebagainya akan menjadi pelajaran bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal tersebut membuat kita mendapatkan “penemuan-penemuan” baru dalam segala hal. Yang pada akhirnya akan membuat kita bijak karena belajar dari kehidupan itu sendiri.

Selamat memiliki hati yang belajar.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: