Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ernest Hendri

I see, I think, I write, and I tell the world What I feel, and selengkapnya

Ingkar Janji Berarti Mati

OPINI | 15 September 2011 | 10:00 Dibaca: 662   Komentar: 0   0

1316037079760783143“Anakku seekor sapi itu yang dipegang talinya, seorang manusia itu yang dipegang janjinya,” itu kata-kata para ibu pada anak-anaknya. Pada kesempatan lain beliaupun berkata,”Anakku janji itu adalah hutang.”

Kalau kita bisa berfikir sejenak, dengan sedikit merendahkan hati, mencoba memahami ungkapan diatas yang sebenarnya bukan ungkapan, karena begitu jelas dan bisa dipahami pada hampir semua tingkat kecerdasan intelektual. Keterikatan kita dengan manusia lain adalah karena janji, apakah kita berjanji kepada orang lain atau kita hanya berjanji pada diri sendiri, mungkin itulah yang dikatakan komitmen.

Kalau kita sedikit berfikir ekstrim, sebenarnya janjilah yang membuat hadirnya kita di muka bumi ini, dan janjilah yang membuat kita meninggalkan bumi ini, apakah kita meninggalkan dunia ini secara wajar atau tidak wajar. Bapak kita telah berjanji setia pada ibu kita, maka lahirlah kita. Tuhan sang pencipta seru sekalian alam juga mengatur makhluk berdasarkan janjinya yang dinamakan Qoda dan Qodar. Termasuk rezeki, jodoh, dan kematian kita.

Adanya ketidakpedulian pada janji atau ingkar akan menciptakan ketidakteraturan, merusak sistem, dan selanjutnya akan berakibat “fatal.” Ingkar pada janji bertemu, akan menanamkan perasaan bahwa kita telah dilecehkan, dan menimbulkan perasaan dendam. Tidak tepat janji untuk membayar hutang akan menciptakan denda materi dan hilangnya kepercayaan bisnis. Ingkar pada janji politik akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam bagi rakyat yang berlanjut pada mosi tak percaya dan penggulingan kekuasaan. Lupa sama janji (sumpah) jabatan akan menggiring kita pada tindakan tak terpuji “KORUPSI,” dan berakhir dibalik jeruji besi.

Itulah sedikit gambaran sebab akibat atau dinamika janji. Janji bukanlah sekedar “permainan kata-kata” yang menjadi obat penenang sesaat yang mengulur-ulur waktu, sehingga kecanduan yang candunya lebih para dari pada “narkoba.” Candu pada narkoba hanya membunuh diri sendiri, tapi candu pada janji-janji bohong akan membunuh banyak orang, atau mengakibatkan orang lain saling bunuh. Janji adalah hutang, hutang adalah janji. Kalau kamu berjanji berarti kamu berhutang. Manusia berhutang tidak akan pernah masuk surga sampai hutang dibayar. Maka isi kutbah kematian pun sebelum jenazah dikubur lebih banyak permohonan maaf dan permintaan keihlasan pada hutang dan permintaan penagihan kalau-kalau sijenazah berhutang semasa hidupnya, dan pewarisnya akan membayar lunas.

Janji atau hutan tidak langsung lunas kalau kita mati, walaupun kadang-kadang janji/hutang harus dibayar dengan kematian. Banyak berjanji, banyak berhutang, ingkar berjanji berarti mati, bukan saja mati secara lahiriyah tapi juga mati secara sosial. Tiada orang yang percaya lagi, semua orang yang pernah kita berjanji dan ingkar, membunuh kita dalam hatinya, bahkan karena sakit hatinya mereka yang telah kita bohongi dengan janji palsu akan terus membunuh karakter kita dengan menyampaikan pada teman dan semua orang yang dia temui kalau kita pembohong, penipu, yang tidak menepati janji, yang suka meremehkan orang lain.

Berita buruk cepat menyebar, apalagi kita seorang pejabat publik, yang setiap hari dipublikasikan, setiap hari menjadi target pemberitaan, yang setiap hari dicurigai apakah kita adalah pejabat yang bersih, tepat janji dan berbudi.

———————————————————————————————————————————————

“Tulisan ini terinspirasi oleh saudaraku Sang Birokrat, hati-hati kalau berjanji, minta maaf dan batalkan janjimu kalau kau tak sempat, sehingga orang tak menunggumu tanpa kepastian, semua orang perlu dihargai walaupun dia bukan pejabat, atau atasanmu. Aku tahu kau punya Hp lebih dari empat, Aku tahu karena aku lihat, ( Hpmu 2, Hp Istrimu 1 (mungkin lebih), Hp anak mu 1, Hp Saudara Mu 1, dan HP sopir mu 1).”

Kita jatuh bukan karena batu yang “Besar” kita jatuh karena “Kerikil Kecil” yang tajam. Dan kebanyakan orang itu jatuh karena orang terdekat yang merasa dilecehkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tentang Peringatan di Dinding Kereta …

Setiyo Bardono | 7 jam lalu

Musik Adalah Hidup …

Nitami Adistya Putr... | 7 jam lalu

Dilema Struktur Kabinet …

Yanuar Nurcholis Ma... | 7 jam lalu

Untuk Anak-anakku di Negeri Hijrah …

Gayatri Shima | 8 jam lalu

Pengalihan Subsidi BBM …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: