Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

UKSW Rumah Bhineka Tunggal Ika

REP | 17 September 2011 | 11:22 Dibaca: 865   Komentar: 13   1

Photobucket

UKSW atau Universitas Kristen Satya Wacana adalah sebuah Perguruan Tinggi yang ada di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Universitas dengan multi etnis dan mendapat julukan sebagai Indonesia Mini, karena keberagaman dari civitas akademikanya. Tidak hanya keberagaman Suku, tetapi faktor-faktor fundamental religi, budaya dan idealisme bercampur menjadi satu di UKSW. Tidak hanya warga negara Indonesia yang menjadi warga UKSW, namun mereka yang dari negara tetangga dan dari belahan penjuru bumi juga hadir di sini. Semua berbeda, semua berwarna namun persatuan dalam keberagaman itu yang menjadi amanah yang dipercayakan publik kepada UKSW.

Photobucket

Dibalik beberapa celotehan-celotehan miring dengen sedikit memplesetkan UKSW sebagai Universitas Kristen Sedulur Wetan “sodara timur” artinya banyak mahasiswanya yang berasal dari kawasan Indonesia bagian timur atau  yang membelokan sebagai Satya Wacina, sebab banyak etnis China yang belajar di sini. Sedulur wetan dan China juga bagian Indonesia yang di rangkul menjadi Bhineka Tunggal Ika dan UKSW menjadi rumahnya. Stigma tentang nama Kristen juga menjadi sensitif disaat-saat hubungan religi dikaitkan dengan akademik, namun UKSW menjadi jembatan yang kokoh untuk mengakomodasi perpedaan religi dengan memberi kesempatan yang sama dalam dunia akademik. Tidak sedikit civitas akademika UKSW yang non kristiani dan menjadi sama tanpa ada perbedaan, sehingga gesekan yang mengatasnamakan SARA bisa dihindari.

Photobucket

Salah satu kegiatan dalam menyambut tahun ajara baru adalah OMB, Orientasi Mahasiswa Baru. Keberagaman kultur, religi, idealisme di satukan dalam sebuah acara pawai budaya yang bertema “UKSW Rumah Bhineka Tunggal Ika”. Sebagai puncak dari prosesi penyambutan mahasiswa baru, maka acara yang digelar rutin setiap awal tahun ajaran baru menjadi sesuatu yang di nantikan civitas akademika UKSW dan masyarakat Salatiga pada umumnya. karnaval dengan menyuguhkan kostum budaya dan marchingblek karya mahasiswa baru.

Photobucket

Menurut ketua panitia OMB UKSW 2011, Augie Manuputty acara ini di dukung 1900 partisipan dengan 100 peserta kostum, 600 marchingblek, beserta paskriba SMA Lab Salatiga dan Satya Wacana Children Center. Karnaval dengan beragam kostum memberikan makna, bahwa inilah warna-warni UKSW. Setiap barisan mengenakan kostum yang berbeda sebagai simbol-simbol suku-suku dan etnis di Indonesia. Mereka yang dari Toraja di wakili dengan kostum berbentuk rumah adat Tongkonan, atau yang dari Kalimantan dengan Mandau dan perisainya, begitu juga yang dari Papua, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.

Photobucket

Marchingblek dengan 600 peserta yang terus-menerus memukul alat musik dari drum bekas, kentongan dan beragam jenis alat musik lain menjadi penyemarak barisan arak-arakan kostum. Marchingblek merupakan perwujudan dari idealisme UKSW yang memoleh mahasiswanya untuk “creative minority”. Sebuah pesan yang di usung untuk menjadi terang dan garam dunia. 3 konsep yang di usung Marchingblek adalah kreativitas, merakyat dan menghibur. karya dari mahasiswa baru untuk menyuguhkan atraksi dan hiburan bagi civitas akademika dan warga Salatiga dan menjadi modal awal sebelum masuk dalam aktivitas belajar mengajar.

Photobucket

Creativ Minority menuntut mahasiswa untuk berkreasi dan mengapresiasi apa yang ada menjadi suatu yang bermanfaat. Drum-drum bekas disulap menjadi perangkat musik, begitu juga dengan bambu yang dirancang sebagai kentongan menambah kesan tradisonal. Merakyat dan menghibur merupakan salah satu tujuan karnaval ini sebagai wujud pengabdian masyrakat. Antusiasme warga Salatiga untuk sejenak turun ke jalan menyaksikan arak-arakan dari kampus Diponegoro menuju Jalan Jendral SUdirman, Sukowati dan berakhir di Lapangan Pancasila.

Photobucket

Bhineka Tunggal Ika yang diarak dari Kampus hingga Lapangan Pancasila menjadi bukti bahwa keragaman itu bukanlah sebuah perbedaan yang harus dikotak-kotakan menurut definisinya masing-masing. Campur aduk warga yang antusias menyaksikan di pinggir jalan protokol Salatiga seolah sudah melepaskan atribut perbedaan-perbedaan yang biasanya menjadi penanda status sosial. Beban berat sekarang berada di pundak UKSW bersama civitas akademikanya, bagaimana menjaga dan mengawal Bhineka Tunggal Ika yang sudah tertanam di Rumah Indonesia Mini agar menjadi penyatu dalam setiap perbedaan. Walau UKSW menjadi telah Indonesia Mini, namun tetap menjadi sejengkal dari Indonesia dan menjadi warna tersendiri untuk menjadi pelengkap pelangi Nusantara. UKSW hiduplah garbah ilmiah kita….

Salam

DhaVe

Foto lengkap silahkan klik di sini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 5 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 5 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 6 jam lalu

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: