Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Lusia Peilouw

bukan siapa-siapa namun slalu ingin menjadi yang berarti bagi sesama walau dalam bentuk yang paling selengkapnya

Fatamorgana Pendidikan di Indonesia; Sebuah Resensi Buku

OPINI | 21 September 2011 | 09:13 Dibaca: 952   Komentar: 22   1

Judul: Pembodohan Siswa Tersistimatis

Penulis: Muhammad Joko Susilo

Penerbit: Pinus Book Publisher

Tebal: 239 halaman

Peresensi: Lusi Peilouw (Peneliti dan Konsultan pada Lembaga InDev, Ambon)

Fatamorgana. Itu yang terbersit dibenak saya ketika melewati lembar demi lembar dari buku yang judulnya cukup radikal, Pembodohan Siswa Tersistimatis. Gambar depannya pun terbilang super, mengingatkan saya pada kisah seorang kakek berusia 60an tahun di Kenya yang duduk di bangku SD bersama cucu-cucu sekampungnya, dampak dari dicanangkannya Education For All. Setelah menyelesaikan beberapa bagian dari buku itu barulah tertangkap oleh radar saya makna dibalik gambar depan itu yaitu seseorang yang sudah uzur tetapi pola pikir dan perilakunya tidak ubah dengan seorang bocah SD. Jelas menggambarkan sebuah sistim pembodohan. Buku ini membuat saya terhentak ke alam sadar dan melihat kenyataan betapa perkembangan pengelolaan pendidikan di Indonesia dewasa ini terlalu banyak menciptakan fatamorgana. Sesuatu yang nyata namun sebetulnya tiada. Peningkatan mutu dikejar dengan berbagai desain kebijakan yang kebanyakan semu. Yang benar “nyata dan ada” adalah pembodohan.

Penulis mengorganisasikan muatan bukunya dalam 8 bagian, tentu dengan alur pikir dan design penulisan yang diyakini baik oleh penulis. Namun saya melihatnya dalam 4 bagian besar, karena 6 bagian awal semuanya merupakan realita pendidikan di negara kita tercinta ini. Di bagian pembuka saya melihat penulis mencoba menyajikan dua hal berbeda yaitu idealisme dan realita. Tentang idealisme, penulis mengemukakan kembali konsep pikir tentang sejatinya pendidikan yang dilahirkan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Sementara pada sisi realita, pembaca dapat menemukan kenyataan-kenyataan buramnya potret pendidikan yang kita miliki. Penulis mengemukakan kembali hal-hal pilu yang terjadi dan terpublikasi melalui koran-koran nasional termasuk beberapa peristiwa tragis yang dialami oleh pelajar-pelajar kurang beruntung dan keluarganya.

Pemaparan tentang realita di negara kita dilanjutkan dengan mempertanyakan kemana sebetulnya kiblat pendidikan kita. Penulis memperlihatkan keberadaan berkembangnya pendidikan di beberapa negara, mulai dari tetangga-tetangga kita sampai ke negara-negara barat, yang ternyata memiliki landasan filosofis yang tidak berbeda dengan kita.

Sayang sekali, kita tidak cukup memiliki komitmen dan konsistensi yang kuat untuk membangun pendidikan kita diatas landasan yang sudah secara elegant dan smartnya diletakan oleh tokoh-tokoh pendidikan kita. Alhasil, kita masih harus mencari kiblat. Padahal itu tidak perlu dilakukan. Saya mencoba menangkap apa yang ingin disampaikan oleh penulis pada bagian ini, bahwa kita, yang mestinya menjadi kiblat negara-negara yang sudah cukup maju paling tidak bagi Singapura dan Malaysia, kini malah seperti kembali ke titik nol. Kita meninggalkan fondasi ideal yang sudah ada dan mendirikan bangunan lain tanpa fondasi ibarat bangunan bongkar pasang. Pemikiran ini terlihat dari ulasan penulis tentang Kurikulum Berbasis Bingung (KBB) di halaman 25. Benar, tidak ubahnya dengan sebuah bangunan bongkar pasang. Mulai dari kurikulum yang diberlakukan pada tahun 1975, CBSA, KBK dan sekarang KTSP. Besok, ketika Menteri Pendidikan diganti, entah apalagi kurikulumnya. “Siswa seakan-akan menjadi kelinci percobaan…”, kata penulis di halaman yang sama.

Semua realita itu melahirkan asumsi-asumsi kuat tentang bagaimana pembodohan itu terbangun. Dan secara cerdas penulis melihat bahwa mekanisme pembodohan itu linier alurnya dengan proses pendidikan dimana hulunya adalah dari rumah. Disadari atau tidak, pembodohan itu terjadi pula di rumah, sebagai lembaga yang paling responsible untuk pendidikan anak. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, perilaku penyisipan amplop kepada guru, pemaksaan kehendak orang tua terhadap anak dalam memilih bidang studi lanjutan, himpitan ekonomi yang menjadikan anak sebagai mesin pencetak koin-koin rupiah bagi keluarga sampai pada pola mendidik yang penuh kekerasan dianggap penulis sebagai bentuk pembodohan yang diciptakan sendiri oleh orang tua. Hal yang tidak banyak disadari oleh khalayak bahkan oleh mereka yang melahirkan sendiri para korban pembodohan itu.

Beranjak dari rumah, penulis melihat perilaku pembodohan itu ada pula di sekolah. Sangat ironis dan miris, bahwa ternyata, lembaga yang seyogyanya mengemban misi membuat orang menjadi pintar, justru membodohkan! Di dalam masyarakat pun perilaku pembodohan ada. Begitu pula dalam tubuh pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya.

Tidak hanya berhenti pada titik mengkritisi, penulis juga secara vulgar menawarkan alternatif-alternatif solusi yang cukup practical untuk dilakukan oleh semua pihak baik orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah dalam rangka menghapus perilaku-perilaku pembodohan. Tantangan terbesar pendidikan sebagai sistim dan institusi ke depan adalah sejumlah kecenderungan globalisasi. Penulis memunculkan sebuah pertanyaan kritis: “mampukah praktek pendidikan kita menghasilkan lulusan dengan kualitas yang memadai untuk menghadapi kecenderungan-kecenderungan globalisasi itu?” Reformasi pendidikan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sekolah adalah jawabannya yang ulasannya dapat ditemukan dibagian-bagian penutup buku ini.

Sebagai seorang akademisi, Penulis cukup bijak mengemas pikiran dan semua sumber informasi maupun data yang dimiliki menjadi kemasan bacaan yang walaupun terkesan cukup berat, namun sebetulnya sangat mudah untuk dicerna oleh semua kalangan.

Semua orang pemakai jasa pendidikan, mesti memahami dengan benar dan mengamati – mengawal dengan cermat proses hidup-menghidupkan pendidikan di tanah air kita. Oleh karena itu, isi buku ini sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi. Selain itu, buku ini cocok menjadi bahan evaluasi diri bagi semua pemangku kepentingan maupun pelaku pengembangan pendidikan atau sebagaimana penulis gunakan di halaman 86, dalang dan Pelakon pendidikan. Lebih jauh, buku ini bisa menjadi referensi bagi masyarakat luas untuk bekerja bersama menghilangkan satu per satu fatamorgana yang ada di dunia pendidikan kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 5 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: