
seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...
Dibaca: 487
Komentar: 1
Nihil
Kita masih saja tergagap hidup di bumi Indonesia. Taburan cincin api diatas tanah retas lajur sumber gempa bumi Indonesia yang membentang dari Andaman sampai Busur Banda Timur, dan diteruskan sampai Maluku hingga Sulawesi Utara ternyata bukan bagian dari pengetahuan kita sebagai bangsa Indonesia. Padahal gempa, gunung meletus, dan tsunami selain telah memberi torehan panjang dalam sejarah nusantara, hal ini telah diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
Kita pasti sepakat pendidikan dan peningkatan pemahaman masyarakat diperlukan untuk mencegah dan meminimalisir dampak dari bencana geologi tersebut; selain tentu saja mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) dan memanfaatkan teknologi di daerah-daerah rawan gempa bumi dan Tsunami yang berada di sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, NTB, NTT dan Maluku; dan disepanjang cincin api. Namun masalahnya, apakah kurikulum kita belum mengajarkan sama sekali pengetahuan ini? Saya rasa tidak. Saya menemukan bahwa materi ini seharusnya telah cukup efektif diajarkan di setiap jenjang pendidikan.
dimana pendidikan cincin api itu? (source immage: bse.invir.com)
Adanya ketetapan pemerintah yang memberikan wewenang kepada masing-masing sekolah untuk menggunakan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) barangkali memang belum sepenuhnya dipahami oleh guru yang berada di lapangan, padahal inilah potensi kita. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di tiap-tiap satuan pendidikan. Anda yang bukan pendidik atau tenaga pendidikan, atau orang yang tidak terlibat dalam kependidikan mungkin akan sulit memahami ini. Tulisan ini cukup mencermati materi-materi dalah setiap jenjang pendidikan yang seharusnya efektif memberi pemahaman “The Ring of Fire” dengan sistem integrasi antar mata pelajaran. Ini artinya tidak harus guru geografi yang wajib memberikan pengetahuan ini, melainkan juga guru pendidikan agama, ekonomi, sosiologi, sejarah, dan sebagainya pada jalur pendidikan formal di setiap jenjang pendidikan. Pada jalur pendidikan non-formal dan informal, kita bisa mencari celahnya sendiri memberi pemahaman kepada anak-anak kita. Di sinilah letak potensi keterlibatan masyarakat untuk ikut mengambil peran, termasuk kita para kompasianer, wartawan, atau siapa saja bisa terlibat di dalamnya. Saya rasa kita harus berterima kasih kepada Kompas yang telah menyadarkan kita kembali wawasan berharga ini.
Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 1 SD
Sejak duduk di kelas 1 SD, kita disodorkan oleh materi Ilmu Pengetahuan Alam pertama mengenai “Menceritakan Keadaan Lingkungan Sekolah.” namun kita tahu, ini belum cukup efektif. Kegiatan Pembelajaran baru mengenai keadaan lingkungan sekolah, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, menceritakan keadaan lingkungan rumah, menjaga kebersihan lingkungan rumah, menceritakan kondisi lingkungan sehat, menceritakan kondisi lingkungan tidak sehat, menceritakan tindakan yang sudah dilakukan untuk memelihara lingkungan menyebutkan tanaman dan hewan yang banyak dipelihara, mempraktikkan memelihara hewan dan tanaman yang ada di sekolah atau di rumah.
Saya tahu ini konyol. mengajari anak SD kelas 1 tentang cincin api. Tapi ini akan menjadi sesuatu yang akan mengawali “pendidikan cincin api” di tahap berikutnya. Kemampuan melihat lingkungan sekitar, atau secara luasnya lingkungan Indonesia. Termasuk menjadi pondasi ini adalah Pengenalan berbagai bentuk energi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Masih di kelas 1 SD. Materi Pembelajaran berikutnya adalah Energi dan manfaatnya. Meski kegiatan Pembelajaran baru menyebutkan manfaat energi panas dan energi listrik dalam kehidupan sehari-hari, menyebutkan peralatan rumah tangga yang menggunakan energi listrik, menyebutkan jenis energi yang paling banyak digunakan di rumah dan di sekolah, yaitu energi listrik dan energi panas, namun ini adalah pondasi yang kokoh untuk pemanfatan energi panas bumi kelak.
Saya tahu ini berlebihan. ini baru sd kelas 1. Tapi bagaimana kalau kita melihat matei Ilmu Pengetahuan Sosial Geografi untuk kelas VII?
Ilmu Pengetahuan Sosial Geografi kelas VII
Yup. Materi pertama langsung disodorkan standar kompetensi “Memahami lingkungan kehidupan manusia.” Kompetensi Dasarnya: mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan. Materi ini mencakup: Tenaga endogen dan tenaga eksogen, Gejala diastropisme dan vulkanisme, Faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi. Kegiatan pembelajarannya sebenanya cukup memadai untuk memberi pemahaman tentang pendidikan cincin api. Kegiatan pembelajaran ini adalah: mengamati gambar bentukan-bentukan di muka bumi yang merupakan hasil dari tenaga geologi, mengamati gambar tentang gejalagejala diastropisme dan vulkanisme, mengamati peta sebaran tipe gunung api di Indonesia, mengkaji faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi. Indikator berhasil tidaknya pembelajaran cukup jelas, bahwa peserta didik mampu mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi, mendeskripsikan gejala diastropisme dan vulkanisme serta sebaran tipe gunung api, mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkannya.
Materi selanjutnya adalah dampak tenaga endogen dan eksogen, dampak positif dan negatif tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya. Dengan mengidentifikasi dampak positif dan negatif seharusnya kita memiliki pengetahuan yang lengkap disini. Sebuah pertanyaan “Jelaskan tiga manfaat material vulkanik gunung api!,” atau “Jelaskan dampak negatif gunung api!” telah bisa kita jawab sempurna. belum lagi ditambah contoh instrumen yang bisa kita gunakan, bahan, alat yang bisa kita pakai dalam pembelajaran: peta jalur gempa bumi di Indonesia, Peta Jalur Pegunungan di Indonesia, Gambar proses terjadinya iastropisme, gambar tipe gunung api, dan sebagainya. Tapi kenapa kita seperti masih belum memiliki pemahaman cincin api?
Masih di Geografi SMP/Mts VII. Kita diajarkan menggunakan peta, atlas, dan globe, untuk mendapatkan informasi keruangan. Jenis, bentuk, dan pemanfaatan peta serta informasi geografi pada peta, atlas, dan globe dengan mengamati berbagai jenis dan bentuk peta juga mengamati peta, atlas, dan globe tentang informasi geografis yang ada di dalamnya, termasuk pengetahuan simbol-simbol geografi pada peta, keadaan alam; melengkapi pemahaman kita akan bumi retas Indonesia.
Dan hal menarik berikutnya adalah Kompetensi Dasar berikutnya: Mendeskripsikan kondisi geografis dan penduduk. Materinya tentang hubungan posisi geografis dengan perubahan musim di Indonesia, persebaran tanah, kondisi penduduk Indonesia juga flora dan fauna Indonesia, pusat-pusat kegiatan ekonomi serta hubungan fisik dan sosial ekonomi. Bukankah kaitan antara keadaan geografis dengan keadaan penduduk menjadi materi penting berikutnya dalam “Pendidikan Cincin Api” ini.
Ada apa dengan pendidikan di Indonesia, kenapa tidak cukup efektif? Apa saja dan bagaimana cara memasukkan materi “Pendidikan Cincin Api” dalam mata pelajaran lainnya? Ini perlu kita jawab.[]