Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ryanda Adiguna

Paskibraka Nasional 2006. Duta Belia Indonesia (China-Hongkong) 2006. Finalis Cowoknya Gadis (Majalah Gadis) 2006. Kapal Pemuda Nusantara 2009. Penerima selengkapnya

Yth. Bapak Andi Mallarangeng, Ini Antara Paskibraka, PPIK, dan Kemenpora

HL | 23 September 2011 | 03:22 Dibaca: 1461   Komentar: 31   5

1316720288532593316

*agar tidak rancu, akan saya sebutkan kepanjangan masing-masing judul diatas

Paskibraka = Pasukan Pengibar Bendera Pusaka

PPIK = Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada

Kemenpora = Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga

- - - - - - -

Beberapa bulan terakhir, pikiran saya sedang melayang jauh ke belakang saat tahun 2006 dan 2010, dan 2011 pada saat saya mengikuti kegiatan tsb diatas. Untuk lebih jelasnya tentang program PPIK, diceritakan dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Beliau adalah alumni PPIK dan pengalaman beliau menjadi insprasi lahirnya novel tersebut.

Jadi begini ceritanya. Saya secara sangat beruntung pernah terpilih menjadi Paskibraka tahun 2006 mengibar di Istana Merdeka. Kemudian  tahun 2010, alhamdulillah terpilih menjadi peserta PPIK, berangkat ke Kanada. Tahun 2009 saya juga terpilih mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara. Bulan Agustus 2011 yang lalu juga beruntung dipercaya menjadi Pembina Paskibraka Nasional. Dan beberapa hari yang lalu, saya ikut membantu persiapan keberangkatan peserta PPIK tahun 2011. Seluruh kegiatan tersebut adalah program pemerintah di bawah naungan Kemenpora. Jadi, anggaplah saya berpengalaman berhubungan dengan Kemenpora. *mungkin nanti saya bisa jadi Menpora ;)

Kemudian, tulisan ini tidak bermaksud membandingkan antara program tsb, karena antara 1 dan lainnya tidak dapat DIPERBANDINGKAN. Tetapi dari perhatian yang diberikan oleh Menpora, agak sedikit berbeda antara 1 program dengan program lain yang pernah saya ikuti dan mugnkin bisa didiskusikan. Yaitu antara Paskibraka, PPIK, dan Kemenpora. Tidak ada maksud apapun, hanya berharap ada sisi positif untuk perbaikan ke depan. Karena tak ada gading yang tak retak, tak ada rotan akar pun jadi.. Loh??

***

Pengukuhan dan Pemasangan Kendit –> sumber

Seluruh kegiatan di atas dapat disebut sebagai Latihan Kepemimpinan Pemuda. Pada akhir latihan, setiap peserta akan dikukuhkan oleh penanggung jawab latihan dengan pengucapan Ikrar Putra Indonesia sambil memegang Sang Merah Putih dan kemudian menciumnya dengan menarik nafas panjang sebagai kiasan kesediaan untuk senantiasa setia dan membelanya. Tanda pengukuhan berupa kendit atau pita/sabuk yang dililitkan ke pinggang dan disimpul matikan di bagian depan (perut). Kendit adalah tanda ksatria pada jaman dahulu yang mengikrarkan kesetiannya pada kerajaan. Kini kepada para peserta eks latihan dan pemegang kendit, diharapkan memiliki sifat ksatria dalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya sehari-hari.

Kendit dibuat dari kain. Pada saat latihan Pandu Ibu Indonesia ber Pancasila dan pasukan I s/d IV warna kendit masih polos dua warna: hijau untuk anggota pasukan dan ungu untuk penatar/pembina. Karena kendit warna polos meyerupai sabuk kecakapan olah raga bela diri, maka oleh Bapak Idik Sulaeman disempurnakan menjadi kendit bermotif. Motif tersebut berupa gambar rantai 17 mata rantai bulat dan 17 mata rantai belah ketupat, semua mata rantai berisi huruf yang membentuk kalimat “PANDU IBU INDONESIA BER PANCASILA”.

Semua ukuran panjang dan lebar kendit adalah 5 cm dan 17 dm, melambangkan angka tanggal 17 dan 5 sila, tetapi karena kesulitan teknik printingnya berubah menjadi 5 dan 140 cm.

Kendit terdiri dari beberapa warna :

Warna merah untuk Latihan PEMUKA pemuda

Warna kuning untuk Latihan PENDAMPING pemuda

Warna ungu untuk Latiha PENATAR Kepemudaan

Warna abu-abu untuk Latihan PENAYA Kepemudaan

***

Kembali ke cerita Paskibraka. Pada tahun 2006 itu, saya beserta teman-teman Paskibraka dikukuhkan oleh Presiden RI di Istana Negara dan dipasangkan kendit berwarna merah, setelah menjalani proses latihan dan dianggap siap menjalankan tugas. Kemudian pada tahun 2010, saya mengikuti latihan persiapan untuk keberangkatan PPIK yang disebut dengan PDT (Pre-Departure Training). Kemudian kami dikukuhkan oleh Bapak Deputi, dari calon peserta menjadi peserta PPIK, dan saat itu saya diberikan kendit berwarna kuning, Maka disini letak hubungannya. Pada saat itu saya sempat berfikir kalau salah dipasangkan kendit, karena peserta yang lain mendapat kendit berwarna merah. Tetapi kegiatan Paskibraka yang saya ikuti tahun pada tahun 2006 dihitung sebagai latihan kepemudaan. Dan karena itu saya dipasangkan kendit warna kuning.

Maka disini letak permasalahannya. Kedua kegiatan tersebut, Paskibraka dan PPIK dianggap setara karena kendit yang saya dapat saling berhubungan, akibatnya saya naik tingkat ;) . Tetapi masing-masing program mendapat perhatian yang berbeda. Mulai dari yang mengukuhkan, Presiden dan Deputi. Kemudian dari sertifikat yang saya dapat. Saat Paskibraka, sertifikat yang saya dapat ditanda-tangani oleh Menpora saat itu, Bapak Adhyaksa Dault. Sedangkan saat PPIK, sertifikat saya ditanda-tangani oleh Deputi bidang kepemudaan saat itu, Bapak Alfitra Salam.

***

Pada bulan Agustus 2011 lalu, seperti yang saya sebutkan di atas, saya menjadi pembina Paskibraka Nasional di PP-PON Cibubur Jakarta. Setelah mengikuti program itu, saya juga mendapat sertifikat. Disebutkan saya diberikan penghargaan sebagai “Asisten Pembina” dengan tanda tangan Menpora, Bapak Andi A. Mallarangeng. Beberapa hari setelah itu, tepatnya pada pertengahan September 2011, saya ikut membantu persiapan keberangkatan PPIK juga di tempat yang sama, PP-PPON. Maka terasa betul bagi saya perbedaan perhatian dari Menpora yang di dapat antara Paskibraka dan PPIK. Karena saya langsung berada disitu.

Mulai dari masalah bus peserta. Saat Paskibraka diberi bus pariwisata yang nyaman dengan nama Royal Platinum, serta dikawal oleh Mobil Patwal Polisi. Saat PPIK, hanya 2 bus ukuran kecil dengan logo Menpora, tanpa Patwal. Kemudian panitia seperti tim medis yang jarang ada di tempat latihan, sehingga saat salah satu peserta sakit, tidak mendapatkan perawatan yang optimal. Sedangkan saat Paskibraka, tim medis diberi peralatan lengkap dan selalu berada di lokasi latihan.

Okelah masalah bus sepertinya tidak terlalu krusial. Tetapi kemudian yang membuat saya kecewa pada kegiatan PPIK tahun 2011 adalah tidak dapat dilaksanakannya kegiatan renungan jiwa, yaitu malam renungan sebelum pengukuhan. Alasannya sangat sederhana, salah satu staff panitia dari Kemenpora tidak membawa buku renungan jiwa ke PP-PON. Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian penting dan ini merupakan yang pertama sejak 36 tahun sejarah program ini, tidak ada renungan jiwa, kata salah satu alumni. Dan puncak kekecewaan saya adalah ketika para alumni PPIK tidak diperkenankan ikut melepas peserta ke Bandara, dengan alasan tidak ada kendaraan untuk alumni. Pemberitahuannya pun hanya beberapa menit sebelum keberangkatan. Padahal tahun-tahun terdahulu para alumni selalu ikut melepas di bandara, menyaksikan para duta bangsa itu terbang ke belahan dunia lain untuk mengharumkan nama Indonesia.

***

Tidak ada maksud apa-apa dari tulisan ini, tetapi hanya sedikit kekecewaan. Kalau bisa dianggap setara, mengapa harus dibedakan? Apakah karena Paskibraka tampil di dalam negeri di depan Presiden, sedangkan PPIK tampil di luar negeri?  Mungkin Presiden pun tidak tau tentang program ini, atau mungkin tidak diberi tau.

Terakhir, Kepada Menpora, Bapak Andi Mallarangeng, semoga bapak membaca tulisan ini.

Program PPIK saat ini telah dimulai di Kanada dan akan berlangsung selama 6 bulan ke depan hingga sekitar bulan Maret 2012. Di akhir program, peserta akan diberikan sertifikat penghargaan karena telah selesai mengikuti program. Besar harapan saya kiranya nama yang tertera di dalam sertifikat itu adalah nama bapak lengkap dengan tanda-tangan dan cap Kemenpora. Walaupun itu hanya selembar kertas, tapi percayalah suatu hari nanti akan sangat bermanfaat bagi mereka.

Dan harapan saya yang paling terakhir. Karena semua program di atas dibiayai oleh uang negara. Konon kabarnya seluruh biaya yang didapat selama 6 bulan mengikuti program, jika dikalkulasikan dapat digunakan untuk menyelesakan pendidikan dari tingkat S1 hingga S3 (doktor). Artinya kami telah menikmati cukup banyak uang negara dan tentunya setiap perbuatan akan dimintakan pertanggung jawaban. Karena tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Tapi setiap manusia ingin mencapai kesempurnaan. Semoga setiap tahun program ini makin baik dan semakin baik di bawah Kemenpora. Dan percayalah, kegiatan kepemudaan seperti ini dapat berjalan dengan lebih baik jika Kemenpora mau mengoptimalkan kerja sama dengan para alumni.

Maju Pemuda!!

Jayalah Olahraga!!

Hidup Kemenpora ?!?!


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Batik 3005 Meter Karya Masyarakat Yogyakarta …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 12:27

Antara Yangon, Iraq, ISIS dan si Doel …

Rahmat Hadi | | 02 October 2014 | 14:09

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 4 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 10 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kios Borobudur Terbakar, Pencuri Ambil …

Maulana Ahmad Nuren... | 7 jam lalu

Kemacetan di Kota Batam …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

“Amarah Nar Membumihanguskan …

Usman Kusmana | 7 jam lalu

Pembunuh (4) …

S-widjaja | 7 jam lalu

Penghujat SBY, Ayo Tanggung Jawab…!! …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: