Artikel

Ahmad Farid Mubarok

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...

Belajar Agama itu Sulit dan Hasilnya Belum Pasti


OPINI | 23 September 2011 | 22:04 Dibaca: 93   Komentar: 3   3 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif

ini opini saya atas pendidikan agama. saya menulis ini sepulang ngaji di pesantren. ada hal-hal penting yang menurut saya menarik untuk saya sampaikan.

mata kuliahnya ushul fiqih. pak ustadz memberi tugas untuk membuat makalah dengan referensi minimal lima buku berbahasa arab. referensi bahasa indonesia boleh, tapi sambil menaruh kecurigaan bahwa seringkali translate bahasa arab kuirang pas, pak ustadz seolah menyarankan untuk tidak kebergantungan kepada buku fiqh/agama bahasa indonesia. begitu pula sikapnya dalam buku-buku bahasa inggris, sikap kehati-hatian dan streotip tampak jelas. intinya disana ada penjelasan-penjelasan yang kurang pas, seringkali, meski bisa juga kita temukan teks yang menurut pak ustadz dapat dipercaya.

secara, saya sepakat dengan pak ustadz. tapi yah ada hal-hal pokok yang bisa saya kritisi dari cara berpikir pak ustadz, dan mungkin juga pak ustadz lain, atau guru agama, atau kyai.

coba kita bandingkan, umat islam di dunia ini, maksudnya perbandingan antara mereka yang beretnis arab dan ngerti bahasa arab dibanding yang tidak orang arab. perbandingannya timpang. muslim arab hanya sekian persen saja dibawah angkadua puluh dibandingkan umat islam yang tidak berasan ladi arab. nah, dari sini kita akan tahu, mereka yang tidak ngerti bahasa arab jauh lebih banyak dibanding mereka yang ngerti.

saya sih tidak masalah karena saya dari lingkungan pesantren.

selanjutnya pak ustadz memaklumatkan “haram membawa terjemahan buku fiqih ke kelas”, meski masih diperbolehkan membacanya diluar kelas sebatas membantu pemahaman. disini kita akan menebak, apakah bangsa indonesia dan ulama-ulama lokal yang tidak berasal dari arab dianggap tidak memiliki pengetahuan agama yang memadai sehinga tidak memiliki otoritas untuk melakukan tafsir atas teks, dan karena itu karyanya dipandang lebih rendah?. apakah penafsiran agama hanya boleh dilakukan oleh ulama-ulama arab?

bagi kita generasi muda yang hendak mencari alternatif pemahaman agama yang berbeda, hal ini tampak aneh dan tidak masuk akal. dan entahlah, mungkin saya akan menerima tantangan pak ustadz untuk membuat makalah dengan lima referensi berbahasa arab. kesanya memang sulit, atau lebih tepatnya mempersulit. sekejap saya merasakan hal ini. lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki bavkground pesantren?, mereka yang tidak fasih memahami berbahasa arab, yang itu adalah mayoritas dari umat islam didunia ini; kesannya jelas: pendidikan agama sulit dan dipersulit.

pengagungan teks berbahasa arab masih saja terjadi. padahal untuk konteks zaman sekarang untuk kualitas kedalaman materi dan kontekstualisasi, teks-teka non arab cukup bisa dijadikan rujukan. lalu apakah, dengan - seandainya saja - memberikan pemahaman dan tafsir yang berbea lalu dianggap menyesatkan?. apakah kita harus memiliki satu pemahaman dengan ulama-ulama klasik?. bukankah mereka sendiri beragam menggali tafsir atas teks suci? dan dengan metodologi yang berbeda kita hendak melakukan kajian ulang atas tafsir mereka, dan, secara berlebihan kalau memungkinkan kita akan melakukan tafsir ulang atas teks suci yang lebih kontekstual, lebih ramah terhadap peredaan, lebih menghargai pluralitas (indonesia membutuhkan tafsir model ini), yang lebih peka terhadap gender dan hak asadi, lebih menghargai keadilan; dan sebagainya. yup! sebagai alternatif.

kecuali kita cukup puas dengan kajian keagamaan selama ini. kecuali kita tidak akan bertanya, kenapa bangsa indonesia rajin berhaji ke tanah suci namun rakyat ini masih miskin; kenapa bangsa yang religius ini, yang pengajian-pengajian agama, majelis taklim, sekolah-sekolah berlabel agama, bahkan ada deperteman agama, ada majelis ulama, tapi korupsi masih saja terjadi; negeri ini masih jorok dan kotor; sering terjadi pertikaian dan pembunuhan atas nama agama dan aksus-kasus intoleransi; terorisme; hingga perbuatan-perbuatan anarkis atas nama agama seperti penghancuran patung wayang yang menjadi ikon daerah, perusakan warung makan di bulan ramadhan, kebencian terhadap waria, dan sekian permasalahan lainnya.

ini artinya, pendidikan agama yang kita peroleh dengan sangat sulit juga tidak memberikan output yang bagus, yang ramah terhadap keindonesiaan dan kemanusiaan. lalu, saat kita mencari penafsiran lain, secara stereotip kita dituduh menyimpang; menggunakan referensi yang dianggap tidak otoritatif. berbeda lalu dicurigai.

bagi saya sendiri, ini saya anggap sebagai tantangan. dan tulisan ini secara khusus ditujukan buat saya sendiri dan pendidik-pendidik agama di bumi indonesia.[]


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: