Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Eriss Bin Bara Msc

Pengamat sosial & Penemu Metode Psiko-Analisis Jati Diri. Ketua Umum Yayasan Amal Cinta Indionesia(YACI). Praktisi selengkapnya

Pembelajaran Pendidikan Karakteri Diri Pribadi Dapat Membantu Kualitas Belajar Mengajar di Sekolah

REP | 04 October 2011 | 19:45 Dibaca: 272   Komentar: 0   0

“Esensi dari Seluruh Bentuk Pendidikan Adalah, Mengantarkan Orang Mengenal Dirinya Sendiri” (Galileo).

Jika dilakukan kajian mendalam terhadap penyelenggaraan pendidikan karakter di Indonesia, maka ada banyak persoalan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan tujuan pembangunan karakter sesungguhnya, misalnya ketidak mampuan lembaga sekolah dalam mewujutkan kualitas diri secara indifidu, atau tingginya biaya pendidikan yang kadang mengarah pada adanya praktik diskriminasi dalam mengakses pendidikan, berbagai praktik militerisme yang menyebabkan maraknya tindak kekersan di sekolah, sampai budaya ketidak jujuran disekolah, dan lain-lain.

Munculnya pendidikan karakter sebagai wacana baru pendidikan nasional, bukannya merupakan fenomena yang mengagetkan. Sebab perkembangan sosial politik dan kebangsaan sekarang ini memang cenderung menegaskan karakter yang mengarah pada kualitas kebangsaan yang sejati, dan yang paling penting lagi adalah, jangan sampai mengabaikan akan kearah pemahaman pendidikan karakter Jati diri pribadi oleh para pelajar dan guru itu sendiri. Sebab merekalah sebenarnya yang paling perlu untuk dikuatkan dari segala sistimnya yang ada dalam dunia pendidikan.

Akhir-akhir belakangan ini masalah pendidikan karakter banyak sekali dibicarakan oleh orang-orang, baik dari pejabat Kementerian Pendidikan Nasional, yang bahkan sampai mengeluarkan surat edarannya sekitar tanggal 18 Juni atau Juli, bahwa Pendidikan Karakter p[erlu diterapkan pada seluruh satuan pendidikan. bahkan perlu pula didukung langsung oleh kantor Dinas Pendidikan di setiap provinsi. Booming istilah pendidikan karakter juga merambah pada wilayah kegiatan seperti seminar-seminar, pelatihan, ataupun workshop dan lain-lainnya. Kegiatan ini sendiri diiringi dengan berkembangnya wacana pengembangan kurikulum sekolah berbasis pendidikan karakter yang diimplementasikan melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Yang juga menyibukkan para guru untuk menyusun dan mengaplikasikan silabus serta rencana program pembelajaran berbasisi karakter.

“Pusatkan Kekuatan Anda Untuk Membentuk Karakter Diri Lebih Dulu, Kemudian Reputasi Akan Menyusul. Karakter Adalah Diri Anda yang Sebenarnya, Sedangkan Reputasi Adalah Apa Yang Difikirkan Orang Lain Tentang Anda” (Jhon Wooden).Pendidikan karakter secara tegas telah diamanatkan oleh undang-undang. namun pada kenyataannya dalam praktiknya justru banyak persoalan pendidikan yang menyebabkan sekolah, sebagai lembaga pendidikan, telah kehilangan kualitas inti dari karakter yang diharapkan bersama, malah sebaliknya menjadi bertolak belakang dengan karakter positif menjadi negatif, negatif menjadi positif.

Oleh karena itu, untuk menciptakan sebuah solusi yang tepat hendaknya, setiap sekolah harus berani merubah sistim dan cara berfikir yang lebih hebat lagi. kita jangan terlalu dibelenggu oleh sistim atas masa lalu, kalaulah hal itu membuat dunia pendidikan agak disepelekan dalam pendidkan karakter. Sedangkan wacana pendidikan karakter yang banyak dibicarakan, tidak akan mampu memberikan jalan keluar jika tidak dibarengi dengan perobahan pola pikir dengan situasi dan keadaan massa sekarang ini.

Oleh karena persoalan karakter bangsa bukanlah persoalan ada tidaknya pendidikan karakter. Akan tetapi persoalan tersebut berkaitan erat pula dengan ada atau tidak adanya kemauan dari para penyelenggara pendidikan untuk melakukan perubahan dengan menciptakan penyelenggaraan pendidikan yang juga sekaligus mampu mengungkapkan jati diri dari karakter para pelakunya sendiri, yaitu para murid dan juga guru itu sendiri. Kenapa..? Sebab apapun jenis pendidikan yang terjadi disetiap sekolah itu, kalau tidak diawali terlebih dulu dengan diri pribadi yang bersangkutan, apa lagi dalam masalah karakter….Bukankah karakter sangat erat hubungannya dengan ke fitrah-an diri pribadi, dari para pelajar dan guru itu sendiri ? Bila hal ini belum terfukus dan ter-arah, maka selama itu pulalah lenbaga sekolah akan selalu kehilangan “Sensasi” ilmu pendidikan karakter yang sesungguhnya. Sebab dari 5 tahun belakangan Rood show kami di beberapa Provinsi dalam Seminar Pelajar” sangat nyata membuktikan akan hal ini. Ternyata bukti dilapangan itu bahwa, sebenarnya awal lembaga sekolah itu gagal mengemban amanat undang-undang pendidikan nasional adalah, kelangkaan atau ketidak-adaan pihak sekolah-lah dalam pembelajaran ilmu pendidakan karakter jati diri. Kalaupun ada diselenggarakan, tapi tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang dalam segi kualitas dan stardar pendidikannya. Khususnya kearah sikap dan perilaku para murid dan guru itu sendiri.

Sungguh suatu info yang perlu untuk kita renungkan dan bahas bersama kembali, bahwa dengan dimulainya pemberian pendidikan karakter yang lebih dasar atau terarah, yaitu diantaranya tentang ilmu fitrah jati diri pribadi untuk seluruh pelajar maupun tenaga pendidaknya sendiri, “Siapa & Bagaimanakah Aku (Pelajar&Guru) Ini Sebenarnya ?. Bila jawaban ini sudah terjawab di antara mereka saja maka barulah proses belajar dan mengajar itu akan terbangun dengan lebih luar biasa lagi. Dengan demikian maka semakin mudahlah dunia pendidikan atau lembaga sekolah itu membangun nilai-nilai karakter bangsa.

Mohon maaf kalaulah hal ini bagi penulis merupakan suatua harga mati, kalau memang kita sadar akan adanya pengakuan dunia pendidikan bahwa Sekolah telah gagal mengemban amanat undang-undang untuk membangun karakter bangsa. Artinya adalah Berbicara pendidikan karakter berarti mengembalikan citra diri sebuah sekolah dalam tekad yang kuat dan tulus sesuai dengan undang-undang pendidikan nasional, yakitu membangun karakter bangsa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Angkuh …

Retna Kusumawati | 7 jam lalu

Transfusi Darah …

Raka Pratama | 7 jam lalu

Agama adalah Kebudayaan yang Disucikan …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

KPK Selamatkan Jokowi dari Intervensi …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Jokowi dan Prabowo, Indonesia Kita …

Awaluddin Madjid | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: