Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aa Gun

Lahir di pinggiran Jakarta, Ciledug Kota Tangerang yang semakin padat, sejak menikah tinggal di belahan selengkapnya

Haji Mabrur Bukan Haji Kabur (Bagian Kedua)

OPINI | 06 October 2011 | 16:18 Dibaca: 371   Komentar: 2   1

Haji Mabrur bukan Haji kabur

(bagian kedua)

(Haji Bukan Ibadah Plesiran; Sebuah Refleksi Terhadap Kondisi Negeri yang Tak Pernah Membaik)

13178747001181137290

Haji merupakan salah satu ibadah ritual dari ibadah-ibadah ritual lainnya dalam keyakinan agama Islam yang membutuhkan kekuatan “ekstra kuat”, kuat secara fisik maupun mampu secara materi (uang). Selain fisik dan materi satu hal penting lainnya yang menjadi pendorong melakukannya yaitu niat, keinginan untuk mengunjungi tanah suci. Bukan sekedar berkunjung, berhaji merupakan salah satu bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT dengan symbol spirit abul anbiya, Ibahim alaihissalaam, yang kemudian menjadi bagian ritual ibadah yang diikuti oleh Nabi tercinta Muhammmad SAW, dan oleh para ulama dijadikan sebagai ibadah yang wajib hukumnya bagi orang yang mampu berdasarkan isyarat al-Quran dan haditsnya.

Dalam agama yang penulis yakini, ibadah yang diperintahkan untuk di didirikan memiliki nilai yang luar biasa. Tidak ada satupun ibadah ritual yang lepas dari nilai. Nilai-nilai dalam ibadah ritual berkaitan dengan ibadah social, hidup bermasyarakat. Dan dalam ibadah haji salah satunya, ibadah ini memiliki nilai kemanusiaan yang universal. Dalam tulisan saya yang pertama menyebutkan tentang doa/harapan yang terungkap, yaitu haji mabrur. Apa itu haji mabrur?

Rasulullah SAW bersabda; “Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur (haji yang baik) selain surga.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik). Sedang arti mabrur itu sendiri dijelaskan sebagai berikut, “Kata mabrur, seperti diterangkan Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab, mengandung dua makna. Pertama, mabrur berarti baik, suci, dan bersih. Jadi, haji mabrur adalah yang tak terdapat di dalamnya noda dan dosa — untuk jual beli berarti tak mengandung dusta dan penipuan. Kedua, mabrur berarti maqbul, artinya mendapat ridla Allah SWT. Ketiga, Mabrur diambil dari kata al birru (kebaikan). Dalam sebuah ayat Allah swt berfirman: “lantanalul birra hatta tunfiquu mimma tuhibbun. Kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian apa yang kamu cintai”. QS.3:92. Ketika digandeng dengan kata haji maka ia menjadi sifat yang mengandung arti bahwa haji tersebut diikuti dengan kebajikan.” (http://www.amany.org/artikel/beranda-kajian/60-apa-makna-mabrur-.html)

Jika kita memahami makna kata mabrur sungguh sangat jelas sekali mengapa Allah berjanji memasukan orang yang berhaji dengan katagori mabrur akan dimasukan-Nya ke surga. Lalu yang masih menjadi pertanyaan mengapa Ibadah haji bahkan ibadah-ibadah yang lainnya tidak mampu mengangkat kondisi negeri ini menjadi lebih baik? Tidak mabrurkah para hujjaj-nya setelah kembali kenegeri masing-masing?

Semoga buat mereka yang kini sedang melaksanakan rukun Islam yang kelima, benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah untuk meningkatkan kualitas diri dan perubahan kearah yang lebih baik itulah haji mabrur, bukan haji ”kabur”, sekedar plesiran meninggalkan tanah air dan keluarga, jalan-jalan tanpa makna dan perubahan namun sekedar meningkatkan status social atau gelar haji di depan nama, agar terkesan lebih religious. Wallaahu a’lam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: