Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aa Gun

Lahir di pinggiran Jakarta, Ciledug Kota Tangerang yang semakin padat, sejak menikah tinggal di belahan selengkapnya

Haji Mabrur Bukan Haji Kabur (Bagian Kedua)

OPINI | 06 October 2011 | 16:18    Dibaca: 379   Komentar: 2   1

Haji Mabrur bukan Haji kabur

(bagian kedua)

(Haji Bukan Ibadah Plesiran; Sebuah Refleksi Terhadap Kondisi Negeri yang Tak Pernah Membaik)

13178747001181137290

Haji merupakan salah satu ibadah ritual dari ibadah-ibadah ritual lainnya dalam keyakinan agama Islam yang membutuhkan kekuatan “ekstra kuat”, kuat secara fisik maupun mampu secara materi (uang). Selain fisik dan materi satu hal penting lainnya yang menjadi pendorong melakukannya yaitu niat, keinginan untuk mengunjungi tanah suci. Bukan sekedar berkunjung, berhaji merupakan salah satu bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT dengan symbol spirit abul anbiya, Ibahim alaihissalaam, yang kemudian menjadi bagian ritual ibadah yang diikuti oleh Nabi tercinta Muhammmad SAW, dan oleh para ulama dijadikan sebagai ibadah yang wajib hukumnya bagi orang yang mampu berdasarkan isyarat al-Quran dan haditsnya.

Dalam agama yang penulis yakini, ibadah yang diperintahkan untuk di didirikan memiliki nilai yang luar biasa. Tidak ada satupun ibadah ritual yang lepas dari nilai. Nilai-nilai dalam ibadah ritual berkaitan dengan ibadah social, hidup bermasyarakat. Dan dalam ibadah haji salah satunya, ibadah ini memiliki nilai kemanusiaan yang universal. Dalam tulisan saya yang pertama menyebutkan tentang doa/harapan yang terungkap, yaitu haji mabrur. Apa itu haji mabrur?

Rasulullah SAW bersabda; “Dan tidak ada ganjaran lain bagi haji mabrur (haji yang baik) selain surga.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmdizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Malik). Sedang arti mabrur itu sendiri dijelaskan sebagai berikut, “Kata mabrur, seperti diterangkan Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab, mengandung dua makna. Pertama, mabrur berarti baik, suci, dan bersih. Jadi, haji mabrur adalah yang tak terdapat di dalamnya noda dan dosa — untuk jual beli berarti tak mengandung dusta dan penipuan. Kedua, mabrur berarti maqbul, artinya mendapat ridla Allah SWT. Ketiga, Mabrur diambil dari kata al birru (kebaikan). Dalam sebuah ayat Allah swt berfirman: “lantanalul birra hatta tunfiquu mimma tuhibbun. Kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sehingga kamu menginfakkan sebagian apa yang kamu cintai”. QS.3:92. Ketika digandeng dengan kata haji maka ia menjadi sifat yang mengandung arti bahwa haji tersebut diikuti dengan kebajikan.” (http://www.amany.org/artikel/beranda-kajian/60-apa-makna-mabrur-.html)

Jika kita memahami makna kata mabrur sungguh sangat jelas sekali mengapa Allah berjanji memasukan orang yang berhaji dengan katagori mabrur akan dimasukan-Nya ke surga. Lalu yang masih menjadi pertanyaan mengapa Ibadah haji bahkan ibadah-ibadah yang lainnya tidak mampu mengangkat kondisi negeri ini menjadi lebih baik? Tidak mabrurkah para hujjaj-nya setelah kembali kenegeri masing-masing?

Semoga buat mereka yang kini sedang melaksanakan rukun Islam yang kelima, benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah untuk meningkatkan kualitas diri dan perubahan kearah yang lebih baik itulah haji mabrur, bukan haji ”kabur”, sekedar plesiran meninggalkan tanah air dan keluarga, jalan-jalan tanpa makna dan perubahan namun sekedar meningkatkan status social atau gelar haji di depan nama, agar terkesan lebih religious. Wallaahu a’lam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Asyiknya Jadi Selebriti di Tanzania …

Taufikuieks | | 30 May 2015 | 13:47

Menyiapkan Keluarga untuk Menyambut Ramadhan …

Cahyadi Takariawan | | 30 May 2015 | 13:09

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13

Dodit Mulyanto dan Kontradiksi Fans …

Andi Kurniawan | | 29 May 2015 | 16:08

Kompasiana-”Dayakan Indonesia” …

Kompasiana | | 11 May 2015 | 17:09


TRENDING ARTICLES

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 7 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 8 jam lalu

Berkat Jokowi Rakyat Indonesia Semakin Kuat …

Stefanus Toni A.k.a... | 9 jam lalu

Jika Ibu Kota Dipindah ke Palangka Raya! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Buku Kontroversial: Akulah Istri Teroris …

Muthiah Alhasany | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: